Monday, December 17, 2018

The Paths

We plan. We hope. We wish. But we never know which paths our children go.

Watching them growing is like watching a fast-forwarded movie. Suddenly they're here. I've shown them many doors, and they show me many other doors I didn't know. But I let them follow their hearts, their passions.

They choose the door. The path. I'm grateful that I am given the chance to witness them in these moments. And like many moments before since they were babies, my eyes are never outta tears of joy.

Ibit: Choir

Ar: mountaineers

Ir: Flag Raisers Troop.

Wednesday, November 28, 2018

UAS Pertama Aik

Dalam sejarah menjadi ibu, baru kali ini aku merasakan 'anaknya yang tes ibunya yang stres'
Dengan Ibit, Ar, dan Ir, menemani mereka belajar hanya memastikan mereka belajar. Membantu sedikit yang mereka tida paham dan kutahu. Waktu SD, aku masih bisa mengajari sendiri pelajaran-pelajaran yang akan diteskan. Mulai SMP aku minta tolong guru les untuk datang ke rumah. Di SMA Ibit lebih nyaman ikut bimbingan belajar, sementara Ar dan Ir tetap memilih privat di rumah. Tapi soal belajar selama tes, aku benar-benar hanya 'mengawasi'.

Ini semester pertama Aik di SD, Ulangan Akhir Semester pertama buatnya. Juga buatku. See, metode belajar buat Aik selalu harus beda. Ya sebenarnya metode belajar yang efektif untuk tiap anak bisa saja berbeda. Bahkan Ar dan Ir yang notabene terbikin dari satu telur pun perlu pendekatan yang berbeda untuk bisa paham. Tapi Aik ini benar-benar beda. Maksudku... beda. Sudut pandangnya terhadap segala sesuatu sering membatasi jalan baginya untuk memahami sesuatu. Paham kan maksudku? Tidak. Ya... pokoknya begitu lah. Jadi tantangan bagiku adalah menemukan jalan itu, sudut pandang itu. Sekali ketemu, akan mudah baginya memahami apa yang diajarkan.

Sistem belajar tematik di sekolahnya, menggabungkan semua mata pelajaran dalam satu tema. Jadi materi ulangan dalam satu hari bukan satu mata pelajaran, tapi satu tema. Misalnya hari pertama, temanya My Body. Di situ sudah tercakup IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Agama, semua tentang my body. Sejauh ini Aik tidak kesulitan dengan Matematika dan Bahasa Inggris. Hal-hal yang bersifat hafalan juga lebih mudah dia kuasai. Yang jadi tantangan adalah hal-hal yang perlu menarik kesimpulan. Sudut pandang Aik yang unik, yang kubilang tadi, membuat logika dia juga beda. Dan susah mengajaknya berlogika seperti kebanyakan orang.

Sebenarnya, aku menanamkan kebiasaan pada anakku untuk tiap hari belajar, mengulang lagi apa-apa yang dipelajari di sekolah, sehingga ketika mau ulangan atau bahkan semesteran, yang judulnya belajar bukan lagi belajar dari nol tapi tinggal refresh. Ke Aik pun begitu. Belajar untuk Aik lebih 'menyebar' lagi. Bukan hanya setiap hari, tapi setiap saat dan tanpa terasa belajar. Bisa di tengah main aku ajak mengingat Rukun Iman. Atau sebelum baca doa tidur mengingat hadits tentang memberi hadiah. Tapi aku tetap merasa perlu untuk refresh semua dalam satu kali duduk untuk persiapan tes.

Hari Pertama.
Catatan belajar. Aku fokus pada mempelajari kata-kata Bahasa Jawa untuk anggota tubuh dalam ngoko dan krama inggil. Aku menggunakan metode identifikasi dengan kartu, seperti yang dipakai di tempat terapi. It worked. Aik hapal semua pasangan kata dalam Bahasa Indonesia - Jawa (ngoko dan krama inggil) - English. Yang lupa kuantisipasi, identifikasi dan penggolongan kelompok kata-kata dalam setiap bahasa. Walhasil, pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku tes sekilas hasil belajar malam sebelumnya. "Apa Bahasa Inggrisnya tangan?" Jawabnya, "Asta." Asta adalah 'tangan' dalam bahasa krama inggil. Jadi... sehari-hari Aik suka-suka ngomong pakai Bahasa Inggris tanpa menyadari (dan kubiarkan tanpa kukenalkan) bahwa itu Bahasa Inggris. Jadi dia pikir ya dia itu bahasa aja, alat bicara, tidak peduli bahasa apa. Memang malamnya aku bilang 'kita belajar Bahasa Jawa', kemudian sekilas menunjukkan padanya bahwa 'hands, foot' dan teman-temannya adalah Bahasa Inggris. Tapi sepertinya yang tertancap di kepalanya adalah 'Bahasa Inggris' dan kata-kata baru yang dia pelajari, kata-kata Bahasa Jawa. Tapi tidak ada waktu untuk memperbaiki. Jadi kulepas dia berangkat sekolah sambil tertawa.

Catatan tes. Guru kelas maupun shadow teachernya, sore harinya melaporkan hal yang sama. Aik menolak mengerjakan soal tes. Dua-duanya bilang 'mood Aik jelek sekali hari ini.'
Oke oke. Aku menduga itu monday sicknessnya yang parah. Karena berangkat sekolah tiap Senin memang pertarungan. Libur di Sabtu dan Minggu bikin Senin terasa neraka.
Kata shadow teacher, setiap dibacakan soal Aik langsung jengah dan menolak. Padahal belum sampai ke bagian favorit Aik, Matematika dan Bahasa Inggris. Hanya 7 dari 30 soal yang dikerjakan. Oh wow.
Akhirnya kuminta ijin pada guru kelas, untuk hari kedua mengerjakan mulai dari Bahasa Inggris dan Matematika agar dia gembira dan moodnya lebih bagus untuk mengerjakan soal lainnya.


Hari Kedua.

Catatan belajar. Aku memastikan tambahan identifikasi. Pengelompokan bahasa. Tidak ada yang berbeda dengan yang lainnya.

Catatan tes. Aik mengerjakan soal mulai dari English dan Matematika. Moodnya lebih bagus, tapi... tetap menolak mengerjakan selain dua pelajaran itu. Setelah dibujuk gurunya dan disemangati teman-temannya, 11 dari 30 soal. Progress, but, not enough. Shadow teacher bilang dia sudah membacakan setiap soal dan bahkan (dengan seijin guru kelas) menuliskan operasional matematika dari soal cerita. Oh no. Ini tidak benar. Aku minta Bu Shadow untuk membiarkan Aik membaca dan memahami sendiri soal ceritanya. Kalau dia kesulitan baru dibantu. Jangan dari awal disuapi.
Tantangan utama adalah membuat Aik mau mengerjakan semua soal. Dan karena aku tidak terlibat langsung di arena, pertempuran harus dilakukan oleh guru-gurunya, sementara aku dari jarak jauh cuma bisa memberi masukan dan berdoa.

Hari Ketiga.

Catatan belajar. Malam ini aku mencoba memberi Aik simulasi soal. Jadi bukan sekedar mengulang pelajaran. God I should have been doing this since the beginning!
Aku menyiapkan soal pilihan ganda. Aku minta dia baca sendiri. Dan menuliskan sendiri operasional matematikanya. No Problem. Tapi Aik menolak menyilang jawaban yang benar.
'X salah. Ini benar. Benar tidak boleh X'
Oh my God. Silang adalah tanda salah. Kenapa jawaban benar harus disilang?
'Dilingkari boleh?' tanyaku.
'Boleh,' katanya.
Aku langsung kontak kedua gurunya tentang ini. 'Besok dilingkari saja, kalau begitu,' kata Bu Guru.



Catatan Tes.
Aik mengerjakan tes dengan gembira. Membaca sendiri dan tidak dituntuni. Selesai 21 dari 30 soal.

Catatanku untuk Shadow Teacher: kita (termasuk saya) sering underestimate Aik. Padahal yang dibutuhkan Aik adalah kepercayaan bahwa dia bisa. Bukan ketidakpercayaan dan uluran bantuan untuk hal yang tidak dia butuhkan.

Masih ada kesempatan untuk menyelesaikan dua materi tes tema sebelumnya yang belum tuntas. Ini salah satu hal yang kusuka dari sekolah tempat Aik belajar. Di kelas awal, anak benar-benar dibikin nyaman, dijauhkan dari stres, dibikin gembira. Guru berusaha mengenali dan mengikuti cara belajar yang efektif untuk tiap anak, terlebih ABK.

Seperti janjiku pada diri sendiri, pada Aik, pada psikolognya Aik, pada Bapakku. Aku tidak menargetkan apa pun untuk Aik selama sekolah. Aku hanya meminta dan berusaha memaksimalkan yang ada pada diri Aik. Semoga dimudahkan. Dan diberi kesabaran. Ya Tuhan!

Monday, June 25, 2018

The Graduates

A late post.

So this year all my kids are having their last years. Ibit in High School, Ar and Ir in Junior High, and Aik in Kindergarten. It's been a roller coaster to all. Now as we got down, we are ready for a more challenging one. I am a proud Mama of these graduates. They've struggled and done their best. I couldn't demand more.
All we wish now is a good luck for all. We will do this.



Wednesday, May 30, 2018

Not Afraid of Dentist!

I can never guess (other than what I have known before) what he likes, doesn't like. What makes him uncomfortable. Cutting nails is still an issue untill now, so going to dentist for tooth extraction was a huge worry for me. Finding two teeth had to be extracted was like another bad dream but like always, I had to face.
We visited a dentist once before to check how his teeth were (the result was 'very good' because he brushes hes teeth and doesn't like sweets) and he was quite comfortable with the dentist. He likes the chair, the lamp, the water crane and everything in the dentist room.
So it wasn't too hard to make him sit and open his mouth, until the dentist put some anesthesia and work with her tool. He started screaming, tried to break loose, cried. I and the nurse had to hold him tighter until it was done.



A week after this, we found that another tooth has to be extracted. I was afraid that he would refuse to even just to go to the dentist. But he didn't.  I tried my best to explain that his tooth was shaking and had to be pulled. Mami could do but it might be hurt. The dentist would do better and less hurt. He came to the dentist (again) happily and didn't cry as much as last week.
I understand (well I try to!) how hard it is to be Aik. He has to work harder to learn every thing. Fights harder for the things he doesn't understand. Not that I never try to make him do. But it is really harder to explain things too.
I'm so proud of him that he has learned the  most important thing, he has to accept so many things he doesn't want to. He often whin, seem deppressed (that's when I have to prevent this from happening, which is also so hard because some times it is me who get deppressed...). I hope that slowly he will learn that his struggle will be paid off.


Tuesday, August 15, 2017

Tidak Takut Suntik!

Sejak punya bayi pertama kali, aku menganggap imunisasi itu penting. Seingatku, dulu adem ayem saja tidak ada pro kontra. Makin ke sini punya bayi makin rumit. Soal ASI diributkan. Soal MPASI jadi ramai. Soal imunisasi jadi pro-kontra. Bahkan soal melahirkan spontan atau sesar pun jadi versusan.

So.

Aku masih termasuk ibu-ibu yang menganggap imunisasi itu penting. Yang tidak mau, dengan dalih agama atau pun kesehatan atau persediaan danau orang Yahudi, ya silakan. 

Lepas dari semua itu, yang terpenting adalah, ternyata Aik tidak menangis sama sekali waktu disuntik imunisasi di sekolah!

Mengingat Aik tidak dengan mudah membiarkan orang lain menyentuhnya, kecuali untuk hal yang pasti-pasti (memandikan, membantu pipis, sikat gigi), jelas aku khawatir Bu Dokter dan Bu Guru di sekolah akan kesulitan memegangi Aik saat disuntik. Lha gimana, periksa di Bu Bidan saat pans batuk pilek aja susah. Apalagi aku tidak bisa datang ke sekolah untuk mendampingi.

Maka pagi sebelum berangkat sekolah, aku 'sosialisasi' ke Aik tentang suntik menyuntik ini. Harusnya malam sebelum tidur sih, momen yang biasanya paling nyaman untuk ngobrol dan bermain. Tapi semalam lupa, jadi ya sudah paginya saja, sebelum aku berangkat kerja.

Aik baru bangun tidur dan masih kriyip-kriyip. Waktu aku katakan padanya bahwa nanti di sekolah dia harus suntik, ya dia 'iya - iya' saja. Tapi iya yang sambil kriyip-kriyip itu kok kurang mantab. Apalagi Aik belum pernah tahu apa itu suntik.

Untungnya kami punya spuit kecil yang dulu dipakai untuk memberi minum susu pada anak-anak kucing yang tidak mau menyusu ke ibunya. Jadilah kami main dokter-dokteran sebentar. Aku minta Aik untuk 'menyuntik'-ku, dan gantian aku 'menyuntik' Aik. Agak males-malesan juga dia, karena masih ngantuk. Tapi yang penting dia mengenal aktivitas itu, dan tahu bahwa itu 'tidak sakit'.




Aku bilang, 'Nanti Aik di sekolah, kalau disuntik boleh nangis. Sakit sedikit tapi nggak papa.'
Usai imunisasi, Bu Guru langsung upload gambar anak-anak hebat yang, ternyata, tidak satu pun, menangis saat disuntik. Hebat semua!

Miss Lulu, shadow teacher Aik pun sama cemasnya denganku. Sudah bersiap harus berusaha sekuat tenaga memegangi Aik. Ternyata Aik menurut, dan tidak nangis sama sekali. Bahkan sehabis suntik malah 'tawa-tawa' :)))


Entah apakah karena paginya sudah diajak main suntik-suntikan, atau karena melihat teman-temannya tidak menangis saat disuntik (ini juga mengkhawatirkan, karena melihat anak kecil lain menangis bisa membuat Aik tantrum), atau karena keduanya, yang jelas rasanya legaaaaaa. Semoga bermanfaat untuk kekebalan Aik.

Terima kasih Miss Lulu, terima kasih bu guru semua, terima kasih Bu Dokter.

Saturday, July 15, 2017

Happy Hiking to Curug Lawu

Yesterday we went hiking to Curug Lawu, a small waterfall at Mount Ungaran. 


The first half of the track is quite easy, unless you have an acrophobia. Because we have to step on narrow path (about 50 cm) between a deep trench and steep cliff.

There are teens small bridges along the way but this one is special because, this is actually a gutter of the trench.  As it has to bear the flowing water, only 15 persons allowed to step on it at the same time. No clue why they named this "Romantic Bridge".
 

The second half of the track is quite rough. But stones and wood has been used to built simple stairs to ease the path.

The whole track is about 2 km, and the count down sign begins at 700 m. Aik was so excited counting down.

It took about an hour walking up slowly along the river side with some stops taking pictures. And here we are under the curug. Visitors are not allowed to bathe or swim in the small lake below it. I believe it is because it is deep and dangerous.

Too beautiful to skip.

I knew they preferred to play online games than this hiking. but they finally enjoyed it though.

My hero. He walked all the way up!

Ibit was busy with her school project, but I hope we can come here again someday, with the whole family joining. 

Monday, July 3, 2017

Bukber Tahun ini

Lebaran sudah lewat, tapi aku ingin posting tentang buka bersama yang kuikuti tahun ini. Aku sebenarnya membatasi cukup seminggu sekali ikut buka bersama di luar rumah. Jadi mestinya maksimal empat kali. Eh tapi ternyata banyak yang aku tidak bisa skip karena aku sayang mereka yang mengajak...

Bukber pertama di Hotel Pandanaran bersama keluarga besar Bidang IPW kantorku. Ada beberapa yang tidak bisa hadir tapi oh wow acara ini penuh kehangatan. Dan sedikit kesedihan karena hari itu sekaligus perpisahan dengan Bu Ungki yang purna tugas. Sukses buat Bu Ungki :*

Yang kedua adalah buka di Hotel @Hom bersama Mimi Eristy guru yogaku, dan Mbak Pipit teman berlatih yoga. Sebenarnya ada teman-teman lain yang ingin gabung, tapi kok susah ngeklopin jadwal enam orang aja... Ternyata foto yang bertiga ada di kamera Mimi, nanti ku-update kalau sudah dapat fotonya :D

Bukber ketiga di Ikan Bakar Cianjur Kaliwiru bersama Group Klenongan dan keluarga. Penentuan tempat dan waktu bukber ini butuh tret hingga ribuan messages di grup Whatsapp. Sungguh fenomenal. Ini grup absurd entah apa ahahaha... nah. Ini geng seangkatan ketika diterima jadi PNS tahun 2006 dulu. Entah kenapa kami berenam bisa klop dan tetep rukun sampai sekarang. Semoga selamanya. Terima kasih Julia yang sukses jadi EO :*

Selanjutnya ngabuburit dan bukber istimewa bersama rekan-rekan pemusik-puisi di acara Ngabuburit Musik Puisi #4 yang digelar di Opium Kafe, Banyumanik. Acara tahunan ini awalnya cuma ngejam bareng Swaranabya, Biscuittime, dan POEMbluesukan. Tahun-tahun berikut kami mengajak pemusik-puisi lain. Tahun ini ada Tekstural dan Sound of Poems dari Solo. Ini yang ada di foto kok cuma dua personil Swaranabya, Sound of Poems full team, dan bapaknya vokalis Tekstural :))

Keluargaku yang lain adalah kawan-kawan (mantan) blogger Semarang, Loenpia.net. Bukbernya di tempat andalan ketika bingung mau ke mana, Tong Tji @Hom di Jalan Pandanaran. Edisi istimewa karena ada Mamah Wiwik dan Mas Udey yang udah potong rambut. Duh Mas Udey kok ketok cilik thok...

Last but definitely not least, yang sebenarnya (hampir) tiap hari buka bersama mereka, Dan dan anak-anak. Anak-anak ingin buka di KFC dan akhirnya keturutan di hari terakhir sebelum mudik lebaran.

Semoga masih dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya dan banyak bukber bermakna lainnya...