Tuesday, July 15, 2014

Lebaran Tanpa Ketupat.

Sampai saat ini aku belum bisa menghayati keterkaitan antara lebaran dan ketupat/lontong opor.
Ibuk tidak pernah masak lontong opor untuk lebaran. Yang kuingat tentang dapur dan lebaran di masa kecilku, justru Ibuk sibuk di dapur sebelum lebaran. Bikin kacang telur dan nggoreng emping. Lalu aku dan mbak-mbakku bertugas mengantar dua makanan itu ke tetangga-tetangga kiri-kanan. Biasanya, kami akan dapat sedikit uang jajan dari mereka yang menerima hantaran. Senang.

Lalu bagaimana dengan hidangan pas hari lebarannya?

Tidak ada yang istimewa. Seperti sarapan hari-hari biasa, nasi pecel di warung Bu Citro. Jadi usai sholat Ied, ada salah satu yang mampir ke Bu Citro untuk beli nasi pecel untuk seisi rumah. Jangan tanya kenapa Bu Citro tetap jualan saat lebaran. Aku ya ndak pernah bertanya-tanya... Bertahun kemudian Bu Citro meninggal. Tapi ada warung lain yang menggantikan jualan sarapan serupa, Bu Parsidi. Ya sudah, digeser satu gang, usai sholat Ied mampir ke Bu Parsidi.

Aku lupa kelas berapa, pernah ingin sekali lebaran dengan ketupat. Masih SD, kelas tiga, mungkin. Keinginan itu mungkin timbul karena melihat di majalah tentang lebaran dan ketupat. Aku tidak berani minta ke Ibu untuk dimasakkan ketupat. Jadi aku memetik sendiri daun kelapa di belakang rumah. Iya, ada satu pohon yang rendah, bisa kuraih dengan ancik-ancik dingklik. Lalu aku belajar menganyam ketupat di rumah Pak Dhe Panijo. Dia penjual ketupat tahu kelilingan, jadi ahli menganyam janur untuk ketupat.

Aku berhasil bikin dua anyaman ketupat. Kubawa pulang, kuisi sedikit beras, lalu aku tumpangkan di dandang ketika Ibuk sedang menanak nasi.

Waktu Ibuk akan mengangkat nasinya, dia melihat ketupatku. Ibuk bertanya siapa yang meletakkannya di situ. Aku. Ibuk ketawa. Bukan begitu cara bikin ketupat, katanya. Aku pengin ketupat untuk lebaran, kataku. Lalu Ibuk minta tolong Pak Dhe Panijo untuk membuatkan ketupat. Bukan sekedar menganyam janurnya, tapi bikin ketupatnya sampai jadi. Ternyata ketupat harus direbus, lama. Duh, kenapa aku tidak pernah memperhatikan Pak Dhe Panijo bikin ketupat ya?

Jadilah lebaran saat itu kutunggu-tunggu. Lebaran yang bukan makan nasi pecel seperti setiap hari sebelum berangkat sekolah. Lebaran dengan ketupat. Karena hari itu Ibuk masak istimewa, pulang sholat Ied Ibuk mengajak keponakan-keponakannya, sepupu-sepupuka yang arah rumahnya melewati rumah kami, mampir. Kita mau sarapan ketupat.Tapi jangan bayangkan ketupat opor. Kami makan ketupat tahu campur. Dan itu pun, dimasak dadakan sehabis sholat itu. Kami dan sepupu-sepupu harus kerja bakti sebelum makan. Memotong dan menggoreng tahu. Merajang kubis. Merebus tauge. Mengulek bawang merica dan kemiri, memasak kuah tahu campurnya.

Bukan lebaran ketupat yang kubayangkan. Duh ternyata Ibuk tidak mengerti juga tentang lebaran, ketupat dan opor. Ya sudah lah. Yang penting lebaran kali itu istimewa dan meriah. Karena lebaran setelah itu menu kami balik lagi ke nasi pecel Bu Parsidi...

***

Sampai beberapa masa ketika anak-anak Ibuk sudah menikah dan beranak-pinak, menu nasi pecel masih dipertahankan. Belakangan muncullah ide untuk mengganti menu dengan yang berbeda. Mbakku membawa lontong dan opor, mertuanya yang masak. Adikku membawa sambal goreng kentang dan ati, tetangganya yang masak. Aku dan mbakku yang lain dan adikku yang satu lagi membantu Ibuk saja di rumah, menyiapkan meja dan piring. Opor masih di dalam panci, juga sambal gorengnya. Ditaruh saja di meja makan. Lalu semua ambil sendiri sesuai kebutuhan.

*Sebenarnya kayanya dulu itu moto panci berisi opor dan sambel goreng atinya, tapi diubek-ubek kok ndak ketemu. Ya sudah, postingannya tanpa gambar...*

Akhirnya lebaran dengan opor.

Tetap saja aku tidak bisa merasakan hakekat ketupat dan opor dalam lebaran. Lebaran tahun ini kami anak-anak Ibuk berencana menghias meja makan dengan urunan masakan lagi. Bukan beli nasi pecel. Tapi belum tahu juga mau menyiapkan apa. Soalnya siang hari pertama lebaran itu juga, rencananya kami mau berangkat kemah di kaki Gunung Lawu. Jadi mungkin masak yang simpel saja. Atau pesan ke tetangga adikku itu.

Lebaran bagiku, bagi keluarga kami, sama sekali bukan soal ketupat atau lontong opor. Bahkan tak penting jika tak ada lontong opor. Tentu saja yang utama adalah tentang bermaafan walau cukup saling salim dan cipika cipiki tanpa adegan sungkem-sungkeman. Kami lebih menikmati momen kumpul bareng. Menikmati setiap detik kebersamaan dengan segala bentuk keriangan. Karena bosan dengan makan ikan bakar dan main kartu remi atau futsal, kemah sehari semalam sepertinya cukup menggairahkan...

7 comments:

HM Zwan said...

sek sek sek,seingatku lebaran tahun lalu kemah juga kan mbk???*merajut ingatan*,kayaknya pernah posting kemah gitu pas lebaran,kalau nggak salah sih....hehehehe

menarik acaranya,pingin juga gitu lebaran bikin acara unik :D

Latree said...

tahun lalu outbond dan main paintball mbaaak hehe...

wuri said...

Keluargaku ya ndak pernah ada opor pas lebaran. Pas Mas Munif pertama ikut mudik, heran kok gak ada ketupat :-)

Lestarie Tarmoth said...

aku juga nggak pernah ada lontong opor dan ketupat, mbak. hihi yang ada emak sibuk ngurusin ponakan yang seabreg :D

Tira Soekardi said...

Selama lebaran aku selaluu di mertua yg menyediakan ketupat entah kalau mertua sdh tak ada, apa aku masih bisa menyediakan ketupat buat anak2ku, masalahnya bikinnya ribet banget, he, he,...coba ada yg buat ketupat instan ya... Memang yg perlu dilihat bukan makanannya tapi makna dari idul fitrinya

Latree said...

ternyata ada juga temennya, ga selalu harus pakai ketupat... hehe

bener mbak Tira, kalau ada ketupat instan pasti kita bikin ya :))

Anggie...mamAthar said...

Haha.. geli baca bikin ketupat mb... Nih aku jg perdana bikin ndiri, dan baru tahu harus di rebus sampai 3 jam.... bayangin aja deh mb... Hehehe...
Gpp di agendain 1 th sekali, masak 3 jam....