Boleh dibilang keluarga kami akrab dengan rumah sakit, rawat inap, dan operasi. Semua anggota keluarga pernah dirawat inap. Semua anggota keluarga yang perempuan, pernah mengalami operasi. Bapak, bahkan sudah berkali-kali. Kami tidak pernah menganggap hal ini sebagai musibah. Ujian, cobaan, mungkin. Bapak dan Ibu selalu mengajarkan untuk kuat dan tetap rasional.
Tapi, tak peduli seberapa akrab kami dengan rumah sakit dan operasi, tetap saja ini bukan hal menyenangkan. Apalagi saat ini, Bapak yang harus dirawat (lagi). Seminggu yang lalu Bapak dirawat karena serangan jantung ringan. Dua hari di rumah, kini Bapak dirawat lagi karena sakit di kandung kemih dan prostatnya.
Melihat Bapak lemah itu benar-benar bikin patah hati. Segala sesuatu diladeni. Bahkan untuk duduk pun harus dibantu. Kemarin-kemarin Bapak masih bisa melucu. Kali ini benar-benar diam. Bicara hanya jika minta sesuatu.
Aku sering tidak tahan untuk tidak menangis. Tapi aku tidak ingin Bapak, atau Ibu, atau siapa pun, melihat. Jadi aku sering minggir sebentar. Atau menyibukkan diri dengan hal-hal tidak jelas di hand phone. Mungkin dikira aku ini apatis, tidak peduli. Atau brangkali mereka tahu kenapa, sebenarnya, aku bersikap begitu.
Paling berat adalah ketika memandikan Bapak. Bukan. Bukan memandikannya yang berat. Tapi menahan air mata supaya tidak jatuh di depan Bapak. Ketika selesai memandikan, aku bilang, 'sekarang saya mau gantian mandi.' So, I went to the bath room. Took a bath. And cried.
Sekarang Bapak sedang di ruang operasi. Ibu, adik dan kerabat menunggui di depan ruang operasi. Ngobrol. Tidur. Nonton tivi. I can't do either one. Jadi aku minggir ke sisi lain gedung yang agak sepi, menuliskan ini. Membiarkan satu dua orang yang lewat melirik perempuan 30an yang duduk sendirian, mengetik di gadgetnya sambil dleweran...
Sehat Bapak. Sehat. PLEASE!!