Showing posts with label traditional. Show all posts
Showing posts with label traditional. Show all posts

Sunday, August 3, 2014

Dapur Rumah Kami

Sebenarnya ini dapur rumah Simbah, Simbah dari Dan. Seperti umumnya di desa tempat Simbah tinggal, rumah Simbah adalah model Jawa yang lengkap terdiri dari pendapa (rumah depan), rumah belakang dengan senthong-senthong (kamar) dan dapur. Luas keseluruhan hampir satu blok di perumahan tempat kami tinggal :D

Rumah-rumah dengan pakem asli, hanya menghadap ke utara atau selatan. Dan dapur selalu berada di sebelah timur. Pasti ada filosofinya. Tapi aku ndak sempat baca-baca atau cari info tentang ini. Dapur, dalam bahasa Jawa disebut 'pawon'.

Ada banyak bagian penting dari pawon. Mari kita mulai dari dinding sebelah timur. Panci, kuali, dandang, wajan, ditempatkan di atas rak yang disebut 'paga', digantung di dinding.

Paga.

Untuk tempat penyimpanan air, pawon yang asli memakai gentong tanah dan siwur (gayung) dari batok kelapa. Tapi Bapak mengganti gentong dengan bak berlapis porselen supaya lebih mudah dibersihkan. Meskipun begitu, Simbah tetap menyebutnya 'gentong'.

Gentong dan sinar matahari pagi menembus sela-sela genting.
Di tengah ruangan terdapat pawon, yaitu tungku, yang menjadi nyawa ruangan ini. Mungkin ini sebabnya, ruangan ini, dapur, juga disebut pawon. Simbah punya tiga set pawon yang masing-masing mempunyai satu lubang di depan untuk tempat kayu bakar, dan tiga lubang tungku. Sekali membakar kayu bisa untuk 'ngobori' tiga alat masak sekaligus. Biasanya masak air di tengah. Kemudian di kanan kirinya mengukus nasi dan memasak sayur atau menggoreng lauk.

Pawon.
Tidak ada rak bumbu. Tapi ada amben/dipan ini. Di sini diletakkan segala macam bumbu dan bahan masakan yang masih mentah. Di sini pula Simbah atau Mamak, kadang aku kalau pas bantu-bantu, duduk memotong sayuran dan meracik bumbu.

Amben bumbon.

Piring, gelas, sendok, mangkok, cobek, sutil dll. diletakkan di rak.

Rak piring.

Jika sedang tidak memasak macam-macam, menyalakan api di pawon bisa jadi boros kayu. Ada tungku kecil untuk satu panci/kuali saja. Tungku ini disebut 'keren'. Bukan, bukan dibaca seperti 'keren' yang artinya 'cool' itu. Keren dengan 'e' lemah seperti pada kata 'seperti'. Keren ini biasa digunakan kalau hanya ingin memanasi sayur. Atau masak mi instan :D

Keren.

Itu  kalau Simbah. Berhubung aku tidak bisa daden geni (menyulut api di tungku) maka dengan semena-mena aku menyusupkan kompor gas ke pawon Simbah. Sengaja tidak kutampilkan fotonya di sini, merusak keindahan. 

Di sudut lain ada 'jayengan'. Di sini tempat bikin aneka minuman. Teh, kopi, atau sekedar air putih. Ada tiga termos yang siap dipakai untuk bikin teh jika ada tamu sewaktu-waktu. Ya iya lah. Kalau aku di rumah cukup memanaskan sedikit air di atas kompor kalau mau bikin teh atau minuman panas. Tapi kalau pakai cara itu di sini, belum selesai menyalakan api di pawon, tamu yang mau dibuatkan minum sudah selesai berkunjung dan pamit pulang :))

Ada yang hilang dari sudut ini. Dulu ada kendi di atas meja bundar pendek itu. Sekarang entah di mana. Pemenuhan kebutuhan air dingin digantikan oleh kulkas.

Jayengan.

Ada lemari khusus tempat menyimpan bahan makanan tahan lama. Minyak goreng, gula pasir, teh, kopi. Juga perabotan yang jarang dipakai. Baskom, piring, mangkok, rantang, teko. Ada dua lemari seperti ini di pawon.
Lemari.

Inilah penampakan pawon Simbah dari satu sudut. Di dapur ini dimasak dan disiapkan segala hidangan setiap ada hajatan. Gotong-royong di desa Simbah masih sangat kuat. Setiap ada hajatan, tetangga akan datang untuk membantu memasak. Ada yang spesialis menanak nasi dengan dandang dan kukusan, ada yang spesialis bikin bumbu pecel, dan spesialis-spesialis lainnya. Kalau pas rame-ramenya, bisa 20 orang berada di pawon Simbah sekaligus. Menggelar tikar atau duduk di dingklik. Merajang,  mengulek, mengaduk, membetulkan api, dan tentu saja, ngerumpi ;)



Meskipun masak dengan kayu yang berasap, tapi ruangan yang tinggi dan lega ini membubungkan asap ke atap dan keluar menembus celah-celah genting. Tetap lega. Dan aku pernah baca lupa di mana, konon seorang ibu yang memasak di dapur model kuno semacam ini, dalam sehari bisa mondar-mandir sampai 12 km. Luar biasa!

Sunday, November 24, 2013

The Dilemma

"I wish Pak Toni has never told me about this contest, so I didn't need to have a dilemma, whether I had to join or not."
"Does it matter if you didn't join?"
"It doesn't. But it just don't feel right."
"I thought you joined it because you wanted to win the prize?"
"Yeah... but I know it's hard. The contestants are from all over province and they're all good. I just feel I had to join this."

"Andai Pak Toni tidak memberi tahu soal lomba ini, aku nggak perlu bingung, harus ikut atau enggak..."
"Memangnya kalau nggak ikut kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Tapi rasanya ada yang ngganjel..."
"Bukannya Adik pengin ikut karena mau dapat hadiahnya?"
"Iya sih. Tapi kayanya sulit. Pesertanya banyak, dari seluruh Jawa Tengah. Semua bagus-bagus. Aku merasa harus ikut aja sih..." 

Because for the last three years he has been chosen to represent his school in annual Macapat Singing Contest (Javanese traditional song) in the district. It wasn't his desire. It was just the school needed some one, and the teachers thought Ir could do it. So they had an instructor come to teach Ir. And he made it at least in the subdistrict level.

Karena tiga tahun terakhir ini, dia dipilih untuk mewakili sekolah di lomba Macapat yang rutin diadakan tiap tahun di Kabupaten. Bukan dia yang ingin. Tapi sekolah butuh anak yang bisa, dan para guru merasa Ir bisa. Maka mereka memanggil pelatih untuk mengajari Ir nembang Macapat. Hasilnya lumayan, bisa berhasil di tingkat kecamatan.

So he felt as he has the ability, a rare ability, it would be a lost to let a chance passing by.

Jadi karena dia merasa punya kemampuan itu, kemampuan yang sangat jarang, dia merasa eman kalau harus melewatkan kesempatan.

Though he knew he might not make it this time, he pushed him self to come and sing it. He let go a day he could go have a vacation with family. He chose to stand there in the line, waiting for his turn to perform. Number 31 of 35 contestants. In the pressure of nerves and be a witness to many gorgeous voices before him.

Meskipun sadar kali ini kesempatan untuk menang kecil, dia tetap memaksa diri untuk ikut. Dia melepaskan satu hari yang biasanya dipakai untuk berlibur bersama keluarga. Memilih menunggu giliran dia untuk tampil, urutan ke 31 dari 35 peserta. Merasa tertekan oleh rasa gugup dan menjadi saksi suara-suara peserta sebelum dia yang luar biasa.

He hugged me tight before walking to stage, and after stepping down of it. He realized a little mistake he made, and feel fine to accept that he wouldn't be able to win the prize.

Dia memeluk aku erat sebelum naik panggung, dan sesudah turun. Dia menyadari kesalahan kecil yang dia buat saat nembang, dan ikhlas menerima bahwa dia tidak akan bisa memenangi lomba.

Here is his perform, with a little drop down at the end of the song...
Ini penampilannya di tembang wajib, dengan sedikit nada yang anjlog di bagian akhirnya... 




"But it feels sooo right. I've done what I had to do." 

"Tapi rasanya lega. Nggak ngganjel lagi..."

And I am so proud of him.

Wednesday, September 30, 2009

Batik Indonesia

PhotoStory Friday

Hosted by Cecily and Linds


where did Batik come from?
I would answer: Indonesia
dari mana asalnya batik?
aku pasti akan jawab: Indonesia

Some other countries have claimed Batik as theirs. Well I don't learn much about the history of Batik so I could not protest this, although basically I could not agree with the claim.
beberapa negara mengklaim batik sebagai miliknya. lha aku ngga terlalu ngerti juga sejarah perbatikan, jadi ngga berani protes. meskipun sebenarnya dalam hati jelas aku ngga setuju klaim mereka

But finally, UNESCO has decided to announce hand made Batik from Indonesia as one of World Heritage. The announcement will be tomorrow (October 2 - 2009). So now I have no doubt, Batik is from Indonesia.
akhirnya, UNESCO memutuskan untuk mengumumkan Batik Indonesia sebagai salah satu warisan budaya dunia. pengumumannya akan dilakukan besok (2 Oktober 2009). jadi tidak ragu lagi, batik memang dari Indonesia

Indonesian Traditonal Batik is very unique. It took long process to coloring the fabrics, and has various patterns and colors. Hand made batik, I guess including writing-batik, the type which the pattern is manually painted by hand using batik-wax. And also stamp-batik, the type that the patterns painted using a stamp.
batik tradisional Indonesia itu istimewa. proses pembuatannya lama, warna dan polanya juga sangat bervariasi. batik hand-made itu, menurutku termasuk batik tulis dan cap. batik tulis digarap dengan menggambar secara manual menggunakan canting dan malam. sedang batik tulis menggunakan bantuan alat cap

painting batik


stamping batik


washing the wax


Indonesian handmade Batik



to show the world how proud us to have batik, the President himself has asked us Indonesian to wear batik on October 2. and there is noway I will miss it.
untuk menunjukkan rasa bangga, presiden sendiri mengajak kita semua untuk memakai batik tanggal 2 Oktober nanti. jangan sampai ketinggalan...




updated:
this is a collage of some Loenpia.net (Semarang blogger community) members proudly wearing Batik in this very special day. Picture taken from mailist Loenpia. Can you see me?

Wednesday, August 26, 2009

Warak Ngendhog, a tradition.

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and MamaGeek

Begitu banyak cara yang dilakukan orang untuk menyambut Ramadhan. Di Semarang, binatang imajiner Warak Ngendhog muncul setiap kali menjelang Ramadhan

There are so many ways for Moslems all around the world to welcome Ramadhan, the fasting month. Here in Semarang, an imaginary animal called Warak, shows up to welcome Ramadhan.

Setiap bulan Sya'ban, bulan sebelum Ramadhan, ada semacam festival di Semarang yaitu Dugderan. Bisa dibilang ini seperti pasar malam, tapi barang-barang yang dijual adalah khas dugderan. Di antaranya celengan sapi dari tanah liat dengan berbagai ukuran, piranti masak-masakan, dan salah satunya adalah Warak.

Every Sya’ban, the month before Ramadhan, we have a festival, a fair, any thing you call it. We call it Dugderan. So many goods are sold there. But what makes it unique is there are special toys for boys girls sold only in this fair, and one of those is Warak.

Warak adalah binatang imajiner. Badannya berbentuk seperti kambing, namun kepalanya seperti naga. Warak yang berupa mainan, ukurannya relatif kecil. Memiliki empat roda. Bulu keritingnya yang seksi warna warni meriah dibuat dari kertas minyak. Belum diketahui dengan pasti sejak kapan binatang khayalan ini ditemukan, pun siapa penemunya. Para pengrajin mengaku mendapatkan keterampilan membuat warak ini secara turun temurun tanpa mengetahui sejarahnya.

Warak is an imaginary animal. Its body is like goat but its head is lika dragon’s. Warak as a toy is small. It has four wheels so you can put a rope on it, and pull it while walking, and it will follow you like a dog. Its curly sexy hair made of colorful oil paper. Nobody knows who invented Warak, or when it was invented. People who make and sell Warak nowadays get the ability making it from their parents without knowing history behind.

Puncak dari Dugderan adalah festival Warak Ngendhog. Ngendhog adalah bahasa Jawa yang berarti bertelur. Apakah ini berarti Warak itu betina? Atau sebenarnya ada betina dan jantannya, tapi hanya betinanya saja yang ikut festival? Bukan juga. Sebenarnya, malah tidak jelas apakah ada warak jantan, betina, ataukah dia hermaphrodite...

The culmination of Dugderan is the Warak Ngendhog Parade. ‘Ngendhog’ is Javanese means having eggs. The Waraks are having eggs.. Does it mean Warak is female? Or there male and female, but only the female ones join the parade?Not really. It’s not even clear whether warak is male, female or hermaphrodite…

Festival Warak Ngendhog diselenggarakan tepat sehari sebelum Ramadhan, yang kali ini jatuh pada tanggal 21 Agustus 2009. Kebetulan kemarin aku sedang berada di Jalan Pemuda, jalur yang dilalui arak-arakan festival yang diawali dari Balaikota, melalui jalan-jalan protokol dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah.

Warak Ngendhog Parade is held right one day before Ramadhan. This year it is on August 21. Fortunately I was there on the street where the parade was held, before it is going to Masjid Agung Jawa Tengah




Warak yang diarak untuk festival tentu saja berbeda dengan warak mainan yang dijual di Dugderan. Ukurannya lebih besar, rata-rata sebesar sapi bahkan ada yang lebih. Dandanannya pun lebih meriah baik deri segi warna maupun bentuknya. Kepala naganya lebih nyata, sebagian dibuat mirip dengan kepala barongsai yang bermata genit itu.

Waraks for the parade are off course different with the toy version. They are in bigger size, as big as a cow, some even more. They also dress up more colorful. The dragon head looks more real. Some are made like a Barongsai head.





Susah banget mau ngambil gambar yang bagus, penontonnya padee....ttt!!

It was a little bit difficult to take a good shot. Look at the crowd.....





Jadi... Selamat menjalankan ibadah Bulan Ramadhan!

So… Happy fasting month, for Moslems all around the world!

Sunday, August 2, 2009

artists at work

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and MamaGeek


Semalem kami jalan-jalan ke Jateng Fair, acara tahunan yang biasanya diadakan antara pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus untuk menyambut hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus.
Masih seperti acara tahun-tahun sebelumnya. Tapi kali ini kami nemu sesuatu yang menarik. Sebuah toko batik membuka pelatihan batik, dan membolehkan pengunjung mencoba sebagian kecil dari seluruh proses panjang pembuatan batik (bayar, tentu saja, Rp. 20.000).

Last night we went to Jateng Fair, an annual event held from medio July until medio August to welcome our indepence day, 17 August.
It was just any Fair we have come to before. But this time we found some thing quite interesting. A batik shop had a batik painting course, and let people to try to do a little part of long process doing the painting on batik fabrics (we had to pay, off course, Rp. 20.000 or about USD 2,5).


Ibit mencoba membatik dengan canting dan malam yang dipanaskan
Ibit tried to paint the batik using 'canting' and the hot melted wax



ini hasilnya setelah diwarnai
this is the result after coloring




membatik dengan malam cair panas kayanya agak berbahaya buat Ar dan Ir. jadi yang jaga standnya membantu proses canting-nya, jadi mereka tinggal mewarnai saja.
I thought hot melted wax is a little bit dangerous for Ar and Ir, so the shop keeper helped them doing the 'canting' process. they just had to do the coloring



kucing, binatang kesayangan Ar
cat, Ar's favorite pet




tadinya kupikir Ir ngga akan cukup sabar. tapi aku salah. hehe... aku lupa kalau Ir pernah juara lomba mewarnai, jadi pastilah dia bakal sabar kalo cuma nggambar beginian aja...
at the beginning I thought Ir wouldn't be patient enough to do this. but I was wrong. I forgot that he once won a coloring contest. so doing such thing must not be so hard for him



serangga yang tidak menakutkan
a not-scary bug


bener-bener cucunya mbah Sungkono mereka ini. darah seni-lukis beliau mengalir di tubuh anak-anakku...
they truly are Pak Sungkono's grand-kids. his 'painting-art blood' flows in my children's bodies...

Thursday, July 16, 2009

From Solo Batik Carnival 2009

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and MamaGeek



Solo is one of batik center. It has specific highly artistic patterns..
Solo adalah salah satu pusat batik. Polanya khusus dan berseni tinggi.

Solo Batik Carnival is an annual event, and this year was the second. It was held on 28 June 2009 and I was there with Dan! (I can't remember how I could forget to post about this then). I don't have much to tell, but I have a lot to show...
Solo Batik Carnival adalah acara tahunan yang kali ini digelar untuk kedua kalinya, pada tanggal 28 Juni lalu, dan aku menyaksikannya! (heran, kok bisa lupa ngga langsung posting waktu itu ya?) Aku ngga punya banyak cerita, tapi ada banyak buat dipamerkan...


the participants help each other to prepare them selves before the carnival begun
para peserta saling bantu bersiap sebelum karnaval dimulai


oh this poor lonely clown..
oh badut yang malang, kesepian...



even elementary school students participated also
anak esde banyak juga yang ikut



look at those beautiful princesses!
lihat, putrinya cantik-cantik!



ah, those warriors are nothing compared to my hero, Dan :P
ah, para ksatria tu ndak ada apa-apanga dibanding pahlawanku, Dan :P


yoo hoo... can you find me?
yuu huu... bisa lihat aku?



aren't they gorgeous?
mereka mempesonakan, kan?



it was HOT but fun...
panas tapi senang..

Friday, April 17, 2009

I speak trilingual, do you believe it?

aku bicara tiga bahasa, percaya ngga?

for this weeks sundayscribblings prompt: language

click my blog tittle and scroll down slightly, or you may want to read my post one by one. like doing a psycho test, you'll find a pattern...
klik judul blogku lalu scroll down pelan-pelan, atau mungkin mau baca dengan teliti satu per satu. seperti ketika mengerjakan psycho test, kamu akan nemu sebuah pola.

yup I write bilingually. in English and Bahasa Indonesia. I know my English is not so fluent. my grammar is far from perfect. I never took an English course. I only learned it at school, and listen to or read some "English" I can see or hear around me.
yup. aku menulis dalam dua bahasa. Inggris dan Indonesia. aku tahu sih bahasa Inggrisku ngga sempurna. lha gimana, aku memang ngga pernah kursus bahasa inggris. belajar cuma waktu di sekolah, ditambah baca dan mendengarkan apa yang bisa dilihat dan didengar di sekitar..

do I care at all? oh I did, long ago. but people, from Indonesia and even the English native speakers said that my English, with some mistakes here and there, is understandable. *wow, I thought 'understandable' wasn't a word, but my spelling checker didn't underline it red, so it is a word...*
memangnya aku peduli? dulu, iya. tapi kata orang-orang, bahkan yang native speaker bahasa Inggris, katanya bahasa Inggrisku walaupun salah di sana-sini tapi bisa dimengerti.

did I make a mistake writing my post tittle? no. I do speak trilingual. my third, which is actually the first language I learn in my life, is Javanese.
eh, apa aku salah nulis judul? engga. aku memang bisa bicara tiga bahasa. yang ketiga, adalah justru bahasa yang pertama kali kukenal dalam hidupku: bahasa Jawa

there are hundreds (or may be even thousands?) origin languages of hundreds (and again, may be thousands) tribe in Indonesia. Javanese is only one of those. I know some people don't speak traditional languages any more. for many reasons. some because they married people from different tribe with different language. some, married people from the same tribe with the same language, but live in community of vary tribes. so it will be easier for them and children to communicate each other with Bahasa Indonesia. some even speak English daily for many reasons too.
ada ratusan (atau mungkin ribuan) bahasa asli di Indonesia, yang dimiliki oleh ratusan (lagi-lagi, mungkin malah ribuan) suku. Jawa cuma salah satu. aku tahu sekarang banyak yang lebih memilh bicara Bahasa Indonesia. karena perkawinan antar suku, atau karena lingkungannya memang bhinneka tunggal ika, jadi lebih mudah memakai bahasa Indonesia untuk berkomunikasi satu sama lain. malah ada yang sudah pakai bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari.

I speak Javanese and Indonesia to my children. but they prefer to speak Indonesia more. what can I say, people around us, their friends and teachers, mostly speak Indonesia.
aku bicara bahasa Jawa dan Indonesia kepada anak-anakku. tapi sepertinya mereka lebih suka ngomong bahasa Indonesia. mau gimana lagi. sekitar mereka hampir semua memakai bahasa itu.

how dare I call my self trilingual when I don't speak English daily! oh pardon. I do, some times, with some friends and Dan *but Dan always replies in Javanese... he understands but can not speak it*. and off course I speak English a lot, here in my blog. enjoy....
pede banget aku menyebut diri bicara tiga bahasa! oh maaf. paling tidak aku suka ngomong Inggris juga sedikit-sedikit dengan teman dan Dan *meskipun Dan selalu nyautnya malah pake bahasa Jawa*. dan lihat saja, aku bicara bahasa Inggris banyak, di sini, si blogku.

Monday, March 16, 2009

it wasn't worth that much....

tiwas penasaran, kaya apa yang namanya grebeg mulud. tahun lalu katanya ada 16 gunungan. aku pernah baca harusnya ada 30 gunungan. lalu segala pusaka kraton di keluarkan.
aku udah mbayangin sesuatu yang megah dan sakral, yang bakalan bikin merinding dan bergetar.
tapi dapetnya ini...

I was so curious, how a Grebeg Mulud is. Last year, they said there were 16 gunungans. I read somewhere, there should be 30. Then all the Kraton's Pusaka (weapons) would be brought out. I was ready for a chilling gracious moment.
And this was what I got...


drumband pembuka jalan-nya kalah banter sama drumband-nya Ar Ir
the opening drum band, ah... Ar-Ir's Drumband Group sounds even louder



lalu keluarlah prajurit ijo
then came out the 'green' soldiers



diikuti prajurit biru
followed by blue soldiers



dan prajurit merah
and red ones



dan gamelan kyai... apa ya? kanjeng?
and a set of Gamelan Kyai Kanjeng



ini yang dinanti-nanti Ar Ir: gunungan. gunungan pertama adalah gunungan jaler, yang isinya sayur dan buah2an
these were what Ar-Ir have been waiting for: gunungan. the first to come out was the male gunungan, made of fruits and vegetables



di belakangnya ada gunungan estri, dari rengginang dan jajan pasar. total gunungan ada tiga pasang, atau enam buah. dikit amat! tapi bentuknya sama semua, jadi ga usah dipasang gambarnya yang lain.
behind it, the female gunungan made of rengginang and some other traditional snacks. there were three pairs of gunungan. compared with last year, it is a small amount. they all looked the same so I only put pictures of a pair of the gunungans.



setelah itu muncul rombongan prajurit pemanah
after that, the archeries



udah. barisan ditutup dengan para abdi dalem yang jumlahnya banyak banget....
that's all. the parade was ended with all the abdi dalems (palace servers), so many of them.

yah.... lepas dari kenapa grebeg mulud ga semegah yang kubayangkan, ini tetaplah usaha pihak kraton untuk melestarikan budaya. dan walaupun rasa penasaranku cuma terbayar sebegitu, lumayanlah. buat pengalaman sekali seumur hidup...
well... ignoring why the Parade wasn't that big, this was still the effort of Kraton Solo to maintain a traditional moment. And even though my curiousity wasn't paid enough, that did okay. as once in a life time experience...

yang bikin tambah ngga cucuk adalah, semua gambar ini aku ambil cuma pake cameraphone-ku. harusnya aku bawa kameranya Dan...
what made it worse, was, I took all those pictures only with my cameraphone. I should have brought Dan's Camera, but as I told you, we didn't plan for this...

Note: what I saw was certainly not the whole ceremony. those gunungans and gamelan set brought to the Mosque at North Square for the next procession. You might be interested to learn more about Grebeg Mulud. The link is to Yogyakarta Grebeg. I Couldn't find one for Surakarta, yet.

Tuesday, March 10, 2009

it was, an adventure

some body tore my bag with a cutter or something.
ada yang merobek tasku pake silet



but they didn't succeed getting any thing from it.
tapi tidak berhasil mengambil apa pun

so I thought I'd better put my wallet in...
jadi kupikir sebaiknya aku menyimpan dompetku di...



ah, couldn't think of any better place.
tidak terpikir ada tempat yang lebih baik lagi

it happened last Monday when I and my children and my sister and her children, went to Sekaten. Sekaten is a festival held by Surakarta Empire to memorize Prophet Muhammad's birthday.
kejadiannya Senin kemaren, waktu aku dan anak-anakku dan kakakku dan anak-anaknya, pergi ke Sekaten. Sekaten adalah festival yang diadakan di Keraton Surakarta untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

actually we didn't plan to visit the Sekaten. we only wanted to visit the Surakarta Palace. but, we were so lucky (or unlucky?) because that day was the day of Grebeg Mulud, the culmination of Sekaten Festival.
tadinya kami bukan berencana nonton Sekaten. cuma pengen berkunjung ke Kraton. tapi kami sangat beruntung (atau sial?) karena hari itu bertepatan dengan perayaan Grebeg Mulud, puncak perayaan Sekaten.

Solonese are very concerned about this occasion. well you can call us Solonese. but honestly, this is the first time in my life I attend this annual festival.
warga Solo menganggap perayaan ini sangat penting. kami bisa juga sih disebut rakyat Solo. tapi jujur, ini pertama kalinya kami nonton perayaan rutin tahunan ini.

take a look and you'll see why pickpockets were having fun along the festival.
lihat aja, pantesan copet berpesta pora di sini




why do I let myself trapped in this crowd?
kenapa aku mau-maunya nyebur di keramaian ini?




and let my kids burnt under the 11.00AM sun?
dan membiarkan anak-anak terbakar matahari jam 11.00 siang?




and why should I climb to get best position to take pictures?
bela-belain manjat tembok supaya dapat tempat terbaik untuk memotret?



was it worth what I finally got?
apakah setimpal dengan yang kudapat?

you tell me when I tell what I got, on my very next post.
kasih tahu pendapatmu jika nanti kuceritakan hasilnya, di postingan mendatang.

***************

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and MamaGeek