Tuesday, January 14, 2020

Yogya Trip with Aik

Sabtu lalu Dan harus hadir di resepsi pernikahan anak relasinya di Yogya. Acaranya malam. Kalau langsung pulang kok kasihan. Jadi aku sarankan dia menginap saja. Tapi aku ikut.
Akhirnya aku dan Aik ikut. Kami menginap di salah satu hotel tidak jauh dari hotel tempat resepsi. Yang terpenting buat Aik, ada liftnya.
Tidak ada yang istimewa di acara resepsinya, kecuali bahwa bunga-bunga yang dipasang adalah bunga plastik. Ini membuatku terhibur karena, dulu pernah ada yang sedikit merendahkan acara nikahanku yang pakai dekorasi bunga plastik, dan memamerkan resepsi nikahannya yang 'seluruh bunga di ruang resepsi ini asli lho!' Halo, ini adalah hajatan seorang direktur BUMN, pakai bunga plastik, dan nggak masalah.
Yang lebih penting adalah acara minggu pagi sampai sorenya.
***
Kami sudah keluar dari hotel pukul 08.00, Taman Pintar belum buka, jadi kami jalan dulu ke Benteng Vredeburg. Hm... hm... hm.. di sini kayanya aku dan Dan yang lebih menikmati. Tiba-tiba aku paham isi Perjanjian Renville, yang waktu pelajaran Sejaran di SMP-SMA terasa susah banget untuk nyantol di kepala...
Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Danang Sukendro, orang tersenyum, orang duduk dan luar ruangan
Agak siang kami jalan kaki sedikit menuju Taman Pintar. Kami berharap Aik bisa menikmati kunjungan di sana.

Dia terdiam sesaat di titik ini sebelum melanjutkan perjalanan. Dari semua isi Taman Pintar yang dijelajahi, paling betah di daerah Fisika. Nggak terlalu tertarik dengan dinosaurus dan ikan. Hm... hm... hm.... Kamu sukanya apa sih Nak?
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang berdiri

Di rumah, malam sebelum tidur, aku pancing Aik untuk mengingat binatang-binatang yang dia lihat di Gembira Loka. Tapi ogah-ogahan banget jawabnya, bahkan sempat keluar jawaban andalan, ‘nggak tau.’
Akhirnya aku pura-pura mengingat. Ternyata dia menyahut.
Gajahnya ada.... berapa ya?
‘Dua.’
Crocodile ada berapa?
‘Tujuh.’
Ada swan warna...
‘Putih.’
Ada harimau.
‘Warna orange, asleep. Ada bola merah.’ (Di kolam dalam kandangnya, mungkin untuk mainan).
Ada monkey nggak ya?
'Monkey awake. Not asleep.'
Mami lihat flamingo ijo.
‘Eh salah, pink.’
Aku berhenti.
Dia bukan tidak ingat, tapi sedang males. Mungkin saking capeknya. Jadi aku ucapkan ‘good night.’

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri dan luar ruangan

Sepertinya ide bagus juga untuk lain kali mengajak Aik jalan-jalan lagi. Yang penting jangan sampai kecapekan karena terlalu banyak jalan kaki, perutnya sepertinya yang nggak kuat. 

Wednesday, October 2, 2019

Kuda

Minggu pagi kemarin kami mengajak Aik ke CFD Simpang Lima, sekalian mengantar Ar yang mau tampil bersama grup angklung sekolahnya. Sambil jalan aku menawari Aik untuk naik delman, ‘Aik mau naik kuda?’
Memang tidak pernah bisa diduga hal apa yang bisa mengacau mood Aik. Pertanyaan itu membuat dia tantrum sepanjang hari. ‘Tidak naik kuda! Naik kuda tidak mau!’ Kalimat itu diulang terus, meskipun kami sudah bilang ‘Tidak.’ Meskipun sudah dijawab, bahwa kalau Aik tidak mau, ya tidak usah naik kuda.
Beberapa saat tenang, tiba-tiba muncul lagi.  Begitu terus sampai saat akan tidur siang, setelah bangun, sepulang mengaji, bahkan sampai saat makan malam di rumah.
Sebelum tidur, di kasurnya, dia mulai lagi. Aku sudah resah, karena kalau dia berangkat tidur dalam tantrum, tidurnya tidak akan tenang, bangunnya pun rewel.
“Mami...”
“Ya...”
“Aik tidak naik kuda.”
“Tidak. Sudah selesai. Kita sudah pulang. Tidak naik kuda.”
Kupikir dia akan mulai menangis lagi. Tapi ternyata.
“Mami nyanyi.”
“Nyanyi apa?”
“Pada hari minggu.”
Ya Tuhan.
“Mami nyanyi aja. Aik tidak naik kuda.”
Aku menyanyi lagu Naik Delman. Aik ikut berteriak ‘hey!’ dan tik tak tik tuk.
Sesudahnya dia tersenyum. Tenang. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kekacauan.
“Good night Aik”
“Good night Mami.”
Lampu kamarnya kupadamkan. Aku keluar. Kurasa dia segera tidur, tidak lama setelah kutinggalkan.


Sunday, July 7, 2019

Determination

Last month we joined a group camp with Aik's school at Mount Ungaran, as a media to get to know each other and built better communications between parents and families. The plan was to stay one night and hike to the peak in the early morning.


I didn’t expect Aik to finish the hike, but he looked so enthusiastic. He kept walking following other hikers in the group. 

Suddenly at the beginning of the last part from Pos 3 to Pos 4, he had an uncontrollable shit. We helped him cleaning up and continued walking to Pos 4, where it happened again. Thank God we brought some clothes in our backpack.

So I and Dan decided to stop, turned around and walked down. People say we should have kept going up because it was like just a throwing stone away. But no. I thought it was too late already. I should’ve seen that Aik’s body was not ready.


It has been beyond expectation. So we thought we better stop now and try again some other day. With a better preparation and may be don’t let Aik walk fully. We can carry him at some parts so the hike won’t press him too much and we can reach the peak safely.

Sunday, June 9, 2019

Buka Bersama 2019


bersama Grup Klenongan. ini salah satu bukber yang paling dinanti. masih menunggu tambah anggota baru. tidak tidak, bukan tambahan dari luar. tapi tambahan dari dalam grup ini sendiri. ah, kalian tahu maksudku kan?


di kampung. jumlah warga di RT kami cuma 20-an KK. jadinya terasa berat kalau RW menetapkan iuran per RT dengan jumlah nominal sama, RT lain bisa sampai 70-an KK. tapi justru kami jadi semacam keluarga besar. rukun. saling sayang. kompak. toleransi atas banyak perbedaan (bukan hanya agama dan ras) sangat membahagiakan.


bersama teman-teman yoga di EM Studio. sebenarnya bukan ini saja member yoga di EM. tapi cuma ini yang bisa mengklopkan waktu. tidak ada yang menghalangi keseruan.


di keluarga besarku. sebenarnya hampir lengkap. tapi ini yang masuk frame hanya sekitar setengahnya. pada ke mana sih ya...


bersama kawan musisi puisi Swaranabya. sekalian reunian setelah tiga tahun LDR-an dan kangen juga sama soul mate kita, Biscuittime.


bersama mantan bloggers yang tergabung di komunitas Loenpia. entah berapa persen yang masih ngeblog. tapi udah kadung bertahun akrab. apakah perlu ganti judul deskripsi grup?


it's not where you do it, but who are you with. I thank everyone who has been good friends and family without judgements. I love you all, hope we can do more of this in the next years.

What Makes Me (Not) A Good Mom



First day work after Eid holidays, but the kids are still in holidays until this upcoming weekend.
My friend woke up early at 3 AM and cook for breakfast and lunch for her kids. This is what I prepared for breakfast. I cooked rice in the cooker for lunch — with beef floss in the jar and kids can fry eggs if they want to.

How was your Eid?
I might write a recap in the next post. hope I have energy for it.

Thursday, May 23, 2019

Have Faith

Januari 2018, ketika membawa Aik konsul ke psikolog sebelum mendaftarkan Aik ke SD, yang kudapat bukan apa yang kuharapkan. Psikolog yang biasa menangani Aik sedang melanjutkan studi di UGM, tidak bisa ditunggu. Semua tugasnya dialihkan ke psikolog lain yang, lebih muda, imut, dan tampak sedikit rebel.
Aku tidak terlalu puas dengan hasil evaluasinya, karena tes diserahkan pada asisten, wawancara denganku pun oleh asisten. Ketika muncul hasil, aku pengin tertawa sekaligus marah karena nilai kemampuan komunikasi Aik ditulis setara dengan anak satu tahun 2 bulan. Jelas tidak masuk akal, karena pada saat itu Aik sudah dapat berkomunikasi walau patah-patah. Psikolog sebelumnya sudah tidak lagi menghitung jumlah kata yang dikuasai karena sudah jauh di atas 100 kata. Aku minta penjelasan bagaimana bisa muncul kesimpulan seperti itu.
Mbak Psikolog mengeluarkan catatan pengamatannya. Menjelaskan bahwa nilai kemampuan komunikasi adalah agregat dari nilai beberapa kemampuan lainnya, yang kemudian dihitung dengan rumus tertentu. Dia menunjukkan komponennya, dan nilainya. Aku lupa di komponen apa, ada yang dicatat kemampuan Aik setara dengan bayi 3 bulan. Come on.
"Tiga bulan? Serius?"
Aku minta tes diulang, tapi ditolak. Entah tersinggung entah malu, Mbak Psikolog menutup semua hasil tes, dan dengan keras tegas berkata, "Oke mungkin ada sedikit kekeliruan di tes ini. Tapi hasil secara keseluruhan kemampuan Aik masih jauh di bawah usianya sekarang."
Bahwa aku punya PR yang sangat banyak. Bahwa aku harus bekerja sangat keras mengejar ketertinggalan. Bahwa Aik belum siap masuk SD. Kemampuan verbalnya rendah. Kognitifnya rendah. Motoriknya jelek.
"Dia belum bisa menulis. Apa ada sekolah dasar yang membolehkan anak tidak menulis? Bagaimana nanti saat tes? Apa dia mau mengerjakan? Apa dia mampu mengerjakan?"
Jika aku ngotot memasukkan Aik ke sekolah umum, itu hanya sekedar main-main. Aku harus siap jika dia tidak naik kelas. Aku bahkan harus siap jika sekolah menganggap Aik tidak bisa mengikuti sistem pembelajaran dan harus mencari sekolah khusus.
Pulang dari kantor psikolog bukan merasa ringan, aku justru merasa lebih banyak beban. Rekomendasi dari Si Mbak 'dapat mendaftar ke sekolah dasar dengan didampingi shadow teacher.'
It's okay. Saat itu memang itu saja yang dibutuhkan.
Ini beda banget dengan yang kurasakan setiap konsul dengan psikolog sebelumnya. Yang selalu tampak antusias dengan perkembangan Aik sekecil apa pun. Yang selalu menyemangati aku dengan kata-kata yang menyenangkan. Bukan 'selama ini ibu kurang memberikan stimulan.'
Aku senang Si Mbak bilang bahwa Aik belum butuh konsul lagi sampai dua tahun kemudian. Oh ya, aku juga males ketemu dia kurang dari itu. Dua tahun lagi mungkin psikolog sebelumnya sudah kembali bertugas.
***
Sekitar dua tahun lalu ketika survey sekolah untuk Aik, di salah satu sekolah yang kami datangi, Ibu Guru yang menerima kami walaupun ramah tapi tampak kurang terbuka. Aku merasakan penilaian yang 'kurang' terhadap Aik. Dari awal menyampaikan lebih banyak pesimisme ketimbang optimisme. Entah aku yang sensi atau memang dia ingin secara tersirat menyampaikan 'sebenarnya kami males menerima ABK.' Karena yang dicontohkan adalah siswa ABK yang dikembalikan kepada orang tua (baca: dikeluarkan dengan baik-baik), alasannya karena kurangnya kerjasama dari orang tua dalam aktivitas belajar di sekolah.
"Kita nggak bisa berharap anak-anak seperti ini tumbuh seperti anak-anak normal," katanya. Tidak boleh berharap Aik bisa mengikuti pelajaran dan sekolah tinggi, hanya fokus melatih anak untuk mandiri.
"Oh," jawabku, "saya siap jika Aik tidak bisa sekolah tinggi. Saya menyiapkan dia jadi foto model atau bintang film.
"Bu Guru tertawa.
"Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" tanyaku, "Dia punya modal. Dan kalau ga bisa jadi dokter apa salahnya jadi model?"
Bu Guru berhenti tertawa, dan aku memutuskan tidak akan menyekolahkan Aik di situ.
***
Seperti biasa, keraguan bukan datang dari satu dua orang. Aku bahkan merasa cuma aku yang yakin Aik bisa belajar di sekolah umum. Jelas bukan di SD Negeri yang ratio guru banding muridnya terlalu kecil. Tapi bahkan sekolah swasta pun hampir semua memberi sinyal tidak bisa.
Mbahnya selalu bertanya, "Aik bisa ngikuti pelajaran?"
Mbah yang lain bahkan bilang, "Kalau Aik tidak bisa ngikuti jangan dipaksa tetep sekolah..."
What the hell.
Aku sudah lama belajar, dan meyakini bahwa aku lebih baik berjuang sendiri. Karena orang-orang yang diharapkan untuk mendukung bukannya mendukung. Sudah lama aku belajar mengabaikan. Tapi tetap saja kadang sikap mereka itu seperti duri beracun di sepanjang perjalanan.
I wish I have written a journal about how school has been going on.
Bagaimana melatih Aik bersikap dan merespon sikap orang lain di sekolah. Bagaimana memberikan pemahaman kepada Aik bahwa dia harus mengikuti semua kegiatan.
Oh iya, aku sempat mencatat UAS pertama Aik. Ya... hal-hal tak terduga seperti itu sering terjadi. Yang menurut kita sepele tapi sebenarnya prinsip...
***
Minggu ini UKK. Dengan jadwal yang padat jelang lebaran, aku tidak yakin ada dispensasi remidi. Lebih berat lagi karena tes dilaksanakan di bulan puasa. Di sekolah, Bu Guru berpesan agar anak-anak berpuasa, sahur jam 3 pagi dan tidak boleh tidur lagi. Banyak salat di masjid. Dan semua pesan Bu Guru itu dilaksanakan oleh Aik. Salat 5 waktu ngajak ke masjid. Bangun sahur jam setengah empat, nunggu subuh dan salat di masjid, lalu melek sampai berangkat sekolah. Karena jadwal belajar tidak berubah, tetap sampai dhuhur, pulang sekolah langsung pindah ke sekolah khusus. Pulang sore, main sebentar, buka. Lalu taraweh di masjid, tidur tetap pukul sembilan.
Akhirnya aku putuskan selama UKK tidak ke sekolah khusus dulu. Pulang sekolah SD langsung makan dan tidur siang. Iya, aku tidak mau memaksa Aik puasa penuh. Walau ibu-ibu di grup whatsapp dengan bangga menceritakan teman-teman Aik sudah puasa penuh, aku tidak peduli. Walau mereka terus memotivasi, aku tidak peduli.
Selain mulai mengajak Aik belajar intensif sejak seminggu sebelum tes, program utamaku adalah menjaga kondisi tubuh Aik baik. Ngantuk dan capek akan merusak mood, yang berarti akan sulit mengajaknya mengerjakan tes.
Hari pertama UKK Aik mengantuk dan beberapa kali diajak cuci muka. Walaupun harus pakai dipush, dua mata pelajaran selesai dikerjakan.
Hari kedua, shadow teacher mengirim kabar gembira. Aik mengerjakan soal dengan lancar jaya. Tidak mengantuk. Tidak menolak. Bahkan membaca sendiri dan langsung mengerjakan tanpa harus diingatkan.
***

Hai, kenalkan Aik. Hampir 9, sudah bisa menggunakan imbuhan -nya. Sudah bisa bertanya apa, siapa, mana. Sudah bisa berlari. Sudah bisa banyak hal yang orang-orang pikir dia belum atau mungkin tidak akan bisa. Baru saja selesai UKK. Iya, membaca dan mengerjakan soal seperti teman-teman sekelasnya yang kebanyakan orang sebut 'normal'. Sebagai hadiahnya, nanti sore diajak jalan-jalan ke G Fan.


Friday, May 3, 2019

One Step At A Time

And every one takes their own time.

Pencapaian minggu ini adalah, Aik sudah bisa antusias terhadap kegiatan sekolah. Yang pertama Mabit (menginap di sekolah). Sejak pulang sekolah sehari sebelum Mabit, sudah semangat menyiapkan barang-barang yang harus dibawa. Daftarnya ditulis sendiri (tentu dengan didikte Bu Guru) di buku tugasnya. Bukan hanya tidak menolak, tapi justru semangat. "Besok bobok di kantor (maksudnya ruang kantor) sama teman-teman. Bangun pagi jam empat sholat."

Kemarin antusias berangkat outing ke Candi Gedongsong. Sore hari mengajak ke Toko ADA, mau beli Oreo untuk bekal outing. Semua keperluan juga disiapkan sendiri. Yang bikin semangat (sepertinya) karena ada kata 'Songo'. "Candi ada berapa? Sembilan?" tanya dia. Kubilang, "Besok dihitung ya."

Karena bakalan jalan jauh dan medannya lumayan berat, aku pastikan dia pakai sepatu dengan support untuk telapak kakinya yang agak flat. Biar nggak cepat lelah. Doanya jangan hujan. Karena sepatunya kain, kalau hujan harus ganti sepatu sandal gendut yang karet. Tanpa support.

Alhamdulillah cuaca mendung syahdu sampai pulang. Kata gurunya, Aik yang paling semangat berjalan, sementara teman-temannya sudah kelelahan.


Dia tidak tanya kenapa, di Candi Gedong Songo cuma ada enam candi.