Showing posts with label school. Show all posts
Showing posts with label school. Show all posts

Tuesday, July 20, 2021

Twin Shoot di Undip

Dulu waktu tahu bahwa kehamilanku kembar, reaksi pertama malah stres, "Ya Allah, apa aku sanggup membesarkan anak kembar? Mau aku kasih makan apa?"
Yak benar, ternyata makannya ya seperti anak manusia biasa, haha.
Dan sekarang mereka sudah besar.
Dan dua-duanya diterima di Undip meskipun dengan jalur dan di jurusan yang berbeda. Kami tidak berharap banyak bisa diterima lewat jalur SNMPTN. Karenanya, mereka ambil bimbingan belajar untuk fokus masuk lewat jalur SBMPTN. Ar berhasil, Ir belum. Momen membuka pengumuman hasil SMBPTN itu mengacaukan batin. Di satu sisi kami gembira Ar lolos, tapi sedih Ir belum.
Aku menghargai Ar yang menunda sorak sorainya. Kami seisi rumah membiarkan Ir tenang dulu selama sehari dua hari. Lalu besoknya menyemangati lagi untuk ikut jalur mandiri. Daftar bimbingan belajar lagi. Melarang dia mengkhawatirkan biaya pendaftaran di sana sini. Itu bagian dari usaha, tidak akan menjadi mubadzir.
Mendaftar mandiri di tiga universitas, pengumuman berselang seminggu seminggu. Di Universitas Brawijaya belum lolos. UNS juga belum berhasil. Ir terlihat lelah dan khawatir. Aku berusaha menenangkan, barangkali memang jatahnya diterima di Undip.
"Aku pengin teriak histeris kaya Ar kemarin waktu lolos SMBPTN."

Dan terkabul.
Membiayai tiga anak yang kuliah bersamaan, dengan UKT serba tinggi karena ibuknya PNS, kalau dilihat sekilas pasti berat. Tapi kali ini aku nggak mau lagi meragukan diriku, apalagi kuasa Tuhan. Tidak ada yang ingin kupertanyakan. Aku memohon saja, "Ya Allah, paringi lancar segalanya."
Bismillah.



Monday, July 20, 2020

Adaptasi

Sudah lebih dari tiga bulan sejak ditetapkan anjuran untuk tinggal di rumah dalam berbagai judul. Pembatasan Sosial Berskala Besar, Pembatasan Kegiatan Masyarakat, Jogo Tonggo, whatever. Yang jelas semua sebatas anjuran. Kecuali perjalanan antar kota dengan transportasi publik yang jadi agak ribet dengan berbagai ketentuan. Bisa diakali, tapi ya itu kan ribet juga.

Kenyataannya, masyarakat dan pemerintah sama-sama nggak betah berlama-lama diam di rumah. Dengan pembatasan dalam berbagai judul aja rasanya seperti omong kosong, sekarang setelah diumumkan 'new normal', orang merasa hidup sudah kembali seperti 'normal' sebelum pandemik. Tidak peduli betapa banyak penjelasan tentang syarat dan ketentuan yang berlaku dalam new normal, orang lebih terpaku pada pernyataan 'sudah boleh beraktivitas' dan mengabaikan persyaratan.

Mal-mal buka lagi. Bahkan tempat bermain anak. Tempat-tempat usaha, tempat-tempat keramaian yang sempat ditutup atau minimal dibatasi jam operasionalnya, buka lagi seperti biasa. Untung sekolah masih belum diperkenankan mengadakan aktivitas di sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten masih menetapkan kondisi belum aman sampai dua bulan ke depan, dan akan dikaji kembali sesuai perkembangan keadaan.

Di sekolah Aik, sudah banyak  yang mengeluhkan pembelajaran dengan sistem daring. Ya sih, mau tak mau orang tua jadi harus terlibat lebih banyak, setengah menggantikan peran guru dalam mendampingi anak belajar. Buatku, yang jauh sebelum pandemi sudah terbiasa 'mengulang' lagi (bahkan lebih keras) apa yang dipelajari Aik di sekolah dengan metode yang lebih mudah dipahami Aik, lebih mudah beradaptasi. Tapi rupanya, masih ada orang tua murid yang menyerahkan urusan belajar kepada sekolah. Bahkan kemarin di acara pertemuan wali murid ada yang mempertanyakan 'Kalau hanya belajar daring dengan materi-materi yang dibagikan di grup whatsapp, bagaimana dengan pembelajaran akhlak yang juga menjadi tujuan utama sekolah ini?'

Halo. Bukankah pendidikan akhlak anak mestinya menjadi tanggung jawab orang tua? Jika dalam keterbatasan keadaan saat ini, sekolah terpaksa dilakukan lewat zoom, grup whatsapp, dan tugas-tugas, maka anak ya berada di rumah sepenuhnya. Lantas orang tua mempertanyakan tanggung jawab sekolah dalam menerapkan pendidikan akhlak anak?

Ketika kusampaikan bahwa ketetapan Dinas pasti dilatarbelakangi pertimbangan yang komprehensif, respon yang muncul salah satunya (dan ada pendukungnya) adalah, 'Sekarang di mana-mana sudah ramai. Pasar buka, mal buka, masjid buka. Anak saya sudah main keluar karena kalau dikurung di dalam rumah jadi stres. Saya sama sekali tidak keberatan kalau mau belajar di sekolah lagi. Yang penting pakai masker, jaga jarak.'

I don't know. Jika keadaan seperti ini, semua orang menganggap tidak apa-apa beraktivitas seperti biasa yang penting pakai masker dan cuci tangan, jangan-jangan pandemik akan butuh waktu makin lama untuk berakhir. Karena pada kenyataannya, masker-masker berubah fungsi menjadi kalung. Orang masih berkerumun tanpa jarak. Lihat saja foto-foto yang bertebaran di media sosial. Meet up di kafe ga pakai masker. Untel-untelan sehabis senam. Berkerumun sehabis bersepeda dalam rombongan. Biasa aja katanya. 

Mau tidak mau, akhirnya kita yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Tidak lagi hanya menjaga diri dari paparan virus, tapi juga dari orang-orang yang tidak peduli bahwa mereka mungkin menebar virus. Menghindari kerumunan. Mengetatkan masker, sesedikit mungkin menyentuh barang yang bukan milik kita, sering-sering cuci tangan, dan menjaga jarak dengan orang lain. Terutama yang tampak abai dengan protokol kewaspadaan.

Anak juga, akhirnya harus diajari kebiasaan baru. Bagaimana dia harus berperilaku di luar rumah. Aik sudah sejak beberapa waktu lalu aku ijinkan main keluar. Dengan catatan harus pakai masker. Tidak dekat-dekat dengan teman. Tidak pegang mainan teman. Tidak masuk rumah orang. 

Aku ajak ke supermarket, dengan melihat-lihat keadaan. Jika parkiran terlihat sepi, baru berani masuk. Di sini lebih ketat. Untung di supermarket banyak tulisan  'jaga jarak', jadi dia setiap saat 'diingatkan'. Yang  harus kita ingatkan lagi terus menerus adalah 'jangan sentuh apa pun.'

Ada pengalaman lucu suatu hari. Dia melihat ibu-ibu yang antri menimbang dan tidak jaga jarak. Aik dengan tanpa beban berseru, 'Jaga jarak satu meter!" Si ibu langsung mundur pelan. Di lain waktu, dia sampai tantrum karena mengingatkan seorang anak usia 3 tahunan yang menyentuh handrailing pembatas di kasir. "Don't touch anything! No! Jangan sentuh apa pun! Dilarang!" Si anak yang tentu saja belum begitu paham, justru makin kencang pegangan railing. Aik makin keras. Si anak jadi takut dan menangis. Aku sibuk menenangkan Aik dan minta maaf. Ortu si anak langsung menggendongnya menjauh. Huft.



Hey, kalian sudah nyoba ke mal di  masa pandemik ini? Aku mencoba datang ke tiga mal dan semuanya sepi. Jumlah pengunjungnya kurang dari setengah biasanya sebelum pandemik. Mungkin sepertiga. Seperti di tempat umum lain, selain cek temperatur tubuh, disediakan hand sanitizer di pintu masuk. Jangankan jaga jarak 1,5 meter, 10 meter juga bisa. Jadi aku memberanikan diri mengajak Aik. Sambil sebisa mungkin mengalihkan perhatiannya dari tempat bermain, karena aku belum berani membiarkan dia bermain di sana. Aik tidak terlalu suka hand sanitizer. Tapi dia suka cuci tangan. Aku suka pada tempat berbelanja yang menyediakan tempat cuci tangan dan sabun daripada sekedar sanitizer di pintu masuk. Aik tidak pakai disuruh, otomatis cuci tangan sendiri.


Dulu, kalau mau cuci tangan kita harus ke wastafel yang jadi satu dengan toilet. Sedangkan sekarang, sebisa mungkin kita tidak masuk ke toilet umum.

Ada perkembangan baru. Aik sekarang tidak takut hand dryer. Dia bahkan tanpa disuruh, langsung mengeringkan tangan di situ seusai cuci tangan. One more step ahead.

Sunday, July 7, 2019

Determination

Last month we joined a group camp with Aik's school at Mount Ungaran, as a media to get to know each other and built better communications between parents and families. The plan was to stay one night and hike to the peak in the early morning.


I didn’t expect Aik to finish the hike, but he looked so enthusiastic. He kept walking following other hikers in the group. 

Suddenly at the beginning of the last part from Pos 3 to Pos 4, he had an uncontrollable shit. We helped him cleaning up and continued walking to Pos 4, where it happened again. Thank God we brought some clothes in our backpack.

So I and Dan decided to stop, turned around and walked down. People say we should have kept going up because it was like just a throwing stone away. But no. I thought it was too late already. I should’ve seen that Aik’s body was not ready.


It has been beyond expectation. So we thought we better stop now and try again some other day. With a better preparation and may be don’t let Aik walk fully. We can carry him at some parts so the hike won’t press him too much and we can reach the peak safely.

Thursday, May 23, 2019

Have Faith

Januari 2018, ketika membawa Aik konsul ke psikolog sebelum mendaftarkan Aik ke SD, yang kudapat bukan apa yang kuharapkan. Psikolog yang biasa menangani Aik sedang melanjutkan studi di UGM, tidak bisa ditunggu. Semua tugasnya dialihkan ke psikolog lain yang, lebih muda, imut, dan tampak sedikit rebel.
Aku tidak terlalu puas dengan hasil evaluasinya, karena tes diserahkan pada asisten, wawancara denganku pun oleh asisten. Ketika muncul hasil, aku pengin tertawa sekaligus marah karena nilai kemampuan komunikasi Aik ditulis setara dengan anak satu tahun 2 bulan. Jelas tidak masuk akal, karena pada saat itu Aik sudah dapat berkomunikasi walau patah-patah. Psikolog sebelumnya sudah tidak lagi menghitung jumlah kata yang dikuasai karena sudah jauh di atas 100 kata. Aku minta penjelasan bagaimana bisa muncul kesimpulan seperti itu.
Mbak Psikolog mengeluarkan catatan pengamatannya. Menjelaskan bahwa nilai kemampuan komunikasi adalah agregat dari nilai beberapa kemampuan lainnya, yang kemudian dihitung dengan rumus tertentu. Dia menunjukkan komponennya, dan nilainya. Aku lupa di komponen apa, ada yang dicatat kemampuan Aik setara dengan bayi 3 bulan. Come on.
"Tiga bulan? Serius?"
Aku minta tes diulang, tapi ditolak. Entah tersinggung entah malu, Mbak Psikolog menutup semua hasil tes, dan dengan keras tegas berkata, "Oke mungkin ada sedikit kekeliruan di tes ini. Tapi hasil secara keseluruhan kemampuan Aik masih jauh di bawah usianya sekarang."
Bahwa aku punya PR yang sangat banyak. Bahwa aku harus bekerja sangat keras mengejar ketertinggalan. Bahwa Aik belum siap masuk SD. Kemampuan verbalnya rendah. Kognitifnya rendah. Motoriknya jelek.
"Dia belum bisa menulis. Apa ada sekolah dasar yang membolehkan anak tidak menulis? Bagaimana nanti saat tes? Apa dia mau mengerjakan? Apa dia mampu mengerjakan?"
Jika aku ngotot memasukkan Aik ke sekolah umum, itu hanya sekedar main-main. Aku harus siap jika dia tidak naik kelas. Aku bahkan harus siap jika sekolah menganggap Aik tidak bisa mengikuti sistem pembelajaran dan harus mencari sekolah khusus.
Pulang dari kantor psikolog bukan merasa ringan, aku justru merasa lebih banyak beban. Rekomendasi dari Si Mbak 'dapat mendaftar ke sekolah dasar dengan didampingi shadow teacher.'
It's okay. Saat itu memang itu saja yang dibutuhkan.
Ini beda banget dengan yang kurasakan setiap konsul dengan psikolog sebelumnya. Yang selalu tampak antusias dengan perkembangan Aik sekecil apa pun. Yang selalu menyemangati aku dengan kata-kata yang menyenangkan. Bukan 'selama ini ibu kurang memberikan stimulan.'
Aku senang Si Mbak bilang bahwa Aik belum butuh konsul lagi sampai dua tahun kemudian. Oh ya, aku juga males ketemu dia kurang dari itu. Dua tahun lagi mungkin psikolog sebelumnya sudah kembali bertugas.
***
Sekitar dua tahun lalu ketika survey sekolah untuk Aik, di salah satu sekolah yang kami datangi, Ibu Guru yang menerima kami walaupun ramah tapi tampak kurang terbuka. Aku merasakan penilaian yang 'kurang' terhadap Aik. Dari awal menyampaikan lebih banyak pesimisme ketimbang optimisme. Entah aku yang sensi atau memang dia ingin secara tersirat menyampaikan 'sebenarnya kami males menerima ABK.' Karena yang dicontohkan adalah siswa ABK yang dikembalikan kepada orang tua (baca: dikeluarkan dengan baik-baik), alasannya karena kurangnya kerjasama dari orang tua dalam aktivitas belajar di sekolah.
"Kita nggak bisa berharap anak-anak seperti ini tumbuh seperti anak-anak normal," katanya. Tidak boleh berharap Aik bisa mengikuti pelajaran dan sekolah tinggi, hanya fokus melatih anak untuk mandiri.
"Oh," jawabku, "saya siap jika Aik tidak bisa sekolah tinggi. Saya menyiapkan dia jadi foto model atau bintang film.
"Bu Guru tertawa.
"Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" tanyaku, "Dia punya modal. Dan kalau ga bisa jadi dokter apa salahnya jadi model?"
Bu Guru berhenti tertawa, dan aku memutuskan tidak akan menyekolahkan Aik di situ.
***
Seperti biasa, keraguan bukan datang dari satu dua orang. Aku bahkan merasa cuma aku yang yakin Aik bisa belajar di sekolah umum. Jelas bukan di SD Negeri yang ratio guru banding muridnya terlalu kecil. Tapi bahkan sekolah swasta pun hampir semua memberi sinyal tidak bisa.
Mbahnya selalu bertanya, "Aik bisa ngikuti pelajaran?"
Mbah yang lain bahkan bilang, "Kalau Aik tidak bisa ngikuti jangan dipaksa tetep sekolah..."
What the hell.
Aku sudah lama belajar, dan meyakini bahwa aku lebih baik berjuang sendiri. Karena orang-orang yang diharapkan untuk mendukung bukannya mendukung. Sudah lama aku belajar mengabaikan. Tapi tetap saja kadang sikap mereka itu seperti duri beracun di sepanjang perjalanan.
I wish I have written a journal about how school has been going on.
Bagaimana melatih Aik bersikap dan merespon sikap orang lain di sekolah. Bagaimana memberikan pemahaman kepada Aik bahwa dia harus mengikuti semua kegiatan.
Oh iya, aku sempat mencatat UAS pertama Aik. Ya... hal-hal tak terduga seperti itu sering terjadi. Yang menurut kita sepele tapi sebenarnya prinsip...
***
Minggu ini UKK. Dengan jadwal yang padat jelang lebaran, aku tidak yakin ada dispensasi remidi. Lebih berat lagi karena tes dilaksanakan di bulan puasa. Di sekolah, Bu Guru berpesan agar anak-anak berpuasa, sahur jam 3 pagi dan tidak boleh tidur lagi. Banyak salat di masjid. Dan semua pesan Bu Guru itu dilaksanakan oleh Aik. Salat 5 waktu ngajak ke masjid. Bangun sahur jam setengah empat, nunggu subuh dan salat di masjid, lalu melek sampai berangkat sekolah. Karena jadwal belajar tidak berubah, tetap sampai dhuhur, pulang sekolah langsung pindah ke sekolah khusus. Pulang sore, main sebentar, buka. Lalu taraweh di masjid, tidur tetap pukul sembilan.
Akhirnya aku putuskan selama UKK tidak ke sekolah khusus dulu. Pulang sekolah SD langsung makan dan tidur siang. Iya, aku tidak mau memaksa Aik puasa penuh. Walau ibu-ibu di grup whatsapp dengan bangga menceritakan teman-teman Aik sudah puasa penuh, aku tidak peduli. Walau mereka terus memotivasi, aku tidak peduli.
Selain mulai mengajak Aik belajar intensif sejak seminggu sebelum tes, program utamaku adalah menjaga kondisi tubuh Aik baik. Ngantuk dan capek akan merusak mood, yang berarti akan sulit mengajaknya mengerjakan tes.
Hari pertama UKK Aik mengantuk dan beberapa kali diajak cuci muka. Walaupun harus pakai dipush, dua mata pelajaran selesai dikerjakan.
Hari kedua, shadow teacher mengirim kabar gembira. Aik mengerjakan soal dengan lancar jaya. Tidak mengantuk. Tidak menolak. Bahkan membaca sendiri dan langsung mengerjakan tanpa harus diingatkan.
***

Hai, kenalkan Aik. Hampir 9, sudah bisa menggunakan imbuhan -nya. Sudah bisa bertanya apa, siapa, mana. Sudah bisa berlari. Sudah bisa banyak hal yang orang-orang pikir dia belum atau mungkin tidak akan bisa. Baru saja selesai UKK. Iya, membaca dan mengerjakan soal seperti teman-teman sekelasnya yang kebanyakan orang sebut 'normal'. Sebagai hadiahnya, nanti sore diajak jalan-jalan ke G Fan.


Friday, May 3, 2019

One Step At A Time

And every one takes their own time.

Pencapaian minggu ini adalah, Aik sudah bisa antusias terhadap kegiatan sekolah. Yang pertama Mabit (menginap di sekolah). Sejak pulang sekolah sehari sebelum Mabit, sudah semangat menyiapkan barang-barang yang harus dibawa. Daftarnya ditulis sendiri (tentu dengan didikte Bu Guru) di buku tugasnya. Bukan hanya tidak menolak, tapi justru semangat. "Besok bobok di kantor (maksudnya ruang kantor) sama teman-teman. Bangun pagi jam empat sholat."

Kemarin antusias berangkat outing ke Candi Gedongsong. Sore hari mengajak ke Toko ADA, mau beli Oreo untuk bekal outing. Semua keperluan juga disiapkan sendiri. Yang bikin semangat (sepertinya) karena ada kata 'Songo'. "Candi ada berapa? Sembilan?" tanya dia. Kubilang, "Besok dihitung ya."

Karena bakalan jalan jauh dan medannya lumayan berat, aku pastikan dia pakai sepatu dengan support untuk telapak kakinya yang agak flat. Biar nggak cepat lelah. Doanya jangan hujan. Karena sepatunya kain, kalau hujan harus ganti sepatu sandal gendut yang karet. Tanpa support.

Alhamdulillah cuaca mendung syahdu sampai pulang. Kata gurunya, Aik yang paling semangat berjalan, sementara teman-temannya sudah kelelahan.


Dia tidak tanya kenapa, di Candi Gedong Songo cuma ada enam candi.

Monday, December 17, 2018

The Paths

We plan. We hope. We wish. But we never know which paths our children go.

Watching them growing is like watching a fast-forwarded movie. Suddenly they're here. I've shown them many doors, and they show me many other doors I didn't know. But I let them follow their hearts, their passions.

They choose the door. The path. I'm grateful that I am given the chance to witness them in these moments. And like many moments before since they were babies, my eyes are never outta tears of joy.

Ibit: Choir

Ar: mountaineers

Ir: Flag Raisers Troop.

Wednesday, November 28, 2018

UAS Pertama Aik

Dalam sejarah menjadi ibu, baru kali ini aku merasakan 'anaknya yang tes ibunya yang stres'
Dengan Ibit, Ar, dan Ir, menemani mereka belajar hanya memastikan mereka belajar. Membantu sedikit yang mereka tida paham dan kutahu. Waktu SD, aku masih bisa mengajari sendiri pelajaran-pelajaran yang akan diteskan. Mulai SMP aku minta tolong guru les untuk datang ke rumah. Di SMA Ibit lebih nyaman ikut bimbingan belajar, sementara Ar dan Ir tetap memilih privat di rumah. Tapi soal belajar selama tes, aku benar-benar hanya 'mengawasi'.

Ini semester pertama Aik di SD, Ulangan Akhir Semester pertama buatnya. Juga buatku. See, metode belajar buat Aik selalu harus beda. Ya sebenarnya metode belajar yang efektif untuk tiap anak bisa saja berbeda. Bahkan Ar dan Ir yang notabene terbikin dari satu telur pun perlu pendekatan yang berbeda untuk bisa paham. Tapi Aik ini benar-benar beda. Maksudku... beda. Sudut pandangnya terhadap segala sesuatu sering membatasi jalan baginya untuk memahami sesuatu. Paham kan maksudku? Tidak. Ya... pokoknya begitu lah. Jadi tantangan bagiku adalah menemukan jalan itu, sudut pandang itu. Sekali ketemu, akan mudah baginya memahami apa yang diajarkan.

Sistem belajar tematik di sekolahnya, menggabungkan semua mata pelajaran dalam satu tema. Jadi materi ulangan dalam satu hari bukan satu mata pelajaran, tapi satu tema. Misalnya hari pertama, temanya My Body. Di situ sudah tercakup IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Agama, semua tentang my body. Sejauh ini Aik tidak kesulitan dengan Matematika dan Bahasa Inggris. Hal-hal yang bersifat hafalan juga lebih mudah dia kuasai. Yang jadi tantangan adalah hal-hal yang perlu menarik kesimpulan. Sudut pandang Aik yang unik, yang kubilang tadi, membuat logika dia juga beda. Dan susah mengajaknya berlogika seperti kebanyakan orang.

Sebenarnya, aku menanamkan kebiasaan pada anakku untuk tiap hari belajar, mengulang lagi apa-apa yang dipelajari di sekolah, sehingga ketika mau ulangan atau bahkan semesteran, yang judulnya belajar bukan lagi belajar dari nol tapi tinggal refresh. Ke Aik pun begitu. Belajar untuk Aik lebih 'menyebar' lagi. Bukan hanya setiap hari, tapi setiap saat dan tanpa terasa belajar. Bisa di tengah main aku ajak mengingat Rukun Iman. Atau sebelum baca doa tidur mengingat hadits tentang memberi hadiah. Tapi aku tetap merasa perlu untuk refresh semua dalam satu kali duduk untuk persiapan tes.

Hari Pertama.
Catatan belajar. Aku fokus pada mempelajari kata-kata Bahasa Jawa untuk anggota tubuh dalam ngoko dan krama inggil. Aku menggunakan metode identifikasi dengan kartu, seperti yang dipakai di tempat terapi. It worked. Aik hapal semua pasangan kata dalam Bahasa Indonesia - Jawa (ngoko dan krama inggil) - English. Yang lupa kuantisipasi, identifikasi dan penggolongan kelompok kata-kata dalam setiap bahasa. Walhasil, pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku tes sekilas hasil belajar malam sebelumnya. "Apa Bahasa Inggrisnya tangan?" Jawabnya, "Asta." Asta adalah 'tangan' dalam bahasa krama inggil. Jadi... sehari-hari Aik suka-suka ngomong pakai Bahasa Inggris tanpa menyadari (dan kubiarkan tanpa kukenalkan) bahwa itu Bahasa Inggris. Jadi dia pikir ya dia itu bahasa aja, alat bicara, tidak peduli bahasa apa. Memang malamnya aku bilang 'kita belajar Bahasa Jawa', kemudian sekilas menunjukkan padanya bahwa 'hands, foot' dan teman-temannya adalah Bahasa Inggris. Tapi sepertinya yang tertancap di kepalanya adalah 'Bahasa Inggris' dan kata-kata baru yang dia pelajari, kata-kata Bahasa Jawa. Tapi tidak ada waktu untuk memperbaiki. Jadi kulepas dia berangkat sekolah sambil tertawa.

Catatan tes. Guru kelas maupun shadow teachernya, sore harinya melaporkan hal yang sama. Aik menolak mengerjakan soal tes. Dua-duanya bilang 'mood Aik jelek sekali hari ini.'
Oke oke. Aku menduga itu monday sicknessnya yang parah. Karena berangkat sekolah tiap Senin memang pertarungan. Libur di Sabtu dan Minggu bikin Senin terasa neraka.
Kata shadow teacher, setiap dibacakan soal Aik langsung jengah dan menolak. Padahal belum sampai ke bagian favorit Aik, Matematika dan Bahasa Inggris. Hanya 7 dari 30 soal yang dikerjakan. Oh wow.
Akhirnya kuminta ijin pada guru kelas, untuk hari kedua mengerjakan mulai dari Bahasa Inggris dan Matematika agar dia gembira dan moodnya lebih bagus untuk mengerjakan soal lainnya.


Hari Kedua.

Catatan belajar. Aku memastikan tambahan identifikasi. Pengelompokan bahasa. Tidak ada yang berbeda dengan yang lainnya.

Catatan tes. Aik mengerjakan soal mulai dari English dan Matematika. Moodnya lebih bagus, tapi... tetap menolak mengerjakan selain dua pelajaran itu. Setelah dibujuk gurunya dan disemangati teman-temannya, 11 dari 30 soal. Progress, but, not enough. Shadow teacher bilang dia sudah membacakan setiap soal dan bahkan (dengan seijin guru kelas) menuliskan operasional matematika dari soal cerita. Oh no. Ini tidak benar. Aku minta Bu Shadow untuk membiarkan Aik membaca dan memahami sendiri soal ceritanya. Kalau dia kesulitan baru dibantu. Jangan dari awal disuapi.
Tantangan utama adalah membuat Aik mau mengerjakan semua soal. Dan karena aku tidak terlibat langsung di arena, pertempuran harus dilakukan oleh guru-gurunya, sementara aku dari jarak jauh cuma bisa memberi masukan dan berdoa.

Hari Ketiga.

Catatan belajar. Malam ini aku mencoba memberi Aik simulasi soal. Jadi bukan sekedar mengulang pelajaran. God I should have been doing this since the beginning!
Aku menyiapkan soal pilihan ganda. Aku minta dia baca sendiri. Dan menuliskan sendiri operasional matematikanya. No Problem. Tapi Aik menolak menyilang jawaban yang benar.
'X salah. Ini benar. Benar tidak boleh X'
Oh my God. Silang adalah tanda salah. Kenapa jawaban benar harus disilang?
'Dilingkari boleh?' tanyaku.
'Boleh,' katanya.
Aku langsung kontak kedua gurunya tentang ini. 'Besok dilingkari saja, kalau begitu,' kata Bu Guru.



Catatan Tes.
Aik mengerjakan tes dengan gembira. Membaca sendiri dan tidak dituntuni. Selesai 21 dari 30 soal.

Catatanku untuk Shadow Teacher: kita (termasuk saya) sering underestimate Aik. Padahal yang dibutuhkan Aik adalah kepercayaan bahwa dia bisa. Bukan ketidakpercayaan dan uluran bantuan untuk hal yang tidak dia butuhkan.

Masih ada kesempatan untuk menyelesaikan dua materi tes tema sebelumnya yang belum tuntas. Ini salah satu hal yang kusuka dari sekolah tempat Aik belajar. Di kelas awal, anak benar-benar dibikin nyaman, dijauhkan dari stres, dibikin gembira. Guru berusaha mengenali dan mengikuti cara belajar yang efektif untuk tiap anak, terlebih ABK.

Seperti janjiku pada diri sendiri, pada Aik, pada psikolognya Aik, pada Bapakku. Aku tidak menargetkan apa pun untuk Aik selama sekolah. Aku hanya meminta dan berusaha memaksimalkan yang ada pada diri Aik. Semoga dimudahkan. Dan diberi kesabaran. Ya Tuhan!

Monday, June 25, 2018

The Graduates

A late post.

So this year all my kids are having their last years. Ibit in High School, Ar and Ir in Junior High, and Aik in Kindergarten. It's been a roller coaster to all. Now as we got down, we are ready for a more challenging one. I am a proud Mama of these graduates. They've struggled and done their best. I couldn't demand more.
All we wish now is a good luck for all. We will do this.



Monday, June 22, 2015

Sebelum Menjadi Anak SMP

Ibit memakai jeansku, kemeja ayahnya, kerudungku. Kalau saja kakinya sudah cukup besar, mungkin dia pakai sepatuku.


Eh, kaki Ir ternyata lebih besar dari kakiku. Sebelum turun di halaman kantor Dinas Pendidikan untuk mengurus legalisir piagam Macapatnya, dia baru sadar tadi pakai sandal bukan sepatu. Maka dia pinjam sepatu Ibit, sepatu kets, jadi tidak masalah itu sepatu laki atau perempuan, Dia berjalan sambil meringis kesempitan. Sambil menunggu proses legalisir dia mencoba sepatuku, masih sempit juga, sedikit.

"Aku baru tahu kalau mendaftar SMP harus mengurus berkas ke kantor Dinas," katanya.
Itu karena kamu punya piagam yang harus dipastikan keabsahannya. Ar tidak.

"Dulu kupikir cari sekolah tidak perlu memikirkan nilai US. Pokoknya dari TK ndaftar SD, dari SD ndaftar SMP, lanjut terus tinggal pilih mau ke mana."

Kapan kamu tahu tentang itu?

"Kelas empat. Atau kelas lima."

Dan setelah itu baru kamu mulai serius belajar?

Dia tertawa.

***

Mengenang bagaimana sejak kelas satu hingga lima keduanya sekolah seperti semaunya, peringkat yang selalu di angka lebih dari setengah jumlah siswa di kelas. Kelas enam menjadi sedikit mendebarkan buatku, karena mereka masih mengikuti kurikulum 2006, masih memakai nilai hasil Ujian Sekolah (pengganti Ujian Nasional) untuk mendaftar SMP.

Mereka (juga aku dan Dan) ingin mereka bisa masuk ke SMP yang sama dengan Ibit. Karena berbagai alasan. Tapi dengan cara belajar dan nilai pas-pasan yang mereka biasanya punya, itu dekat di batas angan. Setelah beberapa kali pertemuan dengan guru wali kelas, dan memantau hasil beberapa kali try out, aku baru bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku. Nilai mereka secara keseluruhan meningkat. Aku merasa cukup mereka belajar di sekolah dengan jam tambahan. Tidak ada les lagi. Hanya belajar pelajaran apa saja satu jam tiap malam. 

Kecemasan tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada kekhawatiran baru. Dan demikianlah kau menyayangi buah hatimu. Beban 'anak kembar' membebaniku. Apa yang harus kulakukan (kukatakan) jika nilai US yang satu lebih rendah (atau lebih tinggi) dari yang lain dengan selisih yang nyata? Bagaimana kalau mereka tidak bisa masuk sekolah yang sama? Dengan semua 'doktrin' dari sekitar, termasuk aku, bahwa kamu harus berusaha masuk SMP ini dan bukan yang itu?

Tuhan pasti menyayangiku, Dia tidak ingin aku menanggung beban pikiran. Nilai Ar nol koma sekian lebih tinggi, dan Ir punya piagam kejuaraan. Dengan sedikit penjelasan, Ir merasa tenang, bahwa bekal mereka untuk mendaftar SMP kurang lebih sama.


***

Di meja verifikasi piagam, Ir lupa syair Dhandhanggula yang ditembangkannya saat lomba. Aku tidak nemu video rekamannya yang (seingatku) kupajang di sini. Bapak penguji memancing-mancing Ir untuk mengingat tembang lain. Ibu petugas verifikasi di sebelahnya sibuk dengan berkas lalu memandang ke pintu masuk dan berkata, "Lho, itu anak kenapa malah berdiri di sana?"

Aku dan Ir menoleh ke sana. Ar
.
Itu saudaranya, kataku. Ir masih di kursinya, sedang mengingat syair tembang Gambuh.

"Loh, kok ada dua? Medeni!"

Ar lebih dulu maju ke meja verifikasi berkas pendaftaran, Ir baru menyusul sesudahnya, setelah selesai verifikasi piagam dan uji kemampuan. Berkas ditumpuk, duduk di kursi tunggu menanti panggilan.

Ar.
Khrisna.
Siapa lagi.
Siapa lagi.

Ar kembali membawa kartu pendaftaran. Pendaftaran selesai.

"Kenapa aku nggak segera dipanggil?" tanya Ir.

Karena memang kamu tidak langsung di urutan belakang Ar, ada beberapa anak selagi kamu diuji nembang.

Ir dipanggil ke meja terakhir. Dari kejauhan aku perhatikan, dua ibu guru petugas pendaftaran berpandangan, keheranan, mengecek lagi berkas pendaftaran. Aku sudah menduga mungkin mereka akan begitu. Dan mendekat membantu menenangkan mereka.

"Ini Ir, Bu. Tadi Ar."

"Oh? Oooh... ah... hahaha... makanya... tadi kayanya sudah... oh belum ya? Hahaha..."

***


Selesai untuk hari ini. Tinggal memantau jurnal setiap hari. Semoga tidak perlu cabut berkas dan mengulang proses dari awal ya Le.

Wednesday, January 7, 2015

Love You More.

We have two guitars at home. I named my own 'David' and the other one that I've handed over to Ibit is 'Jasmine'. I let Ibit to play with either one, at home. Every one can feel that David is more comfortable to hold and play with. But any time Ibit needed to bring a guitar to school, I told her to just bring Jasmine. David has far better quality, and is much (yes much) more expensive than Jasmine. 

This morning she said she needed to bring her guitar.

"Use the bag," I said.
"Wich bag?"
 
We only have one guitar bag, and I usually use it to cover David.

"That, bag."
"David's inside. I'll just carry Jasmine."
"Get David out. Or... Just bring David."
"Really? I can bring David?"

Her eyes was shining bright, she looked so happy to be allowed to.

"Don't leave him at school.."
"No I won't. I promise! I will never leave David at school!"



I love David much. I take care of him as how any musician takes care of their instrument. I do my best to protect him from scratch, bump, water, humidity. I have protected him from my worries of all those harms by not letting Ibit bring him to school. Not because I don't trust Ibit. But because I don't know how her friends would treat him, they might not understand the bond I and David have.

Ibit understands this. And she was okay with that.

But I love Ibit more. It felt so good, so great, to see her all cheered up.

Saturday, November 29, 2014

Puncak Tema di Sekolah

Setiap tiga bulan, di sekolah Aik ada acara pentas puncak tema. Semua anak dari kelas kelompok bermain (playgroup) dan kelompok belajar (taman kanak-kanak) ikut ambil bagian tanpa kecuali. Puncak tema kali ini, setiap kelas menampilkan gerak dan lagu. Sebenarnya lebih tepat disebut bergerak mengikuti lagu. Menari dengan iringan lagu anak-anak. 

Tahun lalu, Dek Aik masih belum mau ikut menari. Naik ke panggung harus dituntun, di atas panggung pun duduk, minggir di pojokan. Kali ini pun awalnya dia terlihat malu. Ketika duduk menunggu giliran, dia terus-terusan menutup muka. Namun akhirnya dia maju sendiri ketika tiba giliran kelasnya beraksi di panggung. Dan setelah itu sikap malu-malunya lenyap tak bersisa....



Gerakan tarinya cukup sederhana, sebenarnya. Tapi bagi Aik tetap saja masih sulit untuk diikuti. Jadilah dia lebih banyak diam, hanya sesekali goyang ke sana kemari sebisanya. Lucunya, seusai acara, dia dengan dua orang kakak kelompok belajar banyak bergerak nari-nari sendiri. Kurasa ini tetap ada kaitannya dengan jumlah audiens. Yang terakhir ini penontonnya memang tinggal tiga emaknya yang menunggui tiga anak ini sebosannya :D

Bagaimana pun, buat aku ini istimewa. Mengingat bagaimana sulitnya dia merasa nyaman di tengah kerumunan. Apalagi jadi perhatian. Ada teman Aik yang sama sekali tidak mau ikut menari, bahkan menangis dan nyungsep aja di pangkuan ibunya....

Well done, Dear. Mami love you 😘

Friday, March 15, 2013

Meniru.

Katanya, anak adalah peniru terbaik di dunia. Juga ketika bicara, dia meniru orang dewasa di sekitarnya.

Tapi kenapa Dek Ai' tidak mau meniru bicara? Hingga pada usia hampir tiga dia belum juga bisa bicara?

Ketika memulai terapi wicara sekitar empat bulan yang lalu, aku belum punya bayangan bagaimana mengajak anak untuk meniru gerakan mulut, bersuara, apalagi yang bermakna: berkata-kata. Ternyata sebelum anak benar-benar belajar bicara, banyak hal yang harus diajarkan.

Hal pertama mengajar Dek Ai' untuk patuh selama sesi terapi. Belajar konsep. Belajar meniru.

Baru pekan yang lalu pelajaran bicara dimulai. Dek Ai' diajak duduk di depan kaca, dan meniru gerakan mulut terapis. Dan hari ini Dek Ai' mulai mau meniru 'ma' dan 'aaa' dan 'iiii'....

Bagian dari sesi terapi yang jadi favorit Dek Ai' adalah menyamakan gambar. Dua puluh gambar yang berbeda ditebar di atas meja. Setiap kali terapis mengeluarkan satu kartu, Dek Ai' harus meletakkannya di gambar yang sama. Dia bisa. Suka, malah.

Aku ingin memasukkan Dek Ai' ke kelompok bermain. Sepertinya masih ada keraguan dari pihak 'sekolah' untuk menerima Dek Ai'. Mereka meminta catatan dari psikolog, untuk memastikan apakah Dek Ai' bisa diterima atau tudak. Beuh, repotnya.

Oke, sedang dicarikan jadwal bertemu psikolog. Kita tunggu saja.



Thursday, December 13, 2012

Bukan Bahan Perbandingan

Pagi ini aku mengambil rapor di sekolah Ar Ir. Begitu aku duduk di hadapan Bu Guru, aku bertanya ' bagaimana hasil belajar anak-anak keren itu?'

Bu Guru memulai menjawab dengan kalimat, 'Hasil belajar Ar lebih bagus dari Ir...' Sambil mulai mencari-cari buku rapor mereka.

Aku, dengan spontan memotong kalimatnya, karena aku memang tidak ingin dia melanjutkannya.

'Saya mau tahu perkembangan masing-masing. Perbandingan hasil belajar masing-masing dengan hasil belajar mereka masing-masing di UTS lalu. Bukan perbandingan antara keduanya'

Bu Guru seperti terkejut mendengar aku berkata begitu, lalu mulai menjelaskan hasil belajar Ar dan Ir, tanpa mengaitkan satu dengan yang lainnya.

***

Aku tahu, bagi orang yang sekedar melihat tanpa memahami, otomatis akan terlintas untuk membandingkan sepasang anak kembar. Tak hanya tentang pelajaran sekolahnya, tapi mungkin juga tentang hal-hal lainnya.

Aku pun menyadari hal seperti itu akan alami tumbuh di benakku. Tak usahlah antara kedua kembar itu. Kita bahkan cenderung membandingkan satu anak dengan anak yang lain. Yang, sebisa mungkin aku hindari.

Pasti jadi 'penderitaan' tersendiri bagi manusia-manusia kembar, ketika orang memandang mereka tidak utuh sebagai pribadi terpisah, tapi saling membayangi. Ar Ir bahkan punya saat-saat mereka terlihat 'bosan' dengan orang-orang yang salah panggil.

Aku, entah ini dianggap baik atau buruk, selalu berusaha memperlakukan mereka sebagai dua orang yang berbeda. Aku tidak pernah membelikan mereka baju kembar, seperti yang umumnya dilakukan orang tua anak kembar. Mereka bahkan menolak memakai baju kembar, kecuali sekalian rame-rame kembaran dengan sepupu-sepupu. Makin besar, mereka malah kubiarlan memilih sendiri apa yang mereka suka.

***

Nilai yang terpaut lumayan jauh, dalam kelas yang sama, mau tak mau akan jadi bahan perbandingan langsung. Lihat saja, bahkan oleh gurunya. Aku tidak ingin orang-orang menjadikannya begitu. Tapi malas juga kalau harus bicara ke setiap orang untuk tidak begitu.

Jadi paling tidak aku sendiri bersikap tidak begitu. Agar keduanya melihat aku tidak membanding-bandingkan. Oh, gurunya. Iya, kalau padanya aku harus bicara. Karena aku selalu dihantui kisah seorang anak kembar yang gantung diri karena selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya yang selalu ranking 1, sedang dia tidak pernah...


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, August 2, 2012

Tentang Ekstra Kurikuler di Sekolah Baru.

Ini minggu kedua Mbak Ibit bersekolah sebagai anak SMP. Hampir setiap hari, dengan panuh semangat dia bercerita tentang hal-hal baru di sekolah. Tentang teman-teman yang lucu, guru yang menyenangkan dan yang membosankan. Perpustakaan yang asik tapi lampunya kurang terang...

Pagi ini di perjalanan ke sekolah, Mbak Ibit mengatakan bahwa dia sedang bingung untuk menentukan ikut ekstra kurikuler apa. Dia mendapat undangan untuk ikut kelompok persiapan Olimpiade IPA, karena nilai IPA-nya waktu Ujian Nasional kemarin termasuk tinggi.

Kubilang, terserah Mbak Ibit. Tapi kalau aku, ekskul adalah kegiatan senang-senang, refreshing setelah pusing oleh pelajaran.

'Kata Bu Guru,' kata Mbak Ibit, ekskul jangan cuma yang senang-senang aja. Nah loh, ideologinya kebalikan. Tapi sebenarnya Mbak Ibit maunya ikut menyanyi dan jurnalistik. Yang nanti terpilih ikut olimpiade paling banyak 4 orang. Kalau nggak kepilih rasanya sia-sia. Beda kalau menyanyi dan jurnalistik. Biarpun tidak mewakili lomba, setidaknya sudah bersenang-senang selama kegiatan.

Fiuh. Diam-diam aku lega. Dan kataku, ada anak yang memang cocok ambil ekstra olimpiade. Yaitu anak-anak yang kebahagiannya adalah belajar dan belajar. Mbak Ibit tertawa, dan katanya dia bukan yang seperti itu.

'Lagian aku juga nggak terlalu suka IPA'
'Nilai IPA tinggi karena kebetulan'
'Haha, iya. Aku cuma nebak-nebak, dan ternyata benar...'

Ha ha ha.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, June 21, 2012

The Graduated

Okay. She's now officially graduated from elementary school, and ready for High School.


 There she is in her graduation day, wearing her graduation gown with kebaya inside. She's the only girl with simple black headdress, while almost all the girls had white headdress with vary accessories and styles. But I think she is beautiful just the way she is.




High School will definitely be different. But I know she'll make it, like she always did.


Wednesday, March 7, 2012

Loop Loop Tie your Shoe

I never found tying shoe lace is complicated. But I heard it is, to some people. I remember how complicated it is to Sponge Bob Squarepants, until he finally did it with the help of his song. I just found the lyric here, and here it is.

You wanna learn how to tie your shoe?
It's a very easy thing to do
Just sit on down and I'll give you the scoop..
What's that? It's called loop-de-loop
You put your laces each hand
go over and under again, you make loop-de-loop and pull
and your shoes are looking cool
You go over and back, left to the right, loop-de-loop and pull 'em tight.
Like the bunny ears on a Christmas bow, lace 'em up and you're ready to go!
You make your loop-de-loop and pull, and your shoes are looking cool.

I think whoever sees this episode should learn that tying shoe lace is simple. But it has made my children think the opposite. And for years they chose to wear shoes without laces.

Few days ago I accompanied Ibit and Ar and Ir bought their school shoes. Ibit and Ar chose their shoes without laces. But Ir decided to have the ones with laces. He asked me if I would teach him to tie them. And I said off course I would.

I tried to remember what Sponge Bob did but I failed. I thought I could have searched on youtube how to do it, but I didn't have much time. So I just showed Ir how I do it and he succeded in his first try.



He made it. And he looks darn so cool...


Thursday, August 5, 2010

a common thing become less special


this a text of one macapat song (Javanese traditional singing) in a contest Ibit joined. Ibit has been sent to join Macapat Contest for the last three years, in two different cathegories. during that time, she always took #1 place in Kecamatan level. means she was then sent to Kabupaten, but the best result was #3 place in this level.
ini teks salah satu lomba macapat yang diikuti Ibit. Ibit sudah tiga tahun belakangan ini ikut lomba macapat, dua kategori setiap tahunnya. selama itu, dia selalu berhasil jadi juara 1 di tingkat kecamatan. artinya setelah itu dia maju ke tingkat kabupaten, tapi hasil terbaik di tingkat ini baru juara 3

couple days ago, she was again sent to join the same contest. Ar and Ir were trained to follow Ibit but seemed they were still not ready for a competition.
after the contest, I asked her how did she do it.
she said, 'hh... just like usually. I took first place'
and she said that with plain face, like being #1 is not special. later, in the evening, Dan called from office. Ibit talked to him, I didn't. after hanging the phone Ibit asked me, 'why Bapak didn't ask me the results of the contest?'
'why, do you think?'
'I think he already knew what I got'
beberapa hari yang lalu Ibit ikut lomba lagi. Ar dan Ir juga dilatih untuk ikut lomba yang sama, tapi sepertinya belum siap.
seusai lomba, aku tanya bagaimana hasilnya.
dengan wajah datar dia menjawab, 'biasa... juara satu,' seolah juara satu itu biasa aja. sorenya, Dan menelpon dari kantor. Ibit yang bicara dengannya, aku ngga tahu ngobrolin apa. setelah menutup telponnya, Ibit bertanya padaku, 'kenapa Bapak ngga nanyain hasil lombaku?'
'menurutmu kenapa?'
'kayanya Bapak udah bisa nebak hasilnya'

may be. well may be not. I thought Dan was too busy with work and forgot to ask about that. but the fact that Ibit thought so, showed how a success she made has become a common thing - and not special. I don't know it is sad or what. I just think shes starting getting bored with the same contest.
mungkin. mungkin juga tidak. kupikir Dan terlalu sibuk dengan kerjaan dan lupa untuk bertanya soal itu. tapi kenyataan bahwa Ibit berpikir begitu, menunjukkan bahwa keberhasilan yang dia capai sudah menjadi sesuatu yang biasa, tidak istimewa. aku tidak tahu itu menyedihkan atau bagaimana. tapi kelihatannya dia sudah mulai bosan ikut lomba yang sama.

really, I wonder why. whenever there is any activity in school, as long it is about singing, it was always Ibit to be sent. any kind of singing contest, and singing performance. name it: pop singing, macapat, rebana, band. it has been going since her first year. she enjoyed them first, but I think she is tired now, or bored. beside, aren't there any other student to participate? I believe there are some students want to have the same chance. I'm afraid that the teachers only think about results, and abandon a possibility this could lead to jealousy.
aku juga heran. setiap kali ada kegiatan di sekolah yang berhubungan dengan menyanyi, selalu Ibit yang dikirim. sebut saja: menyanyi pop, macapat, rebana, band. sejak kelas satu lho. awalnya dia menikmati, tapi sepertinya sekarang mulai capek, atau bosan. lagi pula, apa tidak ada anak lain? aku yakin pasti ada murid lain yang ingin juga ikut berpartisipasi. takutnya guru guru hanya memikirkan hasil lomba, dan mengesampingkan kemungkinan bahwa hal ini bisa menimbulkan kecemburuan.

well, this year will be the last year for her to still be able to do those activities. I'll just let her do it if she likes, or quit if she wants to. I just don't want some thing fun turn into some thing sucks.
well, ini tahun terakhir buat Ibit untuk bisa mengikuti kegiatan kegiatan tersebut. aku biarkan saja kalau dia masih ingin ikut, atau berhenti kalau mau. aku cuma tidak mau kalau hal yang menyenangkan menjadi memuakkan.

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and Lolli


Thursday, April 22, 2010

what a day

last Sunday there was an event in my children's school. it was an Open House in order to celebrate Kartini Day. Kartini is one of our female national hero.

Ibit performed 3 times that day.


First: drumband




Second: sang with her rebana group




Third: sang 5 songs with her band group

I'm not a good one in dress and fashion. but I think I dressed her good. she refused to wear the costume I chose - at the beginning. she wanted just to wear a t-shirt and jean pants. but then she found that her friends loved it, so finally she likes it.



And as a bonus (or the most important thing to her?) was, she took 2nd place for story telling contest.





I will not forget to put the picture of these biggest fans of Ibit, who sat right on the stage side to watch and support her.


and I want to share one of the performance. it is a duo with Al, the keyboardist of the band, singing "Bunda" (mother)








PhotoStory Friday
Hosted by Cecilyand Pam

Thursday, April 1, 2010

studying is [not] my hobby

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and Life With Kaishon



studying, never was my hobby. all my time being a student. this is 180 degrees opposites my husband, who has always been studying and been a diligent student. well, until he met me in college, that's when I contaminated his habit with mine :P
so I totally understand when some kids don't like studying. now I understand that's just because they don't find studying is interesting.

aku ngga hobi belajar, seumur aku menjadi murid. ini berlawanan 180 derajat dengan suamiku yang selalu rajin belajar selama sekolah. well, tentu saja itu sebelum dia ketemu aku di kuliahan, aku mengkontaminasi kebiasaannya dengan kebiasaanku :P
jadi aku ngerti banget kalau ada anak yang ngga suka belajar. sekarang sih aku ngerti, bahwa itu karena buat mereka belajar itu ngga menarik


it was a little bit hard to pull my twin to sit before desk and concentrate for a while to their books. seemed like they really are my children :D. but this isn't some thing I just can let go on. so I tried to make it interesting for them do math exercises.

beda dengan Ibit, agak susah ngajak Ar Ir duduk dan konsentrasi sebentar ngadep buku pelajaran. bener-bener anakku mereka itu :D. tapi tentu saja ini bukan hal yang boleh aku biarkan terus-terusan. karenanya aku mencoba membuat belajar matematika menarik buat mereka.


I made them their own exercise book.
aku buatkan mereka buku latihan sendiri.




on every page I drew some stuffs for them to color. they are interested to do the coloring instead of doing the real exercises but that's fine.
di setiap halaman aku beri gambar untuk diwarnai. mereka memang lebih tertarik mewarnai gambarnya ketimbang mengerjakan latihan yang sesungguhnya.




they'd do it any way, because if they do all the exercises correctly, they can cut this little part lower on the page.
tapi mereka pasti mentgerjakannya, karena jika betul semua, mereka boleh memotong bagian kecil di ujung kiri bawah setiap halaman latihan.


every page is worth Rp.100 and if they collect at least ten coupon from ten pages, they can buy themselves some treat :D
setiap halaman bernilai Rp. 100 dan bila mereka mengumpulkan kupon dari 10 halaman, mereka bisa beli jajan yang lumayan.

Ibit said I was too stingy. Rp. 100 for ten to twenty numbers each page. but I don't think so. I never had to pay any single rupiah for all numbers of exercises Ibit has done. it's not about how much they've got, but how fun it was to get it.
kata Ibit aku pelit, Rp.100 untuk 10 - 20 nomor per halaman. tapi ga juga. aku malah ga pernah bayar serupiah pun untuk semua latihan yang dikerjakan Ibit. ini bukan soal berapa jumlahnya, tapi pasti senang memperolehnya.

beside, if I put Rp. 1000 in every coupon, I'll soon be broken!
lagian kalau tiap halaman bernilai Rp.1000, aku bisa cepet bangkrut!


note: $1,00 = Rp. 9700,00 (approximately)

Friday, July 3, 2009

end of academic year and loneliness

It's over. Well at least for this year. So Ar Ir are no longer kindergarten kids. They've done with it. They are now waiting for the time to be an Elementary School students. I have registered them to the same school with Ibit. And Ibit is no longer a 3rd grader. She is now a 4th grader.
Tamat sudah. Paling tidak untuk tahun ini. Ar Ir sekarang bukan anak TK lagi. Mereka sudah puas di sana. Sekarang nunggu saatnya jadi anak SD. Aku sudah mendaftarkan mereka ke sekolah yang sama dengan Ibit. Dan Ibit bukan anak kelas 3 lagi, sekarnag kelas 4.

This is their last performance at their former school.
Ini penampilan terakhir mereka di sekolah mereka yang dulu.



And I took this picture of Ibit, before she go to school to perform in the graduation celebration for 6th grade at her school, singing with her band. The teacher told me she would perform at about 11.30AM. So I and Dan and the twins went from our house at 10.30. But when I got there, she just finished sang her song and was taking a bow.... Forgive me for being late, Bit...
Dan aku ambil gambar Ibit ini, sesaat sebelum berangkat ke sekolah untuk tampil bersama band-nya di acara akhirussanah dan pelepasan lulusan. Kata gurunya, Ibit akan tampil sekitar jam 11.30, jadi aku dan Dan dan kembar berangkat jam 10.30. Ternyata oh ternyata, ketika kami sampai di sana, Ibit baru saja menyelesaikan chorusnya dan sedang membungkuk menghormat..... Maaf Bit, Ibu telat...




NOW.....
SEKARANG......

It was all about two weeks ago. It's been a week since I drop my kids there in my parents house for holiday. I thought it would be fun to be just with Dan at home. It was, for a day and two. But the rest were oh so uncomfortable. I missed them, yes I do. Yesterday when I called them, Ar said, "I miss you, Ibu, I want to kiss you..."
Itu sudah hampir dua minggu yang lalu. Dan ini sudah seminggu sejak aku mengantar anak-anak ke rumah embah mereka buat liburan. Kupikir bakalan asyik berdua Dan aja di rumah. Tadinya iya, satu dua hari. Setelah itu... ga enak. Aku kangen sama anak-anak, banget. Kemaren waktu aku telpon mereka, Ar bilang, "Aku kangen Ibu, aku pengen dicium Ibu..."

Oh boy, how I miss you even more, and I miss kissing the smell of you under arms...
Oh boy, Ibu juga kangen kamu... banget. Dan Ibu kangen cium kelek kecut kalian....

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and MamaGeek