I'm just a piece of dandelion seed, that flew with the wind, away from where I used to be, to find a place to belong to, but I won't forget who I was
Tuesday, July 20, 2021
Twin Shoot di Undip
Monday, July 20, 2020
Adaptasi
Sunday, July 7, 2019
Determination
I didn’t expect Aik to finish the hike, but he looked so enthusiastic. He kept walking following other hikers in the group.
It has been beyond expectation. So we thought we better stop now and try again some other day. With a better preparation and may be don’t let Aik walk fully. We can carry him at some parts so the hike won’t press him too much and we can reach the peak safely.
Thursday, May 23, 2019
Have Faith
***
"Kita nggak bisa berharap anak-anak seperti ini tumbuh seperti anak-anak normal," katanya. Tidak boleh berharap Aik bisa mengikuti pelajaran dan sekolah tinggi, hanya fokus melatih anak untuk mandiri.
"Oh," jawabku, "saya siap jika Aik tidak bisa sekolah tinggi. Saya menyiapkan dia jadi foto model atau bintang film.
"Bu Guru tertawa.
"Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" tanyaku, "Dia punya modal. Dan kalau ga bisa jadi dokter apa salahnya jadi model?"
Bu Guru berhenti tertawa, dan aku memutuskan tidak akan menyekolahkan Aik di situ.
***
Friday, May 3, 2019
One Step At A Time
Monday, December 17, 2018
The Paths
Wednesday, November 28, 2018
UAS Pertama Aik
Catatan tes. Aik mengerjakan soal mulai dari English dan Matematika. Moodnya lebih bagus, tapi... tetap menolak mengerjakan selain dua pelajaran itu. Setelah dibujuk gurunya dan disemangati teman-temannya, 11 dari 30 soal. Progress, but, not enough. Shadow teacher bilang dia sudah membacakan setiap soal dan bahkan (dengan seijin guru kelas) menuliskan operasional matematika dari soal cerita. Oh no. Ini tidak benar. Aku minta Bu Shadow untuk membiarkan Aik membaca dan memahami sendiri soal ceritanya. Kalau dia kesulitan baru dibantu. Jangan dari awal disuapi.
Tantangan utama adalah membuat Aik mau mengerjakan semua soal. Dan karena aku tidak terlibat langsung di arena, pertempuran harus dilakukan oleh guru-gurunya, sementara aku dari jarak jauh cuma bisa memberi masukan dan berdoa.
Hari Ketiga.
Catatan belajar. Malam ini aku mencoba memberi Aik simulasi soal. Jadi bukan sekedar mengulang pelajaran. God I should have been doing this since the beginning!
Aku menyiapkan soal pilihan ganda. Aku minta dia baca sendiri. Dan menuliskan sendiri operasional matematikanya. No Problem. Tapi Aik menolak menyilang jawaban yang benar.
'X salah. Ini benar. Benar tidak boleh X'
Oh my God. Silang adalah tanda salah. Kenapa jawaban benar harus disilang?
'Dilingkari boleh?' tanyaku.
'Boleh,' katanya.
Aku langsung kontak kedua gurunya tentang ini. 'Besok dilingkari saja, kalau begitu,' kata Bu Guru.
Catatan Tes.
Aik mengerjakan tes dengan gembira. Membaca sendiri dan tidak dituntuni. Selesai 21 dari 30 soal.
Catatanku untuk Shadow Teacher: kita (termasuk saya) sering underestimate Aik. Padahal yang dibutuhkan Aik adalah kepercayaan bahwa dia bisa. Bukan ketidakpercayaan dan uluran bantuan untuk hal yang tidak dia butuhkan.
Masih ada kesempatan untuk menyelesaikan dua materi tes tema sebelumnya yang belum tuntas. Ini salah satu hal yang kusuka dari sekolah tempat Aik belajar. Di kelas awal, anak benar-benar dibikin nyaman, dijauhkan dari stres, dibikin gembira. Guru berusaha mengenali dan mengikuti cara belajar yang efektif untuk tiap anak, terlebih ABK.
Seperti janjiku pada diri sendiri, pada Aik, pada psikolognya Aik, pada Bapakku. Aku tidak menargetkan apa pun untuk Aik selama sekolah. Aku hanya meminta dan berusaha memaksimalkan yang ada pada diri Aik. Semoga dimudahkan. Dan diberi kesabaran. Ya Tuhan!
Monday, June 25, 2018
The Graduates
Monday, June 22, 2015
Sebelum Menjadi Anak SMP
Wednesday, January 7, 2015
Love You More.
Saturday, November 29, 2014
Puncak Tema di Sekolah
Setiap tiga bulan, di sekolah Aik ada acara pentas puncak tema. Semua anak dari kelas kelompok bermain (playgroup) dan kelompok belajar (taman kanak-kanak) ikut ambil bagian tanpa kecuali. Puncak tema kali ini, setiap kelas menampilkan gerak dan lagu. Sebenarnya lebih tepat disebut bergerak mengikuti lagu. Menari dengan iringan lagu anak-anak.
Tahun lalu, Dek Aik masih belum mau ikut menari. Naik ke panggung harus dituntun, di atas panggung pun duduk, minggir di pojokan. Kali ini pun awalnya dia terlihat malu. Ketika duduk menunggu giliran, dia terus-terusan menutup muka. Namun akhirnya dia maju sendiri ketika tiba giliran kelasnya beraksi di panggung. Dan setelah itu sikap malu-malunya lenyap tak bersisa....Bagaimana pun, buat aku ini istimewa. Mengingat bagaimana sulitnya dia merasa nyaman di tengah kerumunan. Apalagi jadi perhatian. Ada teman Aik yang sama sekali tidak mau ikut menari, bahkan menangis dan nyungsep aja di pangkuan ibunya....
Well done, Dear. Mami love you 😘
Friday, March 15, 2013
Meniru.
Tapi kenapa Dek Ai' tidak mau meniru bicara? Hingga pada usia hampir tiga dia belum juga bisa bicara?
Ketika memulai terapi wicara sekitar empat bulan yang lalu, aku belum punya bayangan bagaimana mengajak anak untuk meniru gerakan mulut, bersuara, apalagi yang bermakna: berkata-kata. Ternyata sebelum anak benar-benar belajar bicara, banyak hal yang harus diajarkan.
Hal pertama mengajar Dek Ai' untuk patuh selama sesi terapi. Belajar konsep. Belajar meniru.
Baru pekan yang lalu pelajaran bicara dimulai. Dek Ai' diajak duduk di depan kaca, dan meniru gerakan mulut terapis. Dan hari ini Dek Ai' mulai mau meniru 'ma' dan 'aaa' dan 'iiii'....
Bagian dari sesi terapi yang jadi favorit Dek Ai' adalah menyamakan gambar. Dua puluh gambar yang berbeda ditebar di atas meja. Setiap kali terapis mengeluarkan satu kartu, Dek Ai' harus meletakkannya di gambar yang sama. Dia bisa. Suka, malah.
Aku ingin memasukkan Dek Ai' ke kelompok bermain. Sepertinya masih ada keraguan dari pihak 'sekolah' untuk menerima Dek Ai'. Mereka meminta catatan dari psikolog, untuk memastikan apakah Dek Ai' bisa diterima atau tudak. Beuh, repotnya.
Oke, sedang dicarikan jadwal bertemu psikolog. Kita tunggu saja.
Thursday, December 13, 2012
Bukan Bahan Perbandingan
Bu Guru memulai menjawab dengan kalimat, 'Hasil belajar Ar lebih bagus dari Ir...' Sambil mulai mencari-cari buku rapor mereka.
Aku, dengan spontan memotong kalimatnya, karena aku memang tidak ingin dia melanjutkannya.
'Saya mau tahu perkembangan masing-masing. Perbandingan hasil belajar masing-masing dengan hasil belajar mereka masing-masing di UTS lalu. Bukan perbandingan antara keduanya'
Bu Guru seperti terkejut mendengar aku berkata begitu, lalu mulai menjelaskan hasil belajar Ar dan Ir, tanpa mengaitkan satu dengan yang lainnya.
***
Aku tahu, bagi orang yang sekedar melihat tanpa memahami, otomatis akan terlintas untuk membandingkan sepasang anak kembar. Tak hanya tentang pelajaran sekolahnya, tapi mungkin juga tentang hal-hal lainnya.
Aku pun menyadari hal seperti itu akan alami tumbuh di benakku. Tak usahlah antara kedua kembar itu. Kita bahkan cenderung membandingkan satu anak dengan anak yang lain. Yang, sebisa mungkin aku hindari.
Pasti jadi 'penderitaan' tersendiri bagi manusia-manusia kembar, ketika orang memandang mereka tidak utuh sebagai pribadi terpisah, tapi saling membayangi. Ar Ir bahkan punya saat-saat mereka terlihat 'bosan' dengan orang-orang yang salah panggil.
Aku, entah ini dianggap baik atau buruk, selalu berusaha memperlakukan mereka sebagai dua orang yang berbeda. Aku tidak pernah membelikan mereka baju kembar, seperti yang umumnya dilakukan orang tua anak kembar. Mereka bahkan menolak memakai baju kembar, kecuali sekalian rame-rame kembaran dengan sepupu-sepupu. Makin besar, mereka malah kubiarlan memilih sendiri apa yang mereka suka.
***
Nilai yang terpaut lumayan jauh, dalam kelas yang sama, mau tak mau akan jadi bahan perbandingan langsung. Lihat saja, bahkan oleh gurunya. Aku tidak ingin orang-orang menjadikannya begitu. Tapi malas juga kalau harus bicara ke setiap orang untuk tidak begitu.
Jadi paling tidak aku sendiri bersikap tidak begitu. Agar keduanya melihat aku tidak membanding-bandingkan. Oh, gurunya. Iya, kalau padanya aku harus bicara. Karena aku selalu dihantui kisah seorang anak kembar yang gantung diri karena selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya yang selalu ranking 1, sedang dia tidak pernah...
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Thursday, August 2, 2012
Tentang Ekstra Kurikuler di Sekolah Baru.
Pagi ini di perjalanan ke sekolah, Mbak Ibit mengatakan bahwa dia sedang bingung untuk menentukan ikut ekstra kurikuler apa. Dia mendapat undangan untuk ikut kelompok persiapan Olimpiade IPA, karena nilai IPA-nya waktu Ujian Nasional kemarin termasuk tinggi.
Kubilang, terserah Mbak Ibit. Tapi kalau aku, ekskul adalah kegiatan senang-senang, refreshing setelah pusing oleh pelajaran.
'Kata Bu Guru,' kata Mbak Ibit, ekskul jangan cuma yang senang-senang aja. Nah loh, ideologinya kebalikan. Tapi sebenarnya Mbak Ibit maunya ikut menyanyi dan jurnalistik. Yang nanti terpilih ikut olimpiade paling banyak 4 orang. Kalau nggak kepilih rasanya sia-sia. Beda kalau menyanyi dan jurnalistik. Biarpun tidak mewakili lomba, setidaknya sudah bersenang-senang selama kegiatan.
Fiuh. Diam-diam aku lega. Dan kataku, ada anak yang memang cocok ambil ekstra olimpiade. Yaitu anak-anak yang kebahagiannya adalah belajar dan belajar. Mbak Ibit tertawa, dan katanya dia bukan yang seperti itu.
'Lagian aku juga nggak terlalu suka IPA'
'Nilai IPA tinggi karena kebetulan'
'Haha, iya. Aku cuma nebak-nebak, dan ternyata benar...'
Ha ha ha.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Thursday, June 21, 2012
The Graduated
Wednesday, March 7, 2012
Loop Loop Tie your Shoe
Thursday, August 5, 2010
a common thing become less special

this a text of one macapat song (Javanese traditional singing) in a contest Ibit joined. Ibit has been sent to join Macapat Contest for the last three years, in two different cathegories. during that time, she always took #1 place in Kecamatan level. means she was then sent to Kabupaten, but the best result was #3 place in this level.
ini teks salah satu lomba macapat yang diikuti Ibit. Ibit sudah tiga tahun belakangan ini ikut lomba macapat, dua kategori setiap tahunnya. selama itu, dia selalu berhasil jadi juara 1 di tingkat kecamatan. artinya setelah itu dia maju ke tingkat kabupaten, tapi hasil terbaik di tingkat ini baru juara 3
couple days ago, she was again sent to join the same contest. Ar and Ir were trained to follow Ibit but seemed they were still not ready for a competition.
after the contest, I asked her how did she do it.
she said, 'hh... just like usually. I took first place'
and she said that with plain face, like being #1 is not special. later, in the evening, Dan called from office. Ibit talked to him, I didn't. after hanging the phone Ibit asked me, 'why Bapak didn't ask me the results of the contest?'
'why, do you think?'
'I think he already knew what I got'
beberapa hari yang lalu Ibit ikut lomba lagi. Ar dan Ir juga dilatih untuk ikut lomba yang sama, tapi sepertinya belum siap.
seusai lomba, aku tanya bagaimana hasilnya.
dengan wajah datar dia menjawab, 'biasa... juara satu,' seolah juara satu itu biasa aja. sorenya, Dan menelpon dari kantor. Ibit yang bicara dengannya, aku ngga tahu ngobrolin apa. setelah menutup telponnya, Ibit bertanya padaku, 'kenapa Bapak ngga nanyain hasil lombaku?'
'menurutmu kenapa?'
'kayanya Bapak udah bisa nebak hasilnya'
may be. well may be not. I thought Dan was too busy with work and forgot to ask about that. but the fact that Ibit thought so, showed how a success she made has become a common thing - and not special. I don't know it is sad or what. I just think shes starting getting bored with the same contest.
mungkin. mungkin juga tidak. kupikir Dan terlalu sibuk dengan kerjaan dan lupa untuk bertanya soal itu. tapi kenyataan bahwa Ibit berpikir begitu, menunjukkan bahwa keberhasilan yang dia capai sudah menjadi sesuatu yang biasa, tidak istimewa. aku tidak tahu itu menyedihkan atau bagaimana. tapi kelihatannya dia sudah mulai bosan ikut lomba yang sama.
really, I wonder why. whenever there is any activity in school, as long it is about singing, it was always Ibit to be sent. any kind of singing contest, and singing performance. name it: pop singing, macapat, rebana, band. it has been going since her first year. she enjoyed them first, but I think she is tired now, or bored. beside, aren't there any other student to participate? I believe there are some students want to have the same chance. I'm afraid that the teachers only think about results, and abandon a possibility this could lead to jealousy.
aku juga heran. setiap kali ada kegiatan di sekolah yang berhubungan dengan menyanyi, selalu Ibit yang dikirim. sebut saja: menyanyi pop, macapat, rebana, band. sejak kelas satu lho. awalnya dia menikmati, tapi sepertinya sekarang mulai capek, atau bosan. lagi pula, apa tidak ada anak lain? aku yakin pasti ada murid lain yang ingin juga ikut berpartisipasi. takutnya guru guru hanya memikirkan hasil lomba, dan mengesampingkan kemungkinan bahwa hal ini bisa menimbulkan kecemburuan.
well, this year will be the last year for her to still be able to do those activities. I'll just let her do it if she likes, or quit if she wants to. I just don't want some thing fun turn into some thing sucks.
well, ini tahun terakhir buat Ibit untuk bisa mengikuti kegiatan kegiatan tersebut. aku biarkan saja kalau dia masih ingin ikut, atau berhenti kalau mau. aku cuma tidak mau kalau hal yang menyenangkan menjadi memuakkan.

Hosted by Cecily and Lolli
Thursday, April 22, 2010
what a day
Ibit performed 3 times that day.


I'm not a good one in dress and fashion. but I think I dressed her good. she refused to wear the costume I chose - at the beginning. she wanted just to wear a t-shirt and jean pants. but then she found that her friends loved it, so finally she likes it.

and I want to share one of the performance. it is a duo with Al, the keyboardist of the band, singing "Bunda" (mother)

Hosted by Cecilyand Pam
Thursday, April 1, 2010
studying is [not] my hobby

Hosted by Cecily and Life With Kaishon
studying, never was my hobby. all my time being a student. this is 180 degrees opposites my husband, who has always been studying and been a diligent student. well, until he met me in college, that's when I contaminated his habit with mine :P
so I totally understand when some kids don't like studying. now I understand that's just because they don't find studying is interesting.
aku ngga hobi belajar, seumur aku menjadi murid. ini berlawanan 180 derajat dengan suamiku yang selalu rajin belajar selama sekolah. well, tentu saja itu sebelum dia ketemu aku di kuliahan, aku mengkontaminasi kebiasaannya dengan kebiasaanku :P
jadi aku ngerti banget kalau ada anak yang ngga suka belajar. sekarang sih aku ngerti, bahwa itu karena buat mereka belajar itu ngga menarik
it was a little bit hard to pull my twin to sit before desk and concentrate for a while to their books. seemed like they really are my children :D. but this isn't some thing I just can let go on. so I tried to make it interesting for them do math exercises.
beda dengan Ibit, agak susah ngajak Ar Ir duduk dan konsentrasi sebentar ngadep buku pelajaran. bener-bener anakku mereka itu :D. tapi tentu saja ini bukan hal yang boleh aku biarkan terus-terusan. karenanya aku mencoba membuat belajar matematika menarik buat mereka.
aku buatkan mereka buku latihan sendiri.

di setiap halaman aku beri gambar untuk diwarnai. mereka memang lebih tertarik mewarnai gambarnya ketimbang mengerjakan latihan yang sesungguhnya.

tapi mereka pasti mentgerjakannya, karena jika betul semua, mereka boleh memotong bagian kecil di ujung kiri bawah setiap halaman latihan.

every page is worth Rp.100 and if they collect at least ten coupon from ten pages, they can buy themselves some treat :D
setiap halaman bernilai Rp. 100 dan bila mereka mengumpulkan kupon dari 10 halaman, mereka bisa beli jajan yang lumayan.
Ibit said I was too stingy. Rp. 100 for ten to twenty numbers each page. but I don't think so. I never had to pay any single rupiah for all numbers of exercises Ibit has done. it's not about how much they've got, but how fun it was to get it.
kata Ibit aku pelit, Rp.100 untuk 10 - 20 nomor per halaman. tapi ga juga. aku malah ga pernah bayar serupiah pun untuk semua latihan yang dikerjakan Ibit. ini bukan soal berapa jumlahnya, tapi pasti senang memperolehnya.
beside, if I put Rp. 1000 in every coupon, I'll soon be broken!
lagian kalau tiap halaman bernilai Rp.1000, aku bisa cepet bangkrut!
note: $1,00 = Rp. 9700,00 (approximately)
Friday, July 3, 2009
end of academic year and loneliness
Tamat sudah. Paling tidak untuk tahun ini. Ar Ir sekarang bukan anak TK lagi. Mereka sudah puas di sana. Sekarang nunggu saatnya jadi anak SD. Aku sudah mendaftarkan mereka ke sekolah yang sama dengan Ibit. Dan Ibit bukan anak kelas 3 lagi, sekarnag kelas 4.
This is their last performance at their former school.
Ini penampilan terakhir mereka di sekolah mereka yang dulu.

And I took this picture of Ibit, before she go to school to perform in the graduation celebration for 6th grade at her school, singing with her band. The teacher told me she would perform at about 11.30AM. So I and Dan and the twins went from our house at 10.30. But when I got there, she just finished sang her song and was taking a bow.... Forgive me for being late, Bit...
Dan aku ambil gambar Ibit ini, sesaat sebelum berangkat ke sekolah untuk tampil bersama band-nya di acara akhirussanah dan pelepasan lulusan. Kata gurunya, Ibit akan tampil sekitar jam 11.30, jadi aku dan Dan dan kembar berangkat jam 10.30. Ternyata oh ternyata, ketika kami sampai di sana, Ibit baru saja menyelesaikan chorusnya dan sedang membungkuk menghormat..... Maaf Bit, Ibu telat...

SEKARANG......
It was all about two weeks ago. It's been a week since I drop my kids there in my parents house for holiday. I thought it would be fun to be just with Dan at home. It was, for a day and two. But the rest were oh so uncomfortable. I missed them, yes I do. Yesterday when I called them, Ar said, "I miss you, Ibu, I want to kiss you..."
Itu sudah hampir dua minggu yang lalu. Dan ini sudah seminggu sejak aku mengantar anak-anak ke rumah embah mereka buat liburan. Kupikir bakalan asyik berdua Dan aja di rumah. Tadinya iya, satu dua hari. Setelah itu... ga enak. Aku kangen sama anak-anak, banget. Kemaren waktu aku telpon mereka, Ar bilang, "Aku kangen Ibu, aku pengen dicium Ibu..."
Oh boy, how I miss you even more, and I miss kissing the smell of you under arms...
Oh boy, Ibu juga kangen kamu... banget. Dan Ibu kangen cium kelek kecut kalian....






















