I'm just a piece of dandelion seed, that flew with the wind, away from where I used to be, to find a place to belong to, but I won't forget who I was
Friday, March 29, 2013
Otot
Sejak awal Dek Ai' memang tidak sabaran kalau menetek. ASI memang tidak langsung keluar sekali hisap. Harus beberapa kali hisap dulu. Nah ini yang dia tidak sabar menunggu. Menghisap beberapa kali, ASI belum keluar, dia ngamuk. Lalu nangis sejadinya. Kalau sudah begitu, susah didiamkan. Dan ndak jadi nyusu.
Iya, kalau pakai botol, susu langsung keluar di hisapan pertama. Dek Ai' bukan ndak mau ASI. Dia ndak mau netek. Sampai usia Dek Ai' tujuh bulan, aku masih berusaha meres siang malam. Lalu diminumkan pakai botol. Tapi lama-lama capek rasanya. Aku mulai males. Perlahan sufor berkuasa.
***
Dulu, Ibit sudah bisa minum pakai sedotan di usia tujuh bulan. Aku masih rajin-rajinnya ngurus bayi yang cuma satu. Ndak ada kerjaan lain. Aku buatkan alat khusus untuk melatih Ibit minum dengan sedotan. Ar dan Ir bisa dengan sendirinya, di usia 14 - 15 bulan.
Aku tidak meluangkan waktu khusus untuk mengajari Dek Ai' minum dengan sedotan, dengan harapan dia akan bisa sendiri; seperti mas-masnya. Ternyata sampai usia hampir tiga tahun dia belum bisa. Juga baru saja bisa menumpahkan air kumur dari mulutnya. Jadi sampai beberapa waktu lalu dia belum pakai pasta gigi, dan masih kumur dengan air matang, langsung ditelan.
Baru minggu lalu dia bisa nglepeh air kumur. Tapi aku belum berani kasih pasta gigi. Biar dulu.
Minggu lalu aku membuat alat seperti yang dulu kupakai mengajari Ibit minum pakai sedotan. Dari botol air mineral. Tutupnya dilubangi pas sebesar diameter sedotan. Ketika sedotan di mulut, botol sedikit ditekan untuk membantu daya kapiler air agar naik. It works. Setelah beberapa hari latihan, Dek Ai' mulai bisa menyedot, meskipun masih perlu dibantu dengan tekanan, sedikit-sedikit.
Iya, aku tahu. Botol kemasan air mineral tidak baik dipakai ulang. Jadi aku sedia beberapa buah botol, untuk ganti.
Mudah-mudahan dengan bisa minum pakai sedotan, otot mulut Dek Ai' bisa lebih kuat. Dan dia bisa lebih cepat bicara.
Thursday, March 21, 2013
Double Ten
I don't have much to say
happy birthday
you both have been magics live's brought to us.
Friday, March 15, 2013
Meniru.
Tapi kenapa Dek Ai' tidak mau meniru bicara? Hingga pada usia hampir tiga dia belum juga bisa bicara?
Ketika memulai terapi wicara sekitar empat bulan yang lalu, aku belum punya bayangan bagaimana mengajak anak untuk meniru gerakan mulut, bersuara, apalagi yang bermakna: berkata-kata. Ternyata sebelum anak benar-benar belajar bicara, banyak hal yang harus diajarkan.
Hal pertama mengajar Dek Ai' untuk patuh selama sesi terapi. Belajar konsep. Belajar meniru.
Baru pekan yang lalu pelajaran bicara dimulai. Dek Ai' diajak duduk di depan kaca, dan meniru gerakan mulut terapis. Dan hari ini Dek Ai' mulai mau meniru 'ma' dan 'aaa' dan 'iiii'....
Bagian dari sesi terapi yang jadi favorit Dek Ai' adalah menyamakan gambar. Dua puluh gambar yang berbeda ditebar di atas meja. Setiap kali terapis mengeluarkan satu kartu, Dek Ai' harus meletakkannya di gambar yang sama. Dia bisa. Suka, malah.
Aku ingin memasukkan Dek Ai' ke kelompok bermain. Sepertinya masih ada keraguan dari pihak 'sekolah' untuk menerima Dek Ai'. Mereka meminta catatan dari psikolog, untuk memastikan apakah Dek Ai' bisa diterima atau tudak. Beuh, repotnya.
Oke, sedang dicarikan jadwal bertemu psikolog. Kita tunggu saja.
Saturday, March 9, 2013
Learn to Play
it's been a special effort to introduce toy cars to Dek Ai'. I've bought him many kinds before he accepted one. slowly he enjoyed pushing it forward and backward. later he recognized the head and the tail of the car.
so I brought him to the store and let him choose the toy car he likes. well, the affordable ones, off corse. I asked some helps from the twins, to show him how to have fun with toy cars and play together.
I've introduced him to tunnels, which is a little chair. now I am planning to build some bridges and fly overs. I'm still trying to find the materials...
the other progress is that now Dek Ai' also play with small toy cars, he formerly refused.
I know I have a lot to do. and I believe that every process, and every progress, is a special gift.
Saturday, February 2, 2013
The Telepathy
Mel and I have daughters of the same age, Emma and Ibit. Couple years ago they wrote letters each other. It was interrupted when Mel's family had to move from Oregon to where they live now. I completely understand.
Few days ago Ibit said she wanted to start writing letters to Emma again. I said i had to ask Mel their new address. Guess I was too busy, I forgot to.
Today when I got home I found a letter laid on the table. It was from Emma for Ibit. Oh wow. I felt so guilty. I thought Ibit has contacted Mel through my FB to ask their new address. Turned out she hasn't. She even was so surprise to receive the letter. And happy.
I think it is cute. Sweet. How Emma and Ibit are connected in a way I don't understand. I mean, as long as I know Emma closed her blog for family and doesn't have FB account.
Ibit said it was like a telepathy. No, off course it is not. Whatever it is, it's great. I know it might sounds like an impossible dream but, I hope one day our families will have a chance to meet up. Amin.
Sunday, January 6, 2013
The Balancing
Ibit bercerita, bahwa dia baru saja meletakkan kesempatan untuk duduk di Dewan Galang Pramuka. 'Pelajaran sudah cukup berat, dan aku sudah jadi pengurus OSIS dan Rohis. Aku ingin tetap punya waktu untuk kegiatan di luar sekolah.' Yang dia maksudkan mungkin pergi jalan-jalan atau nonton bioskop. Tapi ternyata juga termasuk ikut terlibat di aktivitasku berkesenian. Bertemu banyak orang dan sesekali tampil di pagelaran. Tentu saja ini melegakan.
Pagi ini aku mengajaknya ke pertemuan komunitas sketser, dan mampir ke pameran kaleng di seberang gedung tempat pertemuan. Barang-barang yang dipajang di pameran itu adalah segala sesuatu yang terbuat dari kaleng, baja tipis bersalut timah, dan semuanya antik. Mulai dari mainan, peralatan minum dan makan, kemasan oli, perman, minyak rambut, sampai sampo. Ada yang masih mulus tapi kebanyakan sudah karatan. Dan dijual dengan harga yang menakjubkan. Bayangkan, sebuah kaleng wadah kertas rokok lintingan yang sudah kusam dan karatan, dibanderol Rp. 100.000.
Mahal? Aku senang Ibit tidak beranggapan begitu. Dia bisa menerima bahwa semua barang di pameran itu adalah benda antik dengan sejarah keberadaannya, bukan barang rongsokan. Dan dia bukan sekedar senang, tapi bangga mendapat kesempatan melihat pameran itu. Keren, katanya. Dia tidak sabar ingin menceritakan pengalamannya hari ini kepada teman-teman sekolahnya besok.
"Tidak ada anak di sekolahku yang seberuntung aku, bisa melihat pameran unik seperti itu."
Dan tidak ada ibu yang sebahagia aku, bisa membuatnya begitu bangga dan gembira dengan mengajaknya melakukan hal-hal (yang tampaknya) sederhana. Yang lebih membahagiakan, sebenarnya, adalah dia mulai memahami bahwa dia butuh aktivitas lain selain nggekeng di dalam pagar sekolah.
Menjadi materi refreshing tapi juga menambah pengetahuan.
Kapan-kapan kita nonton pameran lukisan ya, Mbak Ibit ;)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Thursday, January 3, 2013
The Intelligence
It is sad to hear some one says that your child is stupid, isn't it? Or some thing not exactly that word. Just a sentence such as 'oh, this kid is not stupid ya', which means for once this person thought the kid is.
Sedih nggak sih, kalau dengar ada orang mengatakan anakmu 'bodoh'? Meski ngga senyata itu sekali pun. Misalnya, 'oh, ternyata anak ini nggak bodoh ya'. Yang berarti dia sempat berpikir ini anak bodoh.
I believe every child has their own intelligence. My baby is not speaking yet, may be he's just not there, yet. But when he face his tablet he knows where to touch to get to the games he likes. And he knows how to play the games. He knows how to find his favorite videos and music. He knows what to do with his toys, books, shoes, clothes, milk bottles...
Aku sih percaya, setiap anak mempunyai kecerdasan sendiri-sendiri. Bayiku belum bisa bicara, ya mungkin karena dia belum sampai ke sana. Tapi kalau dia sedang menghadapi tablet-nya, dia tahu caranya menuju games kesukaannya. Dia bisa main gamenya. Dia tahu caranya membuka video dan foto-foto favoritnya. Dia tahu harus berbuat apa dengan mainan, buku, sepatu, baju, botol susu...
He knows a lot more than what people around him think he does.
Dia tahu lebih banyak dari yang diperkirakan orang-orang di sekelilingnya.
Maybe he just needs more stimulant than other kids need. And that's what we'll give.
Mungkin dia cuma butuh lebih banyak rangsangan dari pada anak lain pada umumnya. Kasih dah...





