Thursday, December 13, 2012

Bukan Bahan Perbandingan

Pagi ini aku mengambil rapor di sekolah Ar Ir. Begitu aku duduk di hadapan Bu Guru, aku bertanya ' bagaimana hasil belajar anak-anak keren itu?'

Bu Guru memulai menjawab dengan kalimat, 'Hasil belajar Ar lebih bagus dari Ir...' Sambil mulai mencari-cari buku rapor mereka.

Aku, dengan spontan memotong kalimatnya, karena aku memang tidak ingin dia melanjutkannya.

'Saya mau tahu perkembangan masing-masing. Perbandingan hasil belajar masing-masing dengan hasil belajar mereka masing-masing di UTS lalu. Bukan perbandingan antara keduanya'

Bu Guru seperti terkejut mendengar aku berkata begitu, lalu mulai menjelaskan hasil belajar Ar dan Ir, tanpa mengaitkan satu dengan yang lainnya.

***

Aku tahu, bagi orang yang sekedar melihat tanpa memahami, otomatis akan terlintas untuk membandingkan sepasang anak kembar. Tak hanya tentang pelajaran sekolahnya, tapi mungkin juga tentang hal-hal lainnya.

Aku pun menyadari hal seperti itu akan alami tumbuh di benakku. Tak usahlah antara kedua kembar itu. Kita bahkan cenderung membandingkan satu anak dengan anak yang lain. Yang, sebisa mungkin aku hindari.

Pasti jadi 'penderitaan' tersendiri bagi manusia-manusia kembar, ketika orang memandang mereka tidak utuh sebagai pribadi terpisah, tapi saling membayangi. Ar Ir bahkan punya saat-saat mereka terlihat 'bosan' dengan orang-orang yang salah panggil.

Aku, entah ini dianggap baik atau buruk, selalu berusaha memperlakukan mereka sebagai dua orang yang berbeda. Aku tidak pernah membelikan mereka baju kembar, seperti yang umumnya dilakukan orang tua anak kembar. Mereka bahkan menolak memakai baju kembar, kecuali sekalian rame-rame kembaran dengan sepupu-sepupu. Makin besar, mereka malah kubiarlan memilih sendiri apa yang mereka suka.

***

Nilai yang terpaut lumayan jauh, dalam kelas yang sama, mau tak mau akan jadi bahan perbandingan langsung. Lihat saja, bahkan oleh gurunya. Aku tidak ingin orang-orang menjadikannya begitu. Tapi malas juga kalau harus bicara ke setiap orang untuk tidak begitu.

Jadi paling tidak aku sendiri bersikap tidak begitu. Agar keduanya melihat aku tidak membanding-bandingkan. Oh, gurunya. Iya, kalau padanya aku harus bicara. Karena aku selalu dihantui kisah seorang anak kembar yang gantung diri karena selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya yang selalu ranking 1, sedang dia tidak pernah...


Powered by Telkomsel BlackBerry®

5 comments:

warm said...

ibunya kembar memang terlalu eh sangat serius dalam berbagai hal - -"

putrimeneng said...

setiap anak itu istimewa kan ya, even anak kembar ... mereka pasti punya potensi sendiri-sendiri ... jadi kapan ya aku punya anak kembar *lah*

Anggie...mamAthar said...

Kyknya emg lazim org akan menilai seperti itu mbak... Dan emg harus dari kitanya sendiri (org sekitar/terdekat) yg ga henti2nya mengingatkan bahwa mereka itu BERBEDA..

Vicky Laurentina said...

Setiap kali aku menolong persalinan anak kembar, aku selalu menatap ibunya dengan perasaan prihatin.
Aku bertanya-tanya apakah dia bisa mendidik anak-anaknya kelak tanpa godaan untuk membanding-bandingkan anak-anaknya sendiri.

Betul ketakutannya Mbak Latree itu. Aku aja sering sekali dibanding-bandingkan dengan adekku yang beda usianya 3 tahun dari aku, apalagi anak kembar yang paling banter beda usianya cuma beberapa menit.

Latree said...

tuh, perhatikan kata bu dokter... dia memahami kekhawatiranku...