Monday, January 16, 2017

good night...

>
> - Good nite, Aik.
> + Good nite, Mami.
> ...
> + Mami bobok?
> - Iya... Aik bobok...
> + Mami lima, Aik enam...
> - Apa yang lima enam?
> + Mami jam lima, Aik jam enam
> - Oh! Mami bangun jam lima, Aik bangun jam enam?
> - Iya...
> + Oke...
> - Oke...

Friday, December 23, 2016

Patience

Tiga empat tahun yang lalu, beberapa tetes air tumpah akan membuatnya gusar, kadang sampai tantrum. Butuh berbulan-bulan untuk menanamkan padanya bahwa, air yang tumpah bukan bencana dan bisa diatasi. Dengan lap.
Awalnya, aku atau bapaknya atau kakaknya yang mengambil lap dan mengeringkan air yang tumpah, sambil tetap berusaha menenangkannya.
Kemudian butuh berbulan berikutnya untuk menanamkam bahwa dia bisa melakukannya sendiri. Menuntun dia yang menjerit-jerit untuk mengambil lap, dan mengeringkan air.
Semalam sebelum berangkat bepergian, Aik yang sudah siap dengan tas mainannyq keluar rumah. Pintu mobil sudah dibuka dan dia kami minta naik duluan. Aku masih membereskan beberapa hal ketika dia masuk, meletakkan tas mainan di meja, lalu mengambil tisu.
Aku ikuti dia keluar lagi, mengelap sandalnya yang basah terkena tempias hujan.

Saturday, July 30, 2016

Permak

Kalau mau teliti ternyata bisa rapi.
Begini susahnya jadi orang dengan ukuran tubuh tidak standar rata-rata. Susah banget beli celana ukuran 25 (atau 6). Sempat nemu tapi modelnya skinny fit yang jatuhnya mirip jegging, ga tega make untuk ngantor. Syukurlah akhirnya nemu ukuran 8 yang, waktu kuamati model bannya sepertinya mudah untuk dikecilkan jadi ukuran 6; ga perlu bongkar muter karena ada sambungan di jahitan samping.
Ternyata tidak semudah dan secepat yang kubayangkan untuk sekedar mengurangi lingkar pinggang 2cm kanan kiri. Ada beberapa bagian yang harus dibongkar bertahap, salah satunya bahkan aku belain mencabut benangnya perlahan dengan jarum.
Belum serapi hasil kerja tukang jahit langgananku (sudahlah mbak, kamu nyanyi aja jangan ikut-ikutan jahit juga, sisain ladang buat orang lain, kata pak penjahit). Pasti lebih mudah kalau aku minta tolong penjahit dan bayar 10 ribu (atau lebih kalau penjahitnya yang 'mahal').
Tapi dalam hal tertentu aku memang lebih suka melakukan hal-hal yang memerlukan sedikit usaha. biar hidup tidak manja, tidak gampang mengeluh, dan bisa lebih menghargai kerja keras orang lain.
Masih ada satu lagi yang menunggu. Biar jadi proyek minggu depan.

Sunday, June 26, 2016

Miracle Before My Eyes


They're about the same age. Aik was born 14 days after my brother's son. I think it was natural for me to expect average growths and developments on them. But what how would it feel when you finally found that your baby is delayed?

It was frustrating, at first, only to see my boy's delayed development. And it became even more when people started to compare him with his cousin. For quite a while I felt uncomfortable every time I had to visit my parents and met my brother, and his son - who grew amazingly as an energetic and smart boy. 
It took time. But I have come to a point, after a long struggle, to accept Aik's condition and focus on helping him instead of thinking about what people say about him. I've learned to ignore whatever makes me uncomfortable about raising Aik. This way I live my life more peacefully. I can love him fully and cherish every progress Aik makes, that looks little for other people but some times is a leap for me.


Until few months ago, these two little miracles still couldn't really get along together. They were like living in two different worlds. I can understand how my brother's son see Aik is different, and how hard it was for him to get in touch. But there was a progress, a leap, that now they can play together although language is still a barrier.
Magic happens anytime, anywhere, if you can see. There are miracles before your eyes, if you believe.

Monday, December 21, 2015

Hari Ibu yang ke-sekian.

She knew I would knock her door and wake her up for morning prayer. Looks like she woke up earlier and put this in front of her door and back to sleep. Or pretended to.


mana ibu?
mana ibit?
 
----------------------

"Untuk ibu tergaul
dan ter-anti gaptek

Selamat Hari Ibu
Happy Mother's Day
Araw Pagbati Ina
Muttertags - Gl├╝ckwunsche
*Sumber: Google Translate

Maafkan anak gadismu yang keseringan main HP. Mungkin kalau aku ngurangin main HP aku bisa jadi ranking satu, ya...

Stay young, stay healthy
Rajin rajin yoga
Semoga lancar selalu
Wo aini."

---------------
"Ibu aja nangis, ngko aku melu nangis"
"Ya wis tak adus wae"
---------------------
Ulang tahun kemarin ucapannya masih 'semoga bisa aerobic sampai tua', sekarang sudah ganti :))
 
Juga ada hadiah kecil dari Aik, yang dibikin bersama Bu Guru di sekolah. Anything he does would simply melt my heart...

 

Dan juga senyum manis dan malu dari sepasang anak kembar yang 'cuma' berkata, "he... aku tahu, ini Hari Ibu' tapi tidak pernah lupa bilang 'terima kasih' jika aku melakukan sesuatu buat mereka...
--------------------------------
I am so happy that Ibit chose to congratulate me on 22 December instead of on that world's Mother's Day in May. Because this Indonesian Mother's Day is honoring women more than mother, but also their existence in and outside the house, their contribution to family, society, nation, religion, human  lives. My kids understand why I 'leave' them for work and all other activities. 
Every year I think 'this is the best Mother's Day I ever have' but that because I didn't know what next Mother's Day would be. I'm not the best mother in the world, I could've been better if I would struggle more. But this is how I make myself a happy mother, so I can make my  kids happier.

Saturday, August 29, 2015

Belajar Membaca Metode Fonemik

‎Jaman Ibit TK dulu, dia sendiri yang meminta diajari membaca. Berhubung waktu itu aku lumayan selo, aku membuat sendiri sebuah buku belajar membaca, dengan mengadaptasi cara belajar baca qur'an metode Iqro. Bikinnya tidak langsung jadi A-Z. Sesempatnya. Yang penting tersedia dulu materi yang akan dipelajari. Halaman pertama hanya berisi 'a' dan 'ba' yang diacak susunannya sampai Ibit paham benar. Halaman kedua ditambahi 'ca'. Demikian seterusnya. Di setiap halaman juga kuberi gambar warna-warni dengan spidol dan pensil warna, supaya menarik.

Di TK B, Ibit sudah lancar membaca. Lalu buku itu dipinjam oleh seorang temannya yang belum lancar membaca. Sampai sekarang buku itu belum kembali.... Haha ya ndak papa.

Ketika tiba masa Ar Ir belajar membaca, aku keetulan nemu buku belajar membaca dengan metode yang sama dengan yang kugunakan untuk mengajari Ibit. Piki‎rku lebih praktis beli saja. Lebih menarik juga untuk anak-anak. Aku beli dua, karena aku merasa selama aku sanggup membelikan, anak kembar juga berhak punya buku sendiri-sendiri. Alhamdulillah mereka juga sudah mulai lancar membaca ketika masuk SD.

Buku itu ‎kemudian dipinjam oleh tetangga kami yang juga punya anak kembar. Karena kukira Ar Ir tidak akan punya adik lagi, kuhibahkan saja buku itu pada mereka...

Sekarang masa Aik belajar membaca, aku mencari buku serupa milik Ar Ir dulu di Gramedia. Tapi ndak nemu. Akhirnya nemu yang mirip. Kertasnya terlalu tipis sehingga lebih mudah kusut, apalagi kalau Aik yang pegang. Tapi lumayan daripada ndak ada.

Ternyata praktik belajar dengan Aik tidak semudah melakukannya dengan kakak-kakaknya dulu. Konsentrasi Aik yang mudah pecah membuat dia sulit fokus pada fonem-fonem yang kutunjuk. Perhatiannya mudah teralih ke huruf-huruf lain dan gambar-gambar di buku itu.

Sempat hampir putus asa, aku teringat bahwa Aik cukup bagus dalam identifikasi dengan bantuan kartu. Akhirnya aku bikin sendiri kartu fonem mulai dari 'a' sampai 'za'. Ketika dia sudah familiar dengan 'a' dan 'ba', aku mencoba membawa Aik ke buku, dengan menutup halaman sebelahnya untuk mengurangi distraksi. Walaaa, berhasil!

Aku masih memakai kartu untuk menambahkan fonem berikutnya, meskipun sepertinya Aik sudah mulai paham harus fokus ke mana. Kartu masih lebih efektif untuk belajar dengan 'sambil lalu'. Ketika dia sedang bermain aku tunjukkan satu kartu untuk sekedar mengingat. Itu tidak akan bisa dilakukan dengan buku, karena dia akan langsung merasa keasyikannya bermain terganggu harus konsentrasi menghadap buku.

Anak lain pada umumnya butuh satu sesi untuk satu halaman. Aku tahu Aik akan butuh waktu berlipat. Tapi kalau tidak dilakukan, dia tidak akan dapat. Semangat!

Monday, June 22, 2015

Sebelum Menjadi Anak SMP

Ibit memakai jeansku, kemeja ayahnya, kerudungku. Kalau saja kakinya sudah cukup besar, mungkin dia pakai sepatuku.


Eh, kaki Ir ternyata lebih besar dari kakiku. Sebelum turun di halaman kantor Dinas Pendidikan untuk mengurus legalisir piagam Macapatnya, dia baru sadar tadi pakai sandal bukan sepatu. Maka dia pinjam sepatu Ibit, sepatu kets, jadi tidak masalah itu sepatu laki atau perempuan, Dia berjalan sambil meringis kesempitan. Sambil menunggu proses legalisir dia mencoba sepatuku, masih sempit juga, sedikit.

"Aku baru tahu kalau mendaftar SMP harus mengurus berkas ke kantor Dinas," katanya.
Itu karena kamu punya piagam yang harus dipastikan keabsahannya. Ar tidak.

"Dulu kupikir cari sekolah tidak perlu memikirkan nilai US. Pokoknya dari TK ndaftar SD, dari SD ndaftar SMP, lanjut terus tinggal pilih mau ke mana."

Kapan kamu tahu tentang itu?

"Kelas empat. Atau kelas lima."

Dan setelah itu baru kamu mulai serius belajar?

Dia tertawa.

***

Mengenang bagaimana sejak kelas satu hingga lima keduanya sekolah seperti semaunya, peringkat yang selalu di angka lebih dari setengah jumlah siswa di kelas. Kelas enam menjadi sedikit mendebarkan buatku, karena mereka masih mengikuti kurikulum 2006, masih memakai nilai hasil Ujian Sekolah (pengganti Ujian Nasional) untuk mendaftar SMP.

Mereka (juga aku dan Dan) ingin mereka bisa masuk ke SMP yang sama dengan Ibit. Karena berbagai alasan. Tapi dengan cara belajar dan nilai pas-pasan yang mereka biasanya punya, itu dekat di batas angan. Setelah beberapa kali pertemuan dengan guru wali kelas, dan memantau hasil beberapa kali try out, aku baru bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku. Nilai mereka secara keseluruhan meningkat. Aku merasa cukup mereka belajar di sekolah dengan jam tambahan. Tidak ada les lagi. Hanya belajar pelajaran apa saja satu jam tiap malam. 

Kecemasan tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada kekhawatiran baru. Dan demikianlah kau menyayangi buah hatimu. Beban 'anak kembar' membebaniku. Apa yang harus kulakukan (kukatakan) jika nilai US yang satu lebih rendah (atau lebih tinggi) dari yang lain dengan selisih yang nyata? Bagaimana kalau mereka tidak bisa masuk sekolah yang sama? Dengan semua 'doktrin' dari sekitar, termasuk aku, bahwa kamu harus berusaha masuk SMP ini dan bukan yang itu?

Tuhan pasti menyayangiku, Dia tidak ingin aku menanggung beban pikiran. Nilai Ar nol koma sekian lebih tinggi, dan Ir punya piagam kejuaraan. Dengan sedikit penjelasan, Ir merasa tenang, bahwa bekal mereka untuk mendaftar SMP kurang lebih sama.


***

Di meja verifikasi piagam, Ir lupa syair Dhandhanggula yang ditembangkannya saat lomba. Aku tidak nemu video rekamannya yang (seingatku) kupajang di sini. Bapak penguji memancing-mancing Ir untuk mengingat tembang lain. Ibu petugas verifikasi di sebelahnya sibuk dengan berkas lalu memandang ke pintu masuk dan berkata, "Lho, itu anak kenapa malah berdiri di sana?"

Aku dan Ir menoleh ke sana. Ar
.
Itu saudaranya, kataku. Ir masih di kursinya, sedang mengingat syair tembang Gambuh.

"Loh, kok ada dua? Medeni!"

Ar lebih dulu maju ke meja verifikasi berkas pendaftaran, Ir baru menyusul sesudahnya, setelah selesai verifikasi piagam dan uji kemampuan. Berkas ditumpuk, duduk di kursi tunggu menanti panggilan.

Ar.
Khrisna.
Siapa lagi.
Siapa lagi.

Ar kembali membawa kartu pendaftaran. Pendaftaran selesai.

"Kenapa aku nggak segera dipanggil?" tanya Ir.

Karena memang kamu tidak langsung di urutan belakang Ar, ada beberapa anak selagi kamu diuji nembang.

Ir dipanggil ke meja terakhir. Dari kejauhan aku perhatikan, dua ibu guru petugas pendaftaran berpandangan, keheranan, mengecek lagi berkas pendaftaran. Aku sudah menduga mungkin mereka akan begitu. Dan mendekat membantu menenangkan mereka.

"Ini Ir, Bu. Tadi Ar."

"Oh? Oooh... ah... hahaha... makanya... tadi kayanya sudah... oh belum ya? Hahaha..."

***


Selesai untuk hari ini. Tinggal memantau jurnal setiap hari. Semoga tidak perlu cabut berkas dan mengulang proses dari awal ya Le.