Saturday, November 28, 2009

Tongseng Kambing

Idul Adha, mau tidak mau memaksaku masak daging kambing.

setelah search di google, inilah resep paling sederhana untuk 'kambing'

500 gram daging kambing
200 gram kubis, potong
2 buah tomat, potong
4 siung bawang putih, iris
6 siung bawang merah, iris
4 buah cabai merah, iris
1 sdt lada bubuk
2 sdm kecap manis
garam secukupnya
500 ml santan

tumis bawang putih, bawang merah, cabai. setelah layu, masukkan daging kambing sampai berubah warna. tambahkan kecap, tunggu sebentar. tambahkan santan, tunggu hingga daging empuk. masukkan garam dan lada. masukkan kubis dan tomat, tunggu sebentar. selesai :)


after a search on google, this is the simplest recipe for 'kambing'

500 grams of mutton
200 grams cabbage, cut
2 tomatoes, cut
4 garlic, slice
6 onions, slice
4 red chilli, slice
1 teaspoon ground pepper
2 tablespoons soy sauce
salt
500 ml coconut milk

saute garlic, onion, chilli. after wilting, put the mutton until its color changes. add soy sauce, wait a minute. add the coconut milk, wait until the meat is tender. add salt and pepper. enter cabbage and tomato, wait a minute. finished:)

Wednesday, November 25, 2009

the new members in the family


today, sasa's babies were born
two cute kittens

Monday, November 23, 2009

bye bye chickenpox

In the last three weeks, chicken pox has made Ir Ar and Ibit stay at home for at least a week – in turns.
It was terrible to see them bearing the fever and itches.
It was horrible to see Ibit standing in front of the mirror and said, ‘Ibu, I look like a monster’ then cried.
I couldn’t even take any picture of them having those dots of the pox all over their bodies - too scary.
Alhamdulillah they have passed through it.
And look at you guys, you are now handsome and beautiful as before!

Dalam tiga minggu terakhir, cacar air telah memaksa Ar Ir dan Ibit untuk tinggal di rumah setidaknya selama seminggu - secara bergiliran.
Menyedihkan melihat mereka merasakan demam dan gatal.
Menyedihkan melihat Ibit berdiri di depan cermin dan berkata, "Ibu, aku terlihat seperti monster," lalu menangis.
Aku bahkan tidak bisa mengambil gambar mereka dalam keadaan titik-titik cacar memenuhi tubuh mereka - terlalu mengerikan.
Alhamdulillah mereka telah melewatinya.
Dan lihatlah, kalian sekarang ganteng dan cantik seperti semula!

Sunday, November 22, 2009

I may not be a pianist

but I am a good actor



Ar turned on a recorded song in the piano and pretended playing it. well, that wasn't good enough, boy. you should slide a little to the right for hi-tones :D

Wednesday, November 4, 2009

tweety VS sylvester

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and Emily



Few days ago Ar found a little bird fallen from its nest on his way home from school. He brought the bird home and took care of it. It was small and still couldn’t fly, yet.
The kids fed it with rice and gave it some water to drink. I was glad the bird liked it.
Beberapa hari yang lalu Ar menemukan seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya ketika pulang sekolah. Dia membawa anak burung itu pulang dan memeliharanya. Burung itu masih kecil dan belum bisa terbang. Anak-anak memberinya nasi untuk makan dan memberinya minum juga. Sukur burungnya mau.

But as we know, a little bird would never get along with cat. And yes, we have this cat Sasa in our house. And believe she is normal. So I told the kids to always be aware and keep the bird out of Sasa’s reach.
Tapi seperti kita tahu, burung ngga bakalan akur dengan kucing. Dan ya, kami punya kucing Sasa di rumah. Aku yakin dia normal, makanya aku selalu ingatkan anak-anak untuk hati-hati dan menjaga Burung Kecil dari Sasa.



Last night before bed, it was Ar’s turn to brush his teeth. He handed Little Birdie to Ibit to keep, because Sasa was around. Ibit just put it on her arm, and…
Semalam sebelum tidur, giliran Ar untuk gosok gigi. Dia meminta Ibit untuk menjaga Burung Kecil karena ada Sasa. Ibit membiarkan Burung Kecil bertengger di lengannya dan...

Sasa pounce it. Ibit try to take Little Birdie from Sasa’s mouth. She did, but the bird was already wounded.
Sasa menerkamnya. Ibit mencoba mengambil Burung Kecil dari mulut Sasa. Dia berhasil, tapi Burung kecil sudah terluka.

I put some iodine on it. Then I told Ibit to put Little Birdie on its box, bring it to her room, and shut the door to make sure Sasa wouldn’t get in.
Aku beri iodine di lukanya. Lalu aku minta Ibit untuk meletakkan Burung Kecil di kotaknya, membawanya ke kamar, dan menutup pintu supaya Sasa tidak bisa masuk.

"Would it be all right? It's wounded and bleeding" they asked.
"I hope it will. Just let it take some rest.." though I know it wouldn't. The wound was too big for such a small creature...
"Apa dia akan sembuh? Dia luka dan berdarah" tanya mereka.
"Mudah-mudahan. Sekarang biarkan dia istirahat.." meskipun aku tidak yakin. Lukanya terlalu besar untuk makhluk sekecil itu...

***

At 01.00 while I was going to do my midnight prayer, as usual (if I could wake up at mid nights) I stepped down stairs to children’s room to see how they were doing. This time, plus how Little Birdie was doing. And I found it cold and stiff.
Jam 01.00 kebetulan aku bangun dan berniat untuk sholat malam. Seperti biasa kalau pas aku terbangun tengah malam, aku menyempatkan turun ke kamar anak-anak melihat mereka. Kali ini, tambah melihat keadaan Burung Kecil. Aku menemukannya sudah dingin dan kaku.




I can not blame my children for crying over it. I remember when I was a child, I cried when my cat was dead …
Aku tidak bisa menyalahkan anak-anak menangisi hal seperti ini. Aku ingat waktu aku masih anak-anak, aku juga nangis waktu kucingku mati...

Thursday, October 29, 2009

Phideo Story Friday: Mutiara dan Bayu

okay, I cheated again. this is not a photo, it's a video.

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and Carissa



just a practice, I and Ibit, before our real performance on 2 november. my friend will be launching her first book. I was asked to perform reading one of her poet. I never read a poet and don't think I can. so I chose to bring her poet to a song and will sing it in a duet with Ibit.

baru latihan... buat tampil nanti tanggal 2 nopember. seorang teman akan meluncurkan buku pertamanya. aku diminta membacakan salah satu puisinya. aku tuh ngga pernah baca puisi. dan rasanya memang ngga bisa. jadi aku memilih menggubah puisinya ke lagu, dan nanti akan kubawakan berduet dengan Ibit.

what do you think?
bagus ngga?




a little mistake would be okay, I think. we'll be good at the time...
salah dikit ngga papa kan. nanti kalau tampil beneran bagus deh...

err... sorry for a blur and dark video. it was taken with a cell phone in the night. not a good scene I know

Thursday, October 22, 2009

I am Published.

PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and Kelli



I can't remember exactly when I started writing. If writing in blog counts, then may be when I started this blog over two years ago.
Aku tidak ingat dengan pasti, kapan aku mulai menulis. Jika menulis di blog dihitung, berarti itu adalah saat aku mulai bikin blog ini.

But writing short stories, umh... I've just been doing it in the past year I guess, on my other blog. I tried to translate some to English. But as English is not my mother language, I bet they don't feel as good as they were in Indonesian.
Tapi menulis cerpen, umh... baru sekitar setahun belakangan ini, di blogku yang lain. Aku sudah mencoba menerjemahkan ke bahasa inggris. Tapi bahasa inggris bukan bahasa ibu-ku, jadi rasanya tidak seindah yang seharusnya.

A good friend of mine suggested me to try to send my writings to magazines or news paper. Hohoho, I wasn't that confident. But I gave it a try. I sent it to a local tabloid, 'Cempaka'.
Few days after I sent my writing, I received a message from the tabloid. They said my story was good but too long. I was asked to edit it become 5-6 pages (from 8). No it wasn't easy. I use to write like water flow, and cutting some parts might change the idea I wanted to share. But still I worked on it, and resent it.
Seorang teman menganjurkan aku untuk mencoba mengirimkan tulisanku ke majalah atau koran. Hohoho, aku masih kurang pede. Tapi aku beranikan mencoga. Aku kirim ke tabloid lokal, 'Cempaka'.
Beberapa hari setelah aku kirimkan cerpenku, aku mendapat sms dari tabloid tersebut. Katanya ceritaku bagus, tapi terlalu panjang. Mereka minta aku mengeditnya menjadi 5-6 halaman (dari 8). Agak susah. Aku terbiasa menulis dengan mengalir, memotong sebagian mungkin akan mengubah ide yang ingin kusampaikan. Tapi aku berusaha, lalu kukirim lagi hasil editanku.

I didn't receive any notification that I would be published. Oh it sucks. I mean, if they didn't mean to publish it, why did they ask me to edit it? But if they would publish it, why didn't they tell me?
Aku tidak menerima pemberitahuan bahwa itu akan dimuat. Menyebalkan. Maksudku, jika memang tidak akan dimuat, kenapa mereka minta aku mengeditnya? Tapi jika memang dimuat, kenapa aku tidak dikabari?

So I just prepared myself for the worst. May be they didn't like my editing and decided not to publish it. But in another side, I still hope that wasn't what happened. So I bought an exemplar of the tabloid this morning, and...
Jadi aku menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Mungkin mereka tidak suka hasil editanku dan memutuskan untuk tidak memuatnya. Tapi di sisi lain aku masih berharap bukan itu keputusannya. Maka pagi ini aku membeli 1 exemplar Cempaka, dan...



Unfortunately the tabloid is not available in online version. So I just share a picture of it here. I wanted to translate to 'whatever-English' so any English reader can at least have an illustration what it was about. But.. ah may be later. Forgive my limited time (and energy).
Sayangnya tabloid ini tidak tersedia dalam versi online. Jadi aku bagi gambarnya saja di sini. Aku ingin menerjemahkannya ke 'Inggris-saksake', jadi paling tidak para pembaa yang berbahas inggris bisa punya gambaran aku bercerita tentang apa. Tapi... mungkin nanti ya. Mohom maaf atas keterbatasan waktu (dan tenaga).

Fiuh, I guess I need to send a copy to my father. He was the one who taught me to tell a story... Thank you, Bapak.
Fiuh, sepertinya aku harus mengirim satu kopi ke ayahku. Beliau yang mengajariku bercerita... Terima kasih, Bapak.

*****

Updated:
I have given my self some time, and now you can read the whatever-English version to the story here.
versi bahasa Indonesia bisa dibaca di sini