Showing posts with label Ar. Show all posts
Showing posts with label Ar. Show all posts

Tuesday, July 20, 2021

Twin Shoot di Undip

Dulu waktu tahu bahwa kehamilanku kembar, reaksi pertama malah stres, "Ya Allah, apa aku sanggup membesarkan anak kembar? Mau aku kasih makan apa?"
Yak benar, ternyata makannya ya seperti anak manusia biasa, haha.
Dan sekarang mereka sudah besar.
Dan dua-duanya diterima di Undip meskipun dengan jalur dan di jurusan yang berbeda. Kami tidak berharap banyak bisa diterima lewat jalur SNMPTN. Karenanya, mereka ambil bimbingan belajar untuk fokus masuk lewat jalur SBMPTN. Ar berhasil, Ir belum. Momen membuka pengumuman hasil SMBPTN itu mengacaukan batin. Di satu sisi kami gembira Ar lolos, tapi sedih Ir belum.
Aku menghargai Ar yang menunda sorak sorainya. Kami seisi rumah membiarkan Ir tenang dulu selama sehari dua hari. Lalu besoknya menyemangati lagi untuk ikut jalur mandiri. Daftar bimbingan belajar lagi. Melarang dia mengkhawatirkan biaya pendaftaran di sana sini. Itu bagian dari usaha, tidak akan menjadi mubadzir.
Mendaftar mandiri di tiga universitas, pengumuman berselang seminggu seminggu. Di Universitas Brawijaya belum lolos. UNS juga belum berhasil. Ir terlihat lelah dan khawatir. Aku berusaha menenangkan, barangkali memang jatahnya diterima di Undip.
"Aku pengin teriak histeris kaya Ar kemarin waktu lolos SMBPTN."

Dan terkabul.
Membiayai tiga anak yang kuliah bersamaan, dengan UKT serba tinggi karena ibuknya PNS, kalau dilihat sekilas pasti berat. Tapi kali ini aku nggak mau lagi meragukan diriku, apalagi kuasa Tuhan. Tidak ada yang ingin kupertanyakan. Aku memohon saja, "Ya Allah, paringi lancar segalanya."
Bismillah.



Sunday, July 7, 2019

Determination

Last month we joined a group camp with Aik's school at Mount Ungaran, as a media to get to know each other and built better communications between parents and families. The plan was to stay one night and hike to the peak in the early morning.


I didn’t expect Aik to finish the hike, but he looked so enthusiastic. He kept walking following other hikers in the group. 

Suddenly at the beginning of the last part from Pos 3 to Pos 4, he had an uncontrollable shit. We helped him cleaning up and continued walking to Pos 4, where it happened again. Thank God we brought some clothes in our backpack.

So I and Dan decided to stop, turned around and walked down. People say we should have kept going up because it was like just a throwing stone away. But no. I thought it was too late already. I should’ve seen that Aik’s body was not ready.


It has been beyond expectation. So we thought we better stop now and try again some other day. With a better preparation and may be don’t let Aik walk fully. We can carry him at some parts so the hike won’t press him too much and we can reach the peak safely.

Monday, December 17, 2018

The Paths

We plan. We hope. We wish. But we never know which paths our children go.

Watching them growing is like watching a fast-forwarded movie. Suddenly they're here. I've shown them many doors, and they show me many other doors I didn't know. But I let them follow their hearts, their passions.

They choose the door. The path. I'm grateful that I am given the chance to witness them in these moments. And like many moments before since they were babies, my eyes are never outta tears of joy.

Ibit: Choir

Ar: mountaineers

Ir: Flag Raisers Troop.

Monday, June 25, 2018

The Graduates

A late post.

So this year all my kids are having their last years. Ibit in High School, Ar and Ir in Junior High, and Aik in Kindergarten. It's been a roller coaster to all. Now as we got down, we are ready for a more challenging one. I am a proud Mama of these graduates. They've struggled and done their best. I couldn't demand more.
All we wish now is a good luck for all. We will do this.



Monday, December 21, 2015

Hari Ibu yang ke-sekian.

She knew I would knock her door and wake her up for morning prayer. Looks like she woke up earlier and put this in front of her door and back to sleep. Or pretended to.


mana ibu?
mana ibit?
 
----------------------

"Untuk ibu tergaul
dan ter-anti gaptek

Selamat Hari Ibu
Happy Mother's Day
Araw Pagbati Ina
Muttertags - Glückwunsche
*Sumber: Google Translate

Maafkan anak gadismu yang keseringan main HP. Mungkin kalau aku ngurangin main HP aku bisa jadi ranking satu, ya...

Stay young, stay healthy
Rajin rajin yoga
Semoga lancar selalu
Wo aini."

---------------
"Ibu aja nangis, ngko aku melu nangis"
"Ya wis tak adus wae"
---------------------
Ulang tahun kemarin ucapannya masih 'semoga bisa aerobic sampai tua', sekarang sudah ganti :))
 
Juga ada hadiah kecil dari Aik, yang dibikin bersama Bu Guru di sekolah. Anything he does would simply melt my heart...

 

Dan juga senyum manis dan malu dari sepasang anak kembar yang 'cuma' berkata, "he... aku tahu, ini Hari Ibu' tapi tidak pernah lupa bilang 'terima kasih' jika aku melakukan sesuatu buat mereka...
--------------------------------
I am so happy that Ibit chose to congratulate me on 22 December instead of on that world's Mother's Day in May. Because this Indonesian Mother's Day is honoring women more than mother, but also their existence in and outside the house, their contribution to family, society, nation, religion, human  lives. My kids understand why I 'leave' them for work and all other activities. 
Every year I think 'this is the best Mother's Day I ever have' but that because I didn't know what next Mother's Day would be. I'm not the best mother in the world, I could've been better if I would struggle more. But this is how I make myself a happy mother, so I can make my  kids happier.

Monday, June 22, 2015

Sebelum Menjadi Anak SMP

Ibit memakai jeansku, kemeja ayahnya, kerudungku. Kalau saja kakinya sudah cukup besar, mungkin dia pakai sepatuku.


Eh, kaki Ir ternyata lebih besar dari kakiku. Sebelum turun di halaman kantor Dinas Pendidikan untuk mengurus legalisir piagam Macapatnya, dia baru sadar tadi pakai sandal bukan sepatu. Maka dia pinjam sepatu Ibit, sepatu kets, jadi tidak masalah itu sepatu laki atau perempuan, Dia berjalan sambil meringis kesempitan. Sambil menunggu proses legalisir dia mencoba sepatuku, masih sempit juga, sedikit.

"Aku baru tahu kalau mendaftar SMP harus mengurus berkas ke kantor Dinas," katanya.
Itu karena kamu punya piagam yang harus dipastikan keabsahannya. Ar tidak.

"Dulu kupikir cari sekolah tidak perlu memikirkan nilai US. Pokoknya dari TK ndaftar SD, dari SD ndaftar SMP, lanjut terus tinggal pilih mau ke mana."

Kapan kamu tahu tentang itu?

"Kelas empat. Atau kelas lima."

Dan setelah itu baru kamu mulai serius belajar?

Dia tertawa.

***

Mengenang bagaimana sejak kelas satu hingga lima keduanya sekolah seperti semaunya, peringkat yang selalu di angka lebih dari setengah jumlah siswa di kelas. Kelas enam menjadi sedikit mendebarkan buatku, karena mereka masih mengikuti kurikulum 2006, masih memakai nilai hasil Ujian Sekolah (pengganti Ujian Nasional) untuk mendaftar SMP.

Mereka (juga aku dan Dan) ingin mereka bisa masuk ke SMP yang sama dengan Ibit. Karena berbagai alasan. Tapi dengan cara belajar dan nilai pas-pasan yang mereka biasanya punya, itu dekat di batas angan. Setelah beberapa kali pertemuan dengan guru wali kelas, dan memantau hasil beberapa kali try out, aku baru bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku. Nilai mereka secara keseluruhan meningkat. Aku merasa cukup mereka belajar di sekolah dengan jam tambahan. Tidak ada les lagi. Hanya belajar pelajaran apa saja satu jam tiap malam. 

Kecemasan tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada kekhawatiran baru. Dan demikianlah kau menyayangi buah hatimu. Beban 'anak kembar' membebaniku. Apa yang harus kulakukan (kukatakan) jika nilai US yang satu lebih rendah (atau lebih tinggi) dari yang lain dengan selisih yang nyata? Bagaimana kalau mereka tidak bisa masuk sekolah yang sama? Dengan semua 'doktrin' dari sekitar, termasuk aku, bahwa kamu harus berusaha masuk SMP ini dan bukan yang itu?

Tuhan pasti menyayangiku, Dia tidak ingin aku menanggung beban pikiran. Nilai Ar nol koma sekian lebih tinggi, dan Ir punya piagam kejuaraan. Dengan sedikit penjelasan, Ir merasa tenang, bahwa bekal mereka untuk mendaftar SMP kurang lebih sama.


***

Di meja verifikasi piagam, Ir lupa syair Dhandhanggula yang ditembangkannya saat lomba. Aku tidak nemu video rekamannya yang (seingatku) kupajang di sini. Bapak penguji memancing-mancing Ir untuk mengingat tembang lain. Ibu petugas verifikasi di sebelahnya sibuk dengan berkas lalu memandang ke pintu masuk dan berkata, "Lho, itu anak kenapa malah berdiri di sana?"

Aku dan Ir menoleh ke sana. Ar
.
Itu saudaranya, kataku. Ir masih di kursinya, sedang mengingat syair tembang Gambuh.

"Loh, kok ada dua? Medeni!"

Ar lebih dulu maju ke meja verifikasi berkas pendaftaran, Ir baru menyusul sesudahnya, setelah selesai verifikasi piagam dan uji kemampuan. Berkas ditumpuk, duduk di kursi tunggu menanti panggilan.

Ar.
Khrisna.
Siapa lagi.
Siapa lagi.

Ar kembali membawa kartu pendaftaran. Pendaftaran selesai.

"Kenapa aku nggak segera dipanggil?" tanya Ir.

Karena memang kamu tidak langsung di urutan belakang Ar, ada beberapa anak selagi kamu diuji nembang.

Ir dipanggil ke meja terakhir. Dari kejauhan aku perhatikan, dua ibu guru petugas pendaftaran berpandangan, keheranan, mengecek lagi berkas pendaftaran. Aku sudah menduga mungkin mereka akan begitu. Dan mendekat membantu menenangkan mereka.

"Ini Ir, Bu. Tadi Ar."

"Oh? Oooh... ah... hahaha... makanya... tadi kayanya sudah... oh belum ya? Hahaha..."

***


Selesai untuk hari ini. Tinggal memantau jurnal setiap hari. Semoga tidak perlu cabut berkas dan mengulang proses dari awal ya Le.

Friday, March 7, 2014

Hand Puppet

Ar and Ir made the puppet from flannel fabric for school. The teacher said they must sew, and not use glue.

I haven't introduce thread and needle to them before. So thay start learning from zero. From how to smuggle the thread into the needle, drawing and cutting the pattern, and sewing.



They are quite fast learner, I guess. They finished in less then two hours. That was great for a beginner.

This is Ar with the smiling puppet.


And Ir with (I don't know what has crossed hid mind) the zombie.





========================

Give me your best shot at Better in BulkPhotoStory Friday
Hosted by Cecily and Lolli

Friday, February 7, 2014

I hate it when...

...they wear the same clothes.


Most mothers would dress up their twins, or triplet, or more, with 'uniforms'. It's like every set of twin have to. Even my neighbor who has a set of boy-girl twin sew clothes for them herself. Because it is difficult to find same clothes for both boy and girl. Oh, c'mon.

While I, I chose to dress my twin different. I never bought them the same clothes. If those were the same model, they must be different color. Same color, different model. This is to ease myself identifying, as they are like congruent shapes. You barely can see the differences in a flash, or unless you look closely. So I've made a kind of code since they were babies. Ar doesn't have red clothes, Ir doesn't have blue ones. When you see one of them from afar, wearing red, it is Ir. 

But however, the thought that twins should wear uniforms keeps staying in most minds. My siblings, my parents, my in laws, my family; every time they bought my twins some clothes, they are always the same. Thank you very much. For that I made a rule. They can have same clothes but not to wear at the same time. That way, if we go together some where, and for any reason the children spread out or walk separate ways, I would know both twins are still around. Imagine they wear their uniform. You look one way and see one. Few minutes later you look the other way and see one. Can you be sure that you just have seen both? Not one kid who's just run from one spot to another?

Yes that's why I hate it when they wear the same clothes. I talk to Ar and he doesn't answer. Then I start adding my voice volume and that boy answer, "I am Ir. Ar is taking his bath." Ouch.

Now which one is Ar, which one Ir? Just call their names and they will answer :D


Wednesday, October 23, 2013

bottles



this is to make sure that every one gets the same number of bottled milk.


Friday, April 26, 2013

Pancake by Ar Ir

they wanted it and they made it. I and Ibit just watched and helped a lil bit. It is dark because we ran out of milk. we could only find chocolate milk, and it just did.

taa daaaaa!

Thursday, March 21, 2013

Double Ten

you are now officially ten
I don't have much to say
happy birthday

you both have been magics live's brought to us.

Saturday, March 9, 2013

Learn to Play

babies need to learn, even just to play. they wouldn't know what to do with the toys, until some one teach them.

it's been a special effort to introduce toy cars to Dek Ai'. I've bought him many kinds before he accepted one. slowly he enjoyed pushing it forward and backward. later he recognized the head and the tail of the car.

so I brought him to the store and let him choose the toy car he likes. well, the affordable ones, off corse. I asked some helps from the twins, to show him how to have fun with toy cars and play together.

I've introduced him to tunnels, which is a little chair. now I am planning to build some bridges and fly overs. I'm still trying to find the materials...

the other progress is that now Dek Ai' also play with small toy cars, he formerly refused.

I know I have a lot to do. and I believe that every process, and every progress, is a special gift.

Sunday, December 30, 2012

rukun

Dulu sebelum ada Dek Aik, drama rebutan adalah antara Ar dan Ir. Dek Aik menambah meriah acara rebutan.

Damai sekali melihat mereka, bertiga, bisa sejenak lupa untuk rebutan dan memilih menikmati apa yg ada, bersama. :D


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, December 13, 2012

Bukan Bahan Perbandingan

Pagi ini aku mengambil rapor di sekolah Ar Ir. Begitu aku duduk di hadapan Bu Guru, aku bertanya ' bagaimana hasil belajar anak-anak keren itu?'

Bu Guru memulai menjawab dengan kalimat, 'Hasil belajar Ar lebih bagus dari Ir...' Sambil mulai mencari-cari buku rapor mereka.

Aku, dengan spontan memotong kalimatnya, karena aku memang tidak ingin dia melanjutkannya.

'Saya mau tahu perkembangan masing-masing. Perbandingan hasil belajar masing-masing dengan hasil belajar mereka masing-masing di UTS lalu. Bukan perbandingan antara keduanya'

Bu Guru seperti terkejut mendengar aku berkata begitu, lalu mulai menjelaskan hasil belajar Ar dan Ir, tanpa mengaitkan satu dengan yang lainnya.

***

Aku tahu, bagi orang yang sekedar melihat tanpa memahami, otomatis akan terlintas untuk membandingkan sepasang anak kembar. Tak hanya tentang pelajaran sekolahnya, tapi mungkin juga tentang hal-hal lainnya.

Aku pun menyadari hal seperti itu akan alami tumbuh di benakku. Tak usahlah antara kedua kembar itu. Kita bahkan cenderung membandingkan satu anak dengan anak yang lain. Yang, sebisa mungkin aku hindari.

Pasti jadi 'penderitaan' tersendiri bagi manusia-manusia kembar, ketika orang memandang mereka tidak utuh sebagai pribadi terpisah, tapi saling membayangi. Ar Ir bahkan punya saat-saat mereka terlihat 'bosan' dengan orang-orang yang salah panggil.

Aku, entah ini dianggap baik atau buruk, selalu berusaha memperlakukan mereka sebagai dua orang yang berbeda. Aku tidak pernah membelikan mereka baju kembar, seperti yang umumnya dilakukan orang tua anak kembar. Mereka bahkan menolak memakai baju kembar, kecuali sekalian rame-rame kembaran dengan sepupu-sepupu. Makin besar, mereka malah kubiarlan memilih sendiri apa yang mereka suka.

***

Nilai yang terpaut lumayan jauh, dalam kelas yang sama, mau tak mau akan jadi bahan perbandingan langsung. Lihat saja, bahkan oleh gurunya. Aku tidak ingin orang-orang menjadikannya begitu. Tapi malas juga kalau harus bicara ke setiap orang untuk tidak begitu.

Jadi paling tidak aku sendiri bersikap tidak begitu. Agar keduanya melihat aku tidak membanding-bandingkan. Oh, gurunya. Iya, kalau padanya aku harus bicara. Karena aku selalu dihantui kisah seorang anak kembar yang gantung diri karena selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya yang selalu ranking 1, sedang dia tidak pernah...


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, September 4, 2012

The Roller Blade Fever


We are having a fever in town: roller blade.
Every night, especially in weekends, Simpang Lima is full of people skating, or learning to. If you don't have roller blades you can simply rent them. Fifteen thousand rupiahs for an hour of a pair of roller blades.
Semarang sedang demam roller blade.
Setiap malam, khususnya di akhir pekan, Simpang Lima penuh dengan mereka yang meluncur, atau sedang belajar. Jika kamu belum punya roller blade sendiri, banyak yang menyewakan di situ. Lima belas ribu rupiah untuk sepasang roller blade selama satu jam.

Oh yes I tried, for five seconds, or less. I put them on my feet, then tried to stand up, then fell, then quit. Guess age talks.
Aku mencoba, lima detik, atau kurang. Aku pakai, lalu coba berdiri, lalu jatuh, lalu sudah. Sepertinya umur bicara.

Ibit needed several times to finally be able to roll. Ar Ir seemed to do it better. It looks like they'll soon be running in those little wheels. Yeah, may be, after few more tries.
Ibit harus mencoba berkali-kali sebelum akhirnya bisa meluncur. Ar Ir sepertinya melakukannya dengan lebih mudah. Sebentar lagi mereka akan balapan di atas roda-roda kecil itu. Ya, mungkin, setelah mencoba beberapa kali lagi..


Monday, July 16, 2012

initial

this should stop them from fighting 'these are my socks'


Sunday, June 24, 2012

khitan boys (the circumcised)

For syar'i and/or medical reasons, khitan (circumcision) is a must for (moslem) men.  In our society, it is usually done when boys are around 11 years old.
Untuk alasan syar'1 dan/atau medis, khitan adalah sebuah keharusan untuk seorang laki-laki (muslim). Di lingkungan kami, khitan biasanya dilakukan ketika anak berusia sekitar 11 tahun.

Ar and Ir are 9 but they've asked to have it. We needed to make sure they were ready for this. I mean, it's kinda freaky to know that a part of your penis will be cut a little. But they convinced us they were ready. This has persuaded their cousins Muyas and Azam to have khitan too. 
Ar dan Ir baru 9 tahun, tapi mereka sudah minta. Kami harus berulang kali memastikan bahwa mereka benar-benar siap. Maksudku, agak ngeri kan ya, membayangkan nanti penismu diiris sedikit... Tapi mereka meyakinkan kami, bahwa mereka siap. Ini membuat sepupu mereka Muyas dan Azam, jadi berani dan minta dikhitan juga.



So we gave them what they wanted. Yesterday afternoon the khitan was done by my brother in law, Muyas's father. It was great, like we had a massal khitan. No party nor celebration, but it was merry enough to have grandparents and uncles and aunties and cousins come together to give supports to the brave boys.
Jadi kami ikuti kemauan mereka. Kemarin sore mereka dikhitan oleh kakak iparku yang juga ayah Muyas. Seru, seperti khitanan massal. Tidak ada pesta atau perayaan, tapi cukup meriah dengan embah-embah dan om tante dan sepupu-sepupu berkumpul memberi semangat pada anak-anak pemberani ini.

So glad that the boys didn't cry during the surgery. Brave boys. At night when the anesthesia slowly stopped working, they started feeling the hurt and pain, and cried. But it wasn't too long. I was ready for a long sleepless night, where I might need to fan the hurt penis all night and keep talking to calm down its owner. But it wasn't necessary. They slept tight and so did I.
Tidak ada yang menangis selama operasi. Hanya malamnya, ketika obat bius mulai berhenti bekerja, rasa sakit mulai terasa, mereka mulai menangis. Untungnya tidak lama. Aku sudah siap bakal melek semalaman, mengipasi penis yang kesakitan, sambil terus bicara menenangkan si empunya. Ternyata tidak perlu. Mereka tidur pulas, dan aku juga.



This morning I bathed- well, wiped- them- with wet clothes, and they said it doesn't hurt any more. 
Pagi ini aku memandikan, eh, menyibin mereka, dan katanya sudah tidak sakit lagi.

So one worry has over, one more step of being a parent is passed. Congratulations, big boys!
Jadi sebuah kekhawatiran berlalu, satu tahap jadi orang tua terlewati. Selamat, big boys!

Monday, June 18, 2012

The Trio

June 10th was a special day, when I and 9 other writer friends launched our book, an anthology of ten stories for children. This book is a media literacy project by LESPI and Tifa Foundation.

As I wrote a story in it, I also wrote a song based upon my story, with the same title 'Mumpung Tak Ada Ibu' (When Mom Was not at Home). It tells about a girl who secretly watched an adults program on tivi, while her mom was not home. In the end she regret it, for the ghost she watched on TV haunted her around, even into her dream.

The cool thing about this is, Ar and Ir asked me to join Ibit to sing the song and performed at the launch, just because they thought the song was cool. This is fun. I didn't think it was that cool. But my kids loved it. And they who usually refuse to perform, wanted to.

Here is their performance... :D


There was an error with the sound system but the show must go on, and there they go.

Oh and you can see Dek Ai' running here and there. He looked so excited watching his siblings performing :D

Saturday, June 2, 2012

the hitting sticks


Tiga minggu terakhir ini, setiap sabtu sore ada keriuhan baru di rumah. Ar Ir Ibit dan anak-anak di blok berkumpul dan berlatih bermain perkusi. Ada juga beberapa anak dari luar blok, yang kebetulan sering main bersama.

Ideku mengumpulkan mereka berawal dari hari-hari ketika aku sakit dan harus istirahat di rumah beberapa hari. Aku melihat anak-anak ini bermain sepakbola, petak umpet, kejar-kejaran. Kadang berkumpul di rumah salah satu dari mereka, merubung play station atau main game online di komputer.

Aku melihat energi berlimpah pada mereka. Dan alangkah asiknya jika energi mereka itu disalurkan untuk sesuatu yang terarah. Aku bukan mau bilang, aktivitas bermain yang selama ini mereka lakukan tidak ada gunanya. Tentu saja ada. Semua itu adalah olahraga alami buat anak-anak. Jadi aku tetap membiarkan mereka melakukannya, bahkan kadang aku ikut bergabung main petak umpet bersama mereka.

Orang tua anak-anak ini sepenuhnya mendukung kegiatan yang kuusulkan ini. Hanya saja, kemarin ada satu ibu yang menyarankan untuk tidak mengajak salah satu anak dari luar blok, yang menurut dia nakal dan tidak sopan.

Terus terang aku agak heran. Anak yang dibilang nakal dan tidak sopan ini, sejauh yang kulihat ya biasa saja. Bahkan setiap mau masuk ke rumahku dan mencari Ar Ir, selalu mengetuk pintu dan mengucap salam. Aku melihat sih, dia punya potensi berlaku negatif dan cenderung mendominasi. Mungkin karena dia yang paling tua di 'gerombolan' bermainnya.

Lalu kupikir, mungkin aku yang tertipu dengan sopan santunnya. Sambil lalu (dengan sungguh-sungguh) aku bertanya kepada sekitaran tentang tingkah laku anak ini. Aneh, hampir semua mengatakan hal yang sama. Anak ini nakal dan suka berbohong.

Entah ya. Antara percaya (karena banyak yang ngomong) dan tidak percaya (karena belum lihat sendiri). Kalaupun benar, mungkin ada sebab dia berperilaku begitu, entah apa. Yang jelas sebenarnya dia masih bisa diajak beraktivitas positif, dan harapanku, itu membuat lupa pada kebiasaan buruknya (seperti kata orang-orang).

Pagi ini anak-anak berkumpul. Main badminton. Nonton tivi. Jalan-jalan keliling blok. Sesekali dari mulut mereka keluar suara ketukan yang diajarkan guru perkusinya kemarin sore.

Biar deh apa prasangka orang atas anak-anak ini. Atau mungkin atas aku. Aku sendiri punya masa kecil yang penuh energi dan banyak mimpi. Taman bermainku adalah kebun, tanah lapang, hutan. Perangkat mainku adalah kayu, pepohonan, tanah, batu, pasir.

Jaman dan lingkungan mungkin sudah berbeda. Tapi setidaknya anak-anak ini punya energi dan gairah yang sama besarnya. Mereka bersemangat sekali belajar main perkusi. Selalu datang sebelum gurunya tiba. Dan terus bertanya kapan mereka akan tampil.

Ha. Aku sendiri masih bingung mereka mau kutampilkan kapan dan di mana. Nanti juga ketemu. Bukan soal sulit. Jadi kujawab aja, mereka akan segera tampil, kalau latihan mereka rajin dan selesai berlatih satu komposisi.

Aku juga tidak sabar ingin melihat mereka beraksi.

Saturday, April 21, 2012

what. a week!

this week Ar and Ir got their green Tae Kwon Do belts, and Ibit got her striped yellow one.

then finally our flash fiction anthologies were finally published! Ibit's ff in book #1 and mine in book #2. these books were written together by 80 bloggers over Indonesia...

and the fun thing was the Kartini Day, when Ar and Ir and Ibit decided to wear 'profession costumes' instead og traditional tribal costumes. Ar and Ir chose to be Indonesian Army Generals, while Ibit liked to wear my uniform and be a Governance Officer...