Tuesday, August 15, 2017

Tidak Takut Suntik!

Sejak punya bayi pertama kali, aku menganggap imunisasi itu penting. Seingatku, dulu adem ayem saja tidak ada pro kontra. Makin ke sini punya bayi makin rumit. Soal ASI diributkan. Soal MPASI jadi ramai. Soal imunisasi jadi pro-kontra. Bahkan soal melahirkan spontan atau sesar pun jadi versusan.

So.

Aku masih termasuk ibu-ibu yang menganggap imunisasi itu penting. Yang tidak mau, dengan dalih agama atau pun kesehatan atau persediaan danau orang Yahudi, ya silakan. 

Lepas dari semua itu, yang terpenting adalah, ternyata Aik tidak menangis sama sekali waktu disuntik imunisasi di sekolah!

Mengingat Aik tidak dengan mudah membiarkan orang lain menyentuhnya, kecuali untuk hal yang pasti-pasti (memandikan, membantu pipis, sikat gigi), jelas aku khawatir Bu Dokter dan Bu Guru di sekolah akan kesulitan memegangi Aik saat disuntik. Lha gimana, periksa di Bu Bidan saat pans batuk pilek aja susah. Apalagi aku tidak bisa datang ke sekolah untuk mendampingi.

Maka pagi sebelum berangkat sekolah, aku 'sosialisasi' ke Aik tentang suntik menyuntik ini. Harusnya malam sebelum tidur sih, momen yang biasanya paling nyaman untuk ngobrol dan bermain. Tapi semalam lupa, jadi ya sudah paginya saja, sebelum aku berangkat kerja.

Aik baru bangun tidur dan masih kriyip-kriyip. Waktu aku katakan padanya bahwa nanti di sekolah dia harus suntik, ya dia 'iya - iya' saja. Tapi iya yang sambil kriyip-kriyip itu kok kurang mantab. Apalagi Aik belum pernah tahu apa itu suntik.

Untungnya kami punya spuit kecil yang dulu dipakai untuk memberi minum susu pada anak-anak kucing yang tidak mau menyusu ke ibunya. Jadilah kami main dokter-dokteran sebentar. Aku minta Aik untuk 'menyuntik'-ku, dan gantian aku 'menyuntik' Aik. Agak males-malesan juga dia, karena masih ngantuk. Tapi yang penting dia mengenal aktivitas itu, dan tahu bahwa itu 'tidak sakit'.




Aku bilang, 'Nanti Aik di sekolah, kalau disuntik boleh nangis. Sakit sedikit tapi nggak papa.'
Usai imunisasi, Bu Guru langsung upload gambar anak-anak hebat yang, ternyata, tidak satu pun, menangis saat disuntik. Hebat semua!

Miss Lulu, shadow teacher Aik pun sama cemasnya denganku. Sudah bersiap harus berusaha sekuat tenaga memegangi Aik. Ternyata Aik menurut, dan tidak nangis sama sekali. Bahkan sehabis suntik malah 'tawa-tawa' :)))


Entah apakah karena paginya sudah diajak main suntik-suntikan, atau karena melihat teman-temannya tidak menangis saat disuntik (ini juga mengkhawatirkan, karena melihat anak kecil lain menangis bisa membuat Aik tantrum), atau karena keduanya, yang jelas rasanya legaaaaaa. Semoga bermanfaat untuk kekebalan Aik.

Terima kasih Miss Lulu, terima kasih bu guru semua, terima kasih Bu Dokter.

Saturday, July 15, 2017

Happy Hiking to Curug Lawu

Yesterday we went hiking to Curug Lawu, a small waterfall at Mount Ungaran. 


The first half of the track is quite easy, unless you have an acrophobia. Because we have to step on narrow path (about 50 cm) between a deep trench and steep cliff.

There are teens small bridges along the way but this one is special because, this is actually a gutter of the trench.  As it has to bear the flowing water, only 15 persons allowed to step on it at the same time. No clue why they named this "Romantic Bridge".
 

The second half of the track is quite rough. But stones and wood has been used to built simple stairs to ease the path.

The whole track is about 2 km, and the count down sign begins at 700 m. Aik was so excited counting down.

It took about an hour walking up slowly along the river side with some stops taking pictures. And here we are under the curug. Visitors are not allowed to bathe or swim in the small lake below it. I believe it is because it is deep and dangerous.

Too beautiful to skip.

I knew they preferred to play online games than this hiking. but they finally enjoyed it though.

My hero. He walked all the way up!

Ibit was busy with her school project, but I hope we can come here again someday, with the whole family joining. 

Monday, July 3, 2017

Bukber Tahun ini

Lebaran sudah lewat, tapi aku ingin posting tentang buka bersama yang kuikuti tahun ini. Aku sebenarnya membatasi cukup seminggu sekali ikut buka bersama di luar rumah. Jadi mestinya maksimal empat kali. Eh tapi ternyata banyak yang aku tidak bisa skip karena aku sayang mereka yang mengajak...

Bukber pertama di Hotel Pandanaran bersama keluarga besar Bidang IPW kantorku. Ada beberapa yang tidak bisa hadir tapi oh wow acara ini penuh kehangatan. Dan sedikit kesedihan karena hari itu sekaligus perpisahan dengan Bu Ungki yang purna tugas. Sukses buat Bu Ungki :*

Yang kedua adalah buka di Hotel @Hom bersama Mimi Eristy guru yogaku, dan Mbak Pipit teman berlatih yoga. Sebenarnya ada teman-teman lain yang ingin gabung, tapi kok susah ngeklopin jadwal enam orang aja... Ternyata foto yang bertiga ada di kamera Mimi, nanti ku-update kalau sudah dapat fotonya :D

Bukber ketiga di Ikan Bakar Cianjur Kaliwiru bersama Group Klenongan dan keluarga. Penentuan tempat dan waktu bukber ini butuh tret hingga ribuan messages di grup Whatsapp. Sungguh fenomenal. Ini grup absurd entah apa ahahaha... nah. Ini geng seangkatan ketika diterima jadi PNS tahun 2006 dulu. Entah kenapa kami berenam bisa klop dan tetep rukun sampai sekarang. Semoga selamanya. Terima kasih Julia yang sukses jadi EO :*

Selanjutnya ngabuburit dan bukber istimewa bersama rekan-rekan pemusik-puisi di acara Ngabuburit Musik Puisi #4 yang digelar di Opium Kafe, Banyumanik. Acara tahunan ini awalnya cuma ngejam bareng Swaranabya, Biscuittime, dan POEMbluesukan. Tahun-tahun berikut kami mengajak pemusik-puisi lain. Tahun ini ada Tekstural dan Sound of Poems dari Solo. Ini yang ada di foto kok cuma dua personil Swaranabya, Sound of Poems full team, dan bapaknya vokalis Tekstural :))

Keluargaku yang lain adalah kawan-kawan (mantan) blogger Semarang, Loenpia.net. Bukbernya di tempat andalan ketika bingung mau ke mana, Tong Tji @Hom di Jalan Pandanaran. Edisi istimewa karena ada Mamah Wiwik dan Mas Udey yang udah potong rambut. Duh Mas Udey kok ketok cilik thok...

Last but definitely not least, yang sebenarnya (hampir) tiap hari buka bersama mereka, Dan dan anak-anak. Anak-anak ingin buka di KFC dan akhirnya keturutan di hari terakhir sebelum mudik lebaran.

Semoga masih dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya dan banyak bukber bermakna lainnya...

Sunday, June 4, 2017

What I Want to Be When I Grew Up.

What?
Some kids have many answers, they change on the way as they see more professions. When I was a kid most answers from my friends were doctor, police officer, teacher, pilots, soldier, engineer. I can't remember mine though :))
I read somewhere in the Elementary School Garduation Book of my twin boys, Ar wrote he wanted to be a chef and Ir wanted to be a fireman. I wonder if they were serious but they just laughed, "I just wrote whatever crossed my mind."
Many parents may think being a chef or a fireman is not a cool idea. Not even good. Being an employee with a good career still seems to be what most parents want for their children. A certain salary, and status. But I think it is cool to want something out of the box.
.
Every Ramadhan my kids want us to make cookies (especially nastar) and it's not for Eid because they usually out before Eid. And we don't make it out of Ramadhan, because we want to keep it special that way.
Yesterday Ar asked me, "Are we making nastar this year?"
I have bought some ingredients but still haven't got the spirit to work on them. But I saw the enthusiasm in his question, so I answered, "Yes, I'm ready if you are."
I was still doing something with my sewing project, I asked him to start the cookie project. So while I was finishing mine, he started measuring and mixing and soon done with the dough. All by himself.
I and Ir helped him a little molding and baking the cookies.
.
I am not saying this is a sign. I'm just glad that my son is doing this happily. He might become a chef one day. That'll be cool.

Monday, May 29, 2017

Menjadi Manusia Penyayang.

Di Ubud Monkey Forest Bali, tahun lalu, menyalami kawan.

Malam hari di bulan puasa, kami berusaha untuk sholat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah kami. Setidaknya sampai mulai ada undangan buka bersama haha.. Untuk menuju masjid, kami melewati sebuah rumah yang memelihara beberapa ekor anjing, yang (salah satu atau beberapa) selalu menyalak jika ada pejalan kaki lewat di depan rumah tersebut.

Tadi malam, saat melewati rumah itu di perjalanan pulang, seperti biasa ada gonggongan menyapa kami. Kami tidak takut atau lari, karena anjing-anjing di rumah itu dikurung dalam kandang.
"Kasihan sebenarnya, anjing-anjing itu dikurung," kataku pada Ibit.
Ibit lalu bercerita, bertahun-tahun yang lalu ketika dia masih SD, di rumah itu hanya ada seekor anjing. Anjing itu kurus dan tampak tidak terurus. Waktu itu Ibit masih sering jalan kaki ke rumah temannya di dekat masjid.
"Kalau main ke rumah Nabila, aku bawa satu sosis dari rumah untuk anjing itu."
Anjing kurus itu, kata Ibit, harusnya gagah, seperti Timmy anjing anggota Lima Sekawan. Tapi kurus sampai terlihat tulangnya, dan bulunya kusut kusam.
Entah apakah anjing itu masih anjing yang sama sekarang, pasti sudah sangat tua. Entah apakah juga pemilik  yang sama. Kami tidak pernah melihat manusia pemiliknya.
.
Aku tidak akan tahu, kalau Ibit tidak bercerita tadi malam. Aku tidak tahu, kenapa Ibit baru bercerita sekarang. Mungkin dia takut aku melarang dia mengambil sosis untuk anjing. Padahal sekarang, aku hampir menitikkan air mata, haru dan bangga, karena anakku memiliki rasa iba pada makhluk yang menderita. Iya, makhluk yang oleh banyak orang dibenci karena najis.
.
"Kalau tidak najis, aku pengin memelihara anjing," kata Ibit.
Iya, aku juga. Karena anjing lebih cerdas dan lebih perasa ketimbang kucing. Sayangnya akan sangat repot buat kami untuk memelihara anjing tanpa merantai atau mengurungnya di kandang.
Maka cukuplah kami memelihara kucing. Dan aku yakin, ketika bahkan agama dapat dijadikan alasan permusuhan; berteman dengan binatang akan menumbuhkan kasih sayang. Bukan hanya pada sesama manusia (terlebih pada sesama manusia), tapi juga pada makhluk Tuhan lainnya.
Supaya jangan pernah terlintas sekelebatan pun di benak mereka, benci, apalagi kata 'bunuh'.

Thursday, May 11, 2017

(my) fear

1. I used to keep him away from crowd. crowd stresses him. and handling his tantrum in a crowd stresses me.
2. he doesn't like restaurant or any public meal places. he doesn't like to eat in public places. he would hide under a table. or walked away and stand in a corner. or worse: tantrum.
so I've been such a coward, fear to the stress, always chose to leave him at home with Nanny of I had to attend an event.
.
I can just keep him away from those discomfort. but that's a little bit inconvenience. and I thought it's another battle I should fight. so I started to bring him to event with few people, less noise. always keep an eye and notice when he starts to feel uncomfortable, time to get out.
he enjoys mall because there are many 'attractions'. colors and lamps.
he doesn't like loud sounds but, he enjoys music. he can stay for dew songs and gives applause after every song.
the key is building comfort zone in the middle of un comforts.
.
he's my hero today.
we attended a wedding party just both him and me. we started the trip with a little battle. he wanted to stay at home and play PS. he wanted me to stay at home too. then he let me go and he would stay. then he wanted to go with me. or play PS at home. or go with me. or stay at home. a little battle inside him that blew out. the tantrum still went on until about 20 minutes in the car as we were going out.
but it turned out great. he liked walking around and adore the decorations. he enjoyed the music. and, didn't refuse to eat.
.
fear will always be fear until
you face it.

Sunday, April 2, 2017

Latih dan Uji Nyali di Treetop Adventure Park



Sebenarnya sudah agak lama pengin main ke taman bermain tantangan ini, tapi musim hujan bukan waktu yang asik. Sebenarnya sekarang juga masih sisa-sisa musim hujan, tapi kebetulan kemarin pas cuaca sekedar mendung ringan sejak pagi sampai siang.

Treetop Adventure Park adalah arena permainan tantangan yang berlokasi di Wana Wisata pinus Kopeng, kurang lebih 30 menit dari Salatiga. Tiket masuk ke wana wisata IDR 12,5K ribu per orang, anak di bawah 2 tahun bebas bayar.

Tapi itu baru masuk hutannya. Baru dapat sejuk segar hutan dan bisa foto-foto di antara hutan pinus yang seksi.


Untuk bisa bermain di arena Treetop, ada charge lagi sebesar IDR 110 ribu untuk anak. Ndak dijelaskan batas anak dan dewasanya, tapi Ar Ir dan Ibit sudah masuk kategori dewasa dengan charge IDR 160 ribuMahal ya? Iya. Kesannya. Tapi bayangkan. Pernah main di arena flying fox? Berapa tiketnya? Rata-rata sepuluh ribu ya.

Nah Treetop punya delapan sirkuit mulai dari level paling mudah dan pendek hingga yang paling sulit dan panjang. Jika dihitung rata-rata per sirkuit IDR 20 ribu, jatuhnya sangat murah. Keamanan pun sangat diperhatikan. Pirantinya standar, dan selalu ada satu guide yang mendampingi satu tim.




Anak-anak usia 4-8 tahun sudah boleh main di sirkuit kuning. Ada syarat tinggi yang harus dipenuhi. Tidak dicantumkan berapa senti, tapi ada garis setinggi kurang lebih 1,5 meter yang harus bisa diraih. Sepertinya itu setinggi tali pegangan di arena tantangan. Kebetulan Aik sudah sedikit melampui batas minimal.

Sebelum mulai bermain, petugas akan membantu memasang alat keselamatan, dan menjelaskan cara penggunaan dua alat bantu utama, yaitu dua buah kait pengaman (carabiner) dan satu kait yang digunakan untuk meluncur. Tangan Aik masih terlalu lemah untuk menbuka tutup carabiner, meski sudah diganti yang kecil dan lebih mudah. Jadi aku harus mendampingi sepanjang arena, membantu memasang dan melepas carabiner di tali yang sudah ditandai.

Awalnya Aik menolak memanjat. Lalu mas petugasnya mengajak Aik mengayun sebentar di tali, di dorong ke sana kemari meluncur perlahan. Ternyata berhasil lho, Aik jadi berani. Awalnya agak takut, enggan melepas pegangan tanganku, bahkan berhenti dan menolak lanjut. Tapi pelan-pelan akhirnya dia berhasil menyelesaikan sirkuit awal.


Melihat kakak-kakaknya lanjut ke sirkuit level berikut, Aik ingin ikut. Tapi aku yang ndak berani melepas. Selain lebih tinggi dari tanah, tantangannya juga lebih sulit. Daripada emaknya sport jantung, Aik kuajak saja mengulang lagi sirkuit kuning.
Dan ekspresi di bagian akhir yaitu zip line; so precious!



Danang tidak ikut naik. Dia punya sedikit takut ketinggian. Dan meskipun sudah sangat jauh berkurang, sepertinya masih ragu untuk bergabung. Well, jadi kami punya tukang foto khusus :D

Susah ngambil gambar Ar Ir dan Ibit dengan wajah penuh, karena cuma pakai hand phone. Kameranya ndak kebawa. Mereka sih ndak perlu disemangati, sudah antusias mencoba dan lanjut ke level berikutnya dan berikutnya dan berikutnya...






Setelah mendampingi Aik, aku bisa menyelesaikan sirkuit kedua. Di sirkuit ketiga aku menyerah di ayunan tarzan. Aku tidak takut ketinggian, tapi jantungku tidak siap diayun mendadak... Mas petugas meyakinkan aku bisa, dan berani, dan aman. Tapi maaf, aku mengecewakan kepercayaannya.





Waktu dua jam yang disediakan ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh sirkuit. Ibit, Ar, dan Ir baru selesai di sirkuit ke-tujuh tepat ketika ada pemberitahuan bahwa waktu habis. Well, semoga kapan-kapan bisa dilanjutkan sampai tuntas!