Sunday, April 2, 2017

Latih dan Uji Nyali di Treetop Adventure Park



Sebenarnya sudah agak lama pengin main ke taman bermain tantangan ini, tapi musim hujan bukan waktu yang asik. Sebenarnya sekarang juga masih sisa-sisa musim hujan, tapi kebetulan kemarin pas cuaca sekedar mendung ringan sejak pagi sampai siang.

Treetop Adventure Park adalah arena permainan tantangan yang berlokasi di Wana Wisata pinus Kopeng, kurang lebih 30 menit dari Salatiga. Tiket masuk ke wana wisata IDR 12,5K ribu per orang, anak di bawah 2 tahun bebas bayar.

Tapi itu baru masuk hutannya. Baru dapat sejuk segar hutan dan bisa foto-foto di antara hutan pinus yang seksi.


Untuk bisa bermain di arena Treetop, ada charge lagi sebesar IDR 110 ribu untuk anak. Ndak dijelaskan batas anak dan dewasanya, tapi Ar Ir dan Ibit sudah masuk kategori dewasa dengan charge IDR 160 ribuMahal ya? Iya. Kesannya. Tapi bayangkan. Pernah main di arena flying fox? Berapa tiketnya? Rata-rata sepuluh ribu ya.

Nah Treetop punya delapan sirkuit mulai dari level paling mudah dan pendek hingga yang paling sulit dan panjang. Jika dihitung rata-rata per sirkuit IDR 20 ribu, jatuhnya sangat murah. Keamanan pun sangat diperhatikan. Pirantinya standar, dan selalu ada satu guide yang mendampingi satu tim.




Anak-anak usia 4-8 tahun sudah boleh main di sirkuit kuning. Ada syarat tinggi yang harus dipenuhi. Tidak dicantumkan berapa senti, tapi ada garis setinggi kurang lebih 1,5 meter yang harus bisa diraih. Sepertinya itu setinggi tali pegangan di arena tantangan. Kebetulan Aik sudah sedikit melampui batas minimal.

Sebelum mulai bermain, petugas akan membantu memasang alat keselamatan, dan menjelaskan cara penggunaan dua alat bantu utama, yaitu dua buah kait pengaman (carabiner) dan satu kait yang digunakan untuk meluncur. Tangan Aik masih terlalu lemah untuk menbuka tutup carabiner, meski sudah diganti yang kecil dan lebih mudah. Jadi aku harus mendampingi sepanjang arena, membantu memasang dan melepas carabiner di tali yang sudah ditandai.

Awalnya Aik menolak memanjat. Lalu mas petugasnya mengajak Aik mengayun sebentar di tali, di dorong ke sana kemari meluncur perlahan. Ternyata berhasil lho, Aik jadi berani. Awalnya agak takut, enggan melepas pegangan tanganku, bahkan berhenti dan menolak lanjut. Tapi pelan-pelan akhirnya dia berhasil menyelesaikan sirkuit awal.


Melihat kakak-kakaknya lanjut ke sirkuit level berikut, Aik ingin ikut. Tapi aku yang ndak berani melepas. Selain lebih tinggi dari tanah, tantangannya juga lebih sulit. Daripada emaknya sport jantung, Aik kuajak saja mengulang lagi sirkuit kuning.
Dan ekspresi di bagian akhir yaitu zip line; so precious!



Danang tidak ikut naik. Dia punya sedikit takut ketinggian. Dan meskipun sudah sangat jauh berkurang, sepertinya masih ragu untuk bergabung. Well, jadi kami punya tukang foto khusus :D

Susah ngambil gambar Ar Ir dan Ibit dengan wajah penuh, karena cuma pakai hand phone. Kameranya ndak kebawa. Mereka sih ndak perlu disemangati, sudah antusias mencoba dan lanjut ke level berikutnya dan berikutnya dan berikutnya...






Setelah mendampingi Aik, aku bisa menyelesaikan sirkuit kedua. Di sirkuit ketiga aku menyerah di ayunan tarzan. Aku tidak takut ketinggian, tapi jantungku tidak siap diayun mendadak... Mas petugas meyakinkan aku bisa, dan berani, dan aman. Tapi maaf, aku mengecewakan kepercayaannya.





Waktu dua jam yang disediakan ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh sirkuit. Ibit, Ar, dan Ir baru selesai di sirkuit ke-tujuh tepat ketika ada pemberitahuan bahwa waktu habis. Well, semoga kapan-kapan bisa dilanjutkan sampai tuntas!



Thursday, March 16, 2017

Grocery Shopping Time!

Grocery shopping has become one of Aik's favorite activity. Last time we shopped I got him involved instead of letting him run here and there around the store. He pushed the trolly and helped me get the things we needed to buy.
Now as he is in the next step or learning to read, I want to combine the fun of shopping with reading. 

I made him a list of what he had to buy.

So while Ibit did the real shopping with the real list, I accompanied Aik did his shopping. He read the list top down and pick each thing.

Here we go!

Telur - Egg
For a while I thought it was a mistake to put 'egg' on the list. But well we managed to bring the eggs home safely :D

Roti - Bread
Yes that phenomenal brand. We are not endorsing but that's what he likes and I really don't think it is haram.

Tisu - Tissue

Susu - Milk
Well actually it was supposed to be 'susu kental manis coklat' but I didn't want to weigh him with  long name of the item :D

Biskuit - Biscuit
And he reminded me the label as I have drawn on the list

Cashier.
The cashier man seemed so happy to see Aik and his list. I think he knew that I usually bring my own shopping bag so he asked me 'Is it okay to use a plastic bag?' when I told him that I forgot to bring a shopping bag.We brought one but it was for Ibit's shopping. So, well, fine, we used plastic bag.

Shopping done!

We have to do this again some other time, shall we?

Sunday, March 5, 2017

Beyond Expectation


Hari ini jadwal konsultasi dengan psikolog setelah 2 sesi assesment bulan lalu. Sejak menerima jadwal dua hari yang lalu, hati rasa siap tak siap. Bagaimana nanti hasilnya. Apa yang akan dikatakan Bu Lita. Aku takut jangan-jangan apa yang selama ini kulakukan belum maksimal. Aku takut mendengar, 'You could've done better!'

Di luar dugaan, semua yang disampaikan tentang hasil assesment adalah positif. Perkembangan Aik luar biasa, bukan sekedar sesuai harapan. Segala usaha kami sekeluarga (dan dukungan kerabat dan sahabat) sudah bagus dan harus terus dilanjutkan. Senang sekali, Bu Lita pendengar yang baik, penuh empati, dan memberi banyak masukan untuk bisa mendampingi Aik lebih baik.

Dengan usia mental 3 tahun dalam usia fisik 6,5 tahun, aku tahu banyak yang akan mengernyit alis atau mencibir. Mungkin hanya yang paham betul keadaan Aik yang bisa mengerti. Tapi sayangnya tidak semua orang di sekitarku begitu. Sekarang yang jadi PR-ku adalah 'tidak mendengarkan omongan negatif, judging, dan sok tahu.'

Sebenarnya, aku selalu (justru) merasa terbebani setiap ada yang bilang 'tuhan tahu pada siapa Aik harus dititipkan.' Tapi tadi Bu Lita menyampaikan gembira, bahwa aku dan Dan yang menjadi orang tua Aik. Oh Tuhan. Aku ini apalah-apalah. Dan aku sukses nangis di hadapan beliau karena aku merasa tidak berhak dianggap sehebat itu.
.
Kalaupun ada yang menganggap usaha kami belum cukup, yang jelas kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Demi Aik.

Monday, January 16, 2017

good night...

>
> - Good nite, Aik.
> + Good nite, Mami.
> ...
> + Mami bobok?
> - Iya... Aik bobok...
> + Mami lima, Aik enam...
> - Apa yang lima enam?
> + Mami jam lima, Aik jam enam
> - Oh! Mami bangun jam lima, Aik bangun jam enam?
> - Iya...
> + Oke...
> - Oke...

Friday, December 23, 2016

Patience

Tiga empat tahun yang lalu, beberapa tetes air tumpah akan membuatnya gusar, kadang sampai tantrum. Butuh berbulan-bulan untuk menanamkan padanya bahwa, air yang tumpah bukan bencana dan bisa diatasi. Dengan lap.
Awalnya, aku atau bapaknya atau kakaknya yang mengambil lap dan mengeringkan air yang tumpah, sambil tetap berusaha menenangkannya.
Kemudian butuh berbulan berikutnya untuk menanamkam bahwa dia bisa melakukannya sendiri. Menuntun dia yang menjerit-jerit untuk mengambil lap, dan mengeringkan air.
Semalam sebelum berangkat bepergian, Aik yang sudah siap dengan tas mainannyq keluar rumah. Pintu mobil sudah dibuka dan dia kami minta naik duluan. Aku masih membereskan beberapa hal ketika dia masuk, meletakkan tas mainan di meja, lalu mengambil tisu.
Aku ikuti dia keluar lagi, mengelap sandalnya yang basah terkena tempias hujan.

Saturday, July 30, 2016

Permak

Kalau mau teliti ternyata bisa rapi.
Begini susahnya jadi orang dengan ukuran tubuh tidak standar rata-rata. Susah banget beli celana ukuran 25 (atau 6). Sempat nemu tapi modelnya skinny fit yang jatuhnya mirip jegging, ga tega make untuk ngantor. Syukurlah akhirnya nemu ukuran 8 yang, waktu kuamati model bannya sepertinya mudah untuk dikecilkan jadi ukuran 6; ga perlu bongkar muter karena ada sambungan di jahitan samping.
Ternyata tidak semudah dan secepat yang kubayangkan untuk sekedar mengurangi lingkar pinggang 2cm kanan kiri. Ada beberapa bagian yang harus dibongkar bertahap, salah satunya bahkan aku belain mencabut benangnya perlahan dengan jarum.
Belum serapi hasil kerja tukang jahit langgananku (sudahlah mbak, kamu nyanyi aja jangan ikut-ikutan jahit juga, sisain ladang buat orang lain, kata pak penjahit). Pasti lebih mudah kalau aku minta tolong penjahit dan bayar 10 ribu (atau lebih kalau penjahitnya yang 'mahal').
Tapi dalam hal tertentu aku memang lebih suka melakukan hal-hal yang memerlukan sedikit usaha. biar hidup tidak manja, tidak gampang mengeluh, dan bisa lebih menghargai kerja keras orang lain.
Masih ada satu lagi yang menunggu. Biar jadi proyek minggu depan.

Sunday, June 26, 2016

Miracle Before My Eyes


They're about the same age. Aik was born 14 days after my brother's son. I think it was natural for me to expect average growths and developments on them. But what how would it feel when you finally found that your baby is delayed?

It was frustrating, at first, only to see my boy's delayed development. And it became even more when people started to compare him with his cousin. For quite a while I felt uncomfortable every time I had to visit my parents and met my brother, and his son - who grew amazingly as an energetic and smart boy. 
It took time. But I have come to a point, after a long struggle, to accept Aik's condition and focus on helping him instead of thinking about what people say about him. I've learned to ignore whatever makes me uncomfortable about raising Aik. This way I live my life more peacefully. I can love him fully and cherish every progress Aik makes, that looks little for other people but some times is a leap for me.


Until few months ago, these two little miracles still couldn't really get along together. They were like living in two different worlds. I can understand how my brother's son see Aik is different, and how hard it was for him to get in touch. But there was a progress, a leap, that now they can play together although language is still a barrier.
Magic happens anytime, anywhere, if you can see. There are miracles before your eyes, if you believe.