Sunday, June 4, 2017

What I Want to Be When I Grew Up.

What?
Some kids have many answers, they change on the way as they see more professions. When I was a kid most answers from my friends were doctor, police officer, teacher, pilots, soldier, engineer. I can't remember mine though :))
I read somewhere in the Elementary School Garduation Book of my twin boys, Ar wrote he wanted to be a chef and Ir wanted to be a fireman. I wonder if they were serious but they just laughed, "I just wrote whatever crossed my mind."
Many parents may think being a chef or a fireman is not a cool idea. Not even good. Being an employee with a good career still seems to be what most parents want for their children. A certain salary, and status. But I think it is cool to want something out of the box.
.
Every Ramadhan my kids want us to make cookies (especially nastar) and it's not for Eid because they usually out before Eid. And we don't make it out of Ramadhan, because we want to keep it special that way.
Yesterday Ar asked me, "Are we making nastar this year?"
I have bought some ingredients but still haven't got the spirit to work on them. But I saw the enthusiasm in his question, so I answered, "Yes, I'm ready if you are."
I was still doing something with my sewing project, I asked him to start the cookie project. So while I was finishing mine, he started measuring and mixing and soon done with the dough. All by himself.
I and Ir helped him a little molding and baking the cookies.
.
I am not saying this is a sign. I'm just glad that my son is doing this happily. He might become a chef one day. That'll be cool.

Monday, May 29, 2017

Menjadi Manusia Penyayang.

Di Ubud Monkey Forest Bali, tahun lalu, menyalami kawan.

Malam hari di bulan puasa, kami berusaha untuk sholat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah kami. Setidaknya sampai mulai ada undangan buka bersama haha.. Untuk menuju masjid, kami melewati sebuah rumah yang memelihara beberapa ekor anjing, yang (salah satu atau beberapa) selalu menyalak jika ada pejalan kaki lewat di depan rumah tersebut.

Tadi malam, saat melewati rumah itu di perjalanan pulang, seperti biasa ada gonggongan menyapa kami. Kami tidak takut atau lari, karena anjing-anjing di rumah itu dikurung dalam kandang.
"Kasihan sebenarnya, anjing-anjing itu dikurung," kataku pada Ibit.
Ibit lalu bercerita, bertahun-tahun yang lalu ketika dia masih SD, di rumah itu hanya ada seekor anjing. Anjing itu kurus dan tampak tidak terurus. Waktu itu Ibit masih sering jalan kaki ke rumah temannya di dekat masjid.
"Kalau main ke rumah Nabila, aku bawa satu sosis dari rumah untuk anjing itu."
Anjing kurus itu, kata Ibit, harusnya gagah, seperti Timmy anjing anggota Lima Sekawan. Tapi kurus sampai terlihat tulangnya, dan bulunya kusut kusam.
Entah apakah anjing itu masih anjing yang sama sekarang, pasti sudah sangat tua. Entah apakah juga pemilik  yang sama. Kami tidak pernah melihat manusia pemiliknya.
.
Aku tidak akan tahu, kalau Ibit tidak bercerita tadi malam. Aku tidak tahu, kenapa Ibit baru bercerita sekarang. Mungkin dia takut aku melarang dia mengambil sosis untuk anjing. Padahal sekarang, aku hampir menitikkan air mata, haru dan bangga, karena anakku memiliki rasa iba pada makhluk yang menderita. Iya, makhluk yang oleh banyak orang dibenci karena najis.
.
"Kalau tidak najis, aku pengin memelihara anjing," kata Ibit.
Iya, aku juga. Karena anjing lebih cerdas dan lebih perasa ketimbang kucing. Sayangnya akan sangat repot buat kami untuk memelihara anjing tanpa merantai atau mengurungnya di kandang.
Maka cukuplah kami memelihara kucing. Dan aku yakin, ketika bahkan agama dapat dijadikan alasan permusuhan; berteman dengan binatang akan menumbuhkan kasih sayang. Bukan hanya pada sesama manusia (terlebih pada sesama manusia), tapi juga pada makhluk Tuhan lainnya.
Supaya jangan pernah terlintas sekelebatan pun di benak mereka, benci, apalagi kata 'bunuh'.

Thursday, May 11, 2017

(my) fear

1. I used to keep him away from crowd. crowd stresses him. and handling his tantrum in a crowd stresses me.
2. he doesn't like restaurant or any public meal places. he doesn't like to eat in public places. he would hide under a table. or walked away and stand in a corner. or worse: tantrum.
so I've been such a coward, fear to the stress, always chose to leave him at home with Nanny of I had to attend an event.
.
I can just keep him away from those discomfort. but that's a little bit inconvenience. and I thought it's another battle I should fight. so I started to bring him to event with few people, less noise. always keep an eye and notice when he starts to feel uncomfortable, time to get out.
he enjoys mall because there are many 'attractions'. colors and lamps.
he doesn't like loud sounds but, he enjoys music. he can stay for dew songs and gives applause after every song.
the key is building comfort zone in the middle of un comforts.
.
he's my hero today.
we attended a wedding party just both him and me. we started the trip with a little battle. he wanted to stay at home and play PS. he wanted me to stay at home too. then he let me go and he would stay. then he wanted to go with me. or play PS at home. or go with me. or stay at home. a little battle inside him that blew out. the tantrum still went on until about 20 minutes in the car as we were going out.
but it turned out great. he liked walking around and adore the decorations. he enjoyed the music. and, didn't refuse to eat.
.
fear will always be fear until
you face it.

Sunday, April 2, 2017

Latih dan Uji Nyali di Treetop Adventure Park



Sebenarnya sudah agak lama pengin main ke taman bermain tantangan ini, tapi musim hujan bukan waktu yang asik. Sebenarnya sekarang juga masih sisa-sisa musim hujan, tapi kebetulan kemarin pas cuaca sekedar mendung ringan sejak pagi sampai siang.

Treetop Adventure Park adalah arena permainan tantangan yang berlokasi di Wana Wisata pinus Kopeng, kurang lebih 30 menit dari Salatiga. Tiket masuk ke wana wisata IDR 12,5K ribu per orang, anak di bawah 2 tahun bebas bayar.

Tapi itu baru masuk hutannya. Baru dapat sejuk segar hutan dan bisa foto-foto di antara hutan pinus yang seksi.


Untuk bisa bermain di arena Treetop, ada charge lagi sebesar IDR 110 ribu untuk anak. Ndak dijelaskan batas anak dan dewasanya, tapi Ar Ir dan Ibit sudah masuk kategori dewasa dengan charge IDR 160 ribuMahal ya? Iya. Kesannya. Tapi bayangkan. Pernah main di arena flying fox? Berapa tiketnya? Rata-rata sepuluh ribu ya.

Nah Treetop punya delapan sirkuit mulai dari level paling mudah dan pendek hingga yang paling sulit dan panjang. Jika dihitung rata-rata per sirkuit IDR 20 ribu, jatuhnya sangat murah. Keamanan pun sangat diperhatikan. Pirantinya standar, dan selalu ada satu guide yang mendampingi satu tim.




Anak-anak usia 4-8 tahun sudah boleh main di sirkuit kuning. Ada syarat tinggi yang harus dipenuhi. Tidak dicantumkan berapa senti, tapi ada garis setinggi kurang lebih 1,5 meter yang harus bisa diraih. Sepertinya itu setinggi tali pegangan di arena tantangan. Kebetulan Aik sudah sedikit melampui batas minimal.

Sebelum mulai bermain, petugas akan membantu memasang alat keselamatan, dan menjelaskan cara penggunaan dua alat bantu utama, yaitu dua buah kait pengaman (carabiner) dan satu kait yang digunakan untuk meluncur. Tangan Aik masih terlalu lemah untuk menbuka tutup carabiner, meski sudah diganti yang kecil dan lebih mudah. Jadi aku harus mendampingi sepanjang arena, membantu memasang dan melepas carabiner di tali yang sudah ditandai.

Awalnya Aik menolak memanjat. Lalu mas petugasnya mengajak Aik mengayun sebentar di tali, di dorong ke sana kemari meluncur perlahan. Ternyata berhasil lho, Aik jadi berani. Awalnya agak takut, enggan melepas pegangan tanganku, bahkan berhenti dan menolak lanjut. Tapi pelan-pelan akhirnya dia berhasil menyelesaikan sirkuit awal.


Melihat kakak-kakaknya lanjut ke sirkuit level berikut, Aik ingin ikut. Tapi aku yang ndak berani melepas. Selain lebih tinggi dari tanah, tantangannya juga lebih sulit. Daripada emaknya sport jantung, Aik kuajak saja mengulang lagi sirkuit kuning.
Dan ekspresi di bagian akhir yaitu zip line; so precious!



Danang tidak ikut naik. Dia punya sedikit takut ketinggian. Dan meskipun sudah sangat jauh berkurang, sepertinya masih ragu untuk bergabung. Well, jadi kami punya tukang foto khusus :D

Susah ngambil gambar Ar Ir dan Ibit dengan wajah penuh, karena cuma pakai hand phone. Kameranya ndak kebawa. Mereka sih ndak perlu disemangati, sudah antusias mencoba dan lanjut ke level berikutnya dan berikutnya dan berikutnya...






Setelah mendampingi Aik, aku bisa menyelesaikan sirkuit kedua. Di sirkuit ketiga aku menyerah di ayunan tarzan. Aku tidak takut ketinggian, tapi jantungku tidak siap diayun mendadak... Mas petugas meyakinkan aku bisa, dan berani, dan aman. Tapi maaf, aku mengecewakan kepercayaannya.





Waktu dua jam yang disediakan ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh sirkuit. Ibit, Ar, dan Ir baru selesai di sirkuit ke-tujuh tepat ketika ada pemberitahuan bahwa waktu habis. Well, semoga kapan-kapan bisa dilanjutkan sampai tuntas!



Thursday, March 16, 2017

Grocery Shopping Time!

Grocery shopping has become one of Aik's favorite activity. Last time we shopped I got him involved instead of letting him run here and there around the store. He pushed the trolly and helped me get the things we needed to buy.
Now as he is in the next step or learning to read, I want to combine the fun of shopping with reading. 

I made him a list of what he had to buy.

So while Ibit did the real shopping with the real list, I accompanied Aik did his shopping. He read the list top down and pick each thing.

Here we go!

Telur - Egg
For a while I thought it was a mistake to put 'egg' on the list. But well we managed to bring the eggs home safely :D

Roti - Bread
Yes that phenomenal brand. We are not endorsing but that's what he likes and I really don't think it is haram.

Tisu - Tissue

Susu - Milk
Well actually it was supposed to be 'susu kental manis coklat' but I didn't want to weigh him with  long name of the item :D

Biskuit - Biscuit
And he reminded me the label as I have drawn on the list

Cashier.
The cashier man seemed so happy to see Aik and his list. I think he knew that I usually bring my own shopping bag so he asked me 'Is it okay to use a plastic bag?' when I told him that I forgot to bring a shopping bag.We brought one but it was for Ibit's shopping. So, well, fine, we used plastic bag.

Shopping done!

We have to do this again some other time, shall we?

Sunday, March 5, 2017

Beyond Expectation


Hari ini jadwal konsultasi dengan psikolog setelah 2 sesi assesment bulan lalu. Sejak menerima jadwal dua hari yang lalu, hati rasa siap tak siap. Bagaimana nanti hasilnya. Apa yang akan dikatakan Bu Lita. Aku takut jangan-jangan apa yang selama ini kulakukan belum maksimal. Aku takut mendengar, 'You could've done better!'

Di luar dugaan, semua yang disampaikan tentang hasil assesment adalah positif. Perkembangan Aik luar biasa, bukan sekedar sesuai harapan. Segala usaha kami sekeluarga (dan dukungan kerabat dan sahabat) sudah bagus dan harus terus dilanjutkan. Senang sekali, Bu Lita pendengar yang baik, penuh empati, dan memberi banyak masukan untuk bisa mendampingi Aik lebih baik.

Dengan usia mental 3 tahun dalam usia fisik 6,5 tahun, aku tahu banyak yang akan mengernyit alis atau mencibir. Mungkin hanya yang paham betul keadaan Aik yang bisa mengerti. Tapi sayangnya tidak semua orang di sekitarku begitu. Sekarang yang jadi PR-ku adalah 'tidak mendengarkan omongan negatif, judging, dan sok tahu.'

Sebenarnya, aku selalu (justru) merasa terbebani setiap ada yang bilang 'tuhan tahu pada siapa Aik harus dititipkan.' Tapi tadi Bu Lita menyampaikan gembira, bahwa aku dan Dan yang menjadi orang tua Aik. Oh Tuhan. Aku ini apalah-apalah. Dan aku sukses nangis di hadapan beliau karena aku merasa tidak berhak dianggap sehebat itu.
.
Kalaupun ada yang menganggap usaha kami belum cukup, yang jelas kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Demi Aik.

Monday, January 16, 2017

good night...

>
> - Good nite, Aik.
> + Good nite, Mami.
> ...
> + Mami bobok?
> - Iya... Aik bobok...
> + Mami lima, Aik enam...
> - Apa yang lima enam?
> + Mami jam lima, Aik jam enam
> - Oh! Mami bangun jam lima, Aik bangun jam enam?
> - Iya...
> + Oke...
> - Oke...