Showing posts with label Aik. Show all posts
Showing posts with label Aik. Show all posts

Monday, September 21, 2020

medal is not the goal but it is a good motivation.

we the whole family applied to join a fun run that should've been held on 21 march but, as the pandemic came by, it was cancelled. the event organizer decided to delay until september but it seems that in this country the pandemic still won't be over until this year end. not pesimistic, just being realistic.

last month the event organizer announced that the fun run will be changed into virtual run that will be held early october this year. all participants can join by submitting individual run that is recorded to applications such as endomondo or else. that is fair enough although not as fun as real fun run. but who wants to get into crowd in times like this? oh the covidiots of course. but certainly not us.

so last week we took our running starter pack, that should be t-shirt, number, and backpack. we thought the medals would be given as participants submit their recorded run. but turned out the medals were there inside the starter pack.

the kids laughed at it. ar and ir glad that they don't have to run but still get the medals. ibit said, 'i don't deserve this' but too lazy to virtual run. i'm still preparing myself for my own run.

this, was Aik's first fun run. he was so excited receiving the starter pack and couldn't wait to run wearing the shirt and chest number. he always count days one by one everyday every time we scheduled something. that could be annoying sometimes haha. so to reduce the counting we decided that he would run on the closest upcoming weekend. 





we told him that he should run 2,5 km to get the medal and he did 2,8 km (4 laps at the field he ran plus walked around).




it doesn't matter if we don't submit it, he deserve it still. he happy, we proud.

now it's my turn so i deserve the medal we have received.


Sunday, June 28, 2020

there's a time for everything, or may be not.

 

I have stopped wondering when will my son be able to do this or that. if he was meant to, eventually he will. if he was not then it's okay if he can not. human have unimaginable capability but not unlimited. I have learned to accept that everybody (every body) is perfect, and so is  his.



I'm proud that Aik is now cofident enough to ride his bike with additional small wheels. and I am proud that I and Dan made it to ride 21 km with many stop-and-take-a-breath-s.

it's easier (and more peaceful) to focus on things we should be grateful for.


Tuesday, January 14, 2020

Yogya Trip with Aik

Sabtu lalu Dan harus hadir di resepsi pernikahan anak relasinya di Yogya. Acaranya malam. Kalau langsung pulang kok kasihan. Jadi aku sarankan dia menginap saja. Tapi aku ikut.
Akhirnya aku dan Aik ikut. Kami menginap di salah satu hotel tidak jauh dari hotel tempat resepsi. Yang terpenting buat Aik, ada liftnya.
Tidak ada yang istimewa di acara resepsinya, kecuali bahwa bunga-bunga yang dipasang adalah bunga plastik. Ini membuatku terhibur karena, dulu pernah ada yang sedikit merendahkan acara nikahanku yang pakai dekorasi bunga plastik, dan memamerkan resepsi nikahannya yang 'seluruh bunga di ruang resepsi ini asli lho!' Halo, ini adalah hajatan seorang direktur BUMN, pakai bunga plastik, dan nggak masalah.
Yang lebih penting adalah acara minggu pagi sampai sorenya.
***
Kami sudah keluar dari hotel pukul 08.00, Taman Pintar belum buka, jadi kami jalan dulu ke Benteng Vredeburg. Hm... hm... hm.. di sini kayanya aku dan Dan yang lebih menikmati. Tiba-tiba aku paham isi Perjanjian Renville, yang waktu pelajaran Sejaran di SMP-SMA terasa susah banget untuk nyantol di kepala...


Agak siang kami jalan kaki sedikit menuju Taman Pintar. Kami berharap Aik bisa menikmati kunjungan di sana.

Dia terdiam sesaat di titik ini sebelum melanjutkan perjalanan. Dari semua isi Taman Pintar yang dijelajahi, paling betah di daerah Fisika. Nggak terlalu tertarik dengan dinosaurus dan ikan. Hm... hm... hm.... Kamu sukanya apa sih Nak?


Di rumah, malam sebelum tidur, aku pancing Aik untuk mengingat binatang-binatang yang dia lihat di Gembira Loka. Tapi ogah-ogahan banget jawabnya, bahkan sempat keluar jawaban andalan, ‘nggak tau.’
Akhirnya aku pura-pura mengingat. Ternyata dia menyahut.
Gajahnya ada.... berapa ya?
‘Dua.’
Crocodile ada berapa?
‘Tujuh.’
Ada swan warna...
‘Putih.’
Ada harimau.
‘Warna orange, asleep. Ada bola merah.’ (Di kolam dalam kandangnya, mungkin untuk mainan).
Ada monkey nggak ya?
'Monkey awake. Not asleep.'
Mami lihat flamingo ijo.
‘Eh salah, pink.’
Aku berhenti.
Dia bukan tidak ingat, tapi sedang males. Mungkin saking capeknya. Jadi aku ucapkan ‘good night.’



Sepertinya ide bagus juga untuk lain kali mengajak Aik jalan-jalan lagi. Yang penting jangan sampai kecapekan karena terlalu banyak jalan kaki, perutnya sepertinya yang nggak kuat. 




Wednesday, October 2, 2019

Kuda

Minggu pagi kemarin kami mengajak Aik ke CFD Simpang Lima, sekalian mengantar Ar yang mau tampil bersama grup angklung sekolahnya. Sambil jalan aku menawari Aik untuk naik delman, ‘Aik mau naik kuda?’
Memang tidak pernah bisa diduga hal apa yang bisa mengacau mood Aik. Pertanyaan itu membuat dia tantrum sepanjang hari. ‘Tidak naik kuda! Naik kuda tidak mau!’ Kalimat itu diulang terus, meskipun kami sudah bilang ‘Tidak.’ Meskipun sudah dijawab, bahwa kalau Aik tidak mau, ya tidak usah naik kuda.
Beberapa saat tenang, tiba-tiba muncul lagi.  Begitu terus sampai saat akan tidur siang, setelah bangun, sepulang mengaji, bahkan sampai saat makan malam di rumah.
Sebelum tidur, di kasurnya, dia mulai lagi. Aku sudah resah, karena kalau dia berangkat tidur dalam tantrum, tidurnya tidak akan tenang, bangunnya pun rewel.
“Mami...”
“Ya...”
“Aik tidak naik kuda.”
“Tidak. Sudah selesai. Kita sudah pulang. Tidak naik kuda.”
Kupikir dia akan mulai menangis lagi. Tapi ternyata.
“Mami nyanyi.”
“Nyanyi apa?”
“Pada hari minggu.”
Ya Tuhan.
“Mami nyanyi aja. Aik tidak naik kuda.”
Aku menyanyi lagu Naik Delman. Aik ikut berteriak ‘hey!’ dan tik tak tik tuk.
Sesudahnya dia tersenyum. Tenang. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kekacauan.
“Good night Aik”
“Good night Mami.”
Lampu kamarnya kupadamkan. Aku keluar. Kurasa dia segera tidur, tidak lama setelah kutinggalkan.


Sunday, July 7, 2019

Determination

Last month we joined a group camp with Aik's school at Mount Ungaran, as a media to get to know each other and built better communications between parents and families. The plan was to stay one night and hike to the peak in the early morning.


I didn’t expect Aik to finish the hike, but he looked so enthusiastic. He kept walking following other hikers in the group. 

Suddenly at the beginning of the last part from Pos 3 to Pos 4, he had an uncontrollable shit. We helped him cleaning up and continued walking to Pos 4, where it happened again. Thank God we brought some clothes in our backpack.

So I and Dan decided to stop, turned around and walked down. People say we should have kept going up because it was like just a throwing stone away. But no. I thought it was too late already. I should’ve seen that Aik’s body was not ready.


It has been beyond expectation. So we thought we better stop now and try again some other day. With a better preparation and may be don’t let Aik walk fully. We can carry him at some parts so the hike won’t press him too much and we can reach the peak safely.

Thursday, May 23, 2019

Have Faith

Januari 2018, ketika membawa Aik konsul ke psikolog sebelum mendaftarkan Aik ke SD, yang kudapat bukan apa yang kuharapkan. Psikolog yang biasa menangani Aik sedang melanjutkan studi di UGM, tidak bisa ditunggu. Semua tugasnya dialihkan ke psikolog lain yang, lebih muda, imut, dan tampak sedikit rebel.
Aku tidak terlalu puas dengan hasil evaluasinya, karena tes diserahkan pada asisten, wawancara denganku pun oleh asisten. Ketika muncul hasil, aku pengin tertawa sekaligus marah karena nilai kemampuan komunikasi Aik ditulis setara dengan anak satu tahun 2 bulan. Jelas tidak masuk akal, karena pada saat itu Aik sudah dapat berkomunikasi walau patah-patah. Psikolog sebelumnya sudah tidak lagi menghitung jumlah kata yang dikuasai karena sudah jauh di atas 100 kata. Aku minta penjelasan bagaimana bisa muncul kesimpulan seperti itu.
Mbak Psikolog mengeluarkan catatan pengamatannya. Menjelaskan bahwa nilai kemampuan komunikasi adalah agregat dari nilai beberapa kemampuan lainnya, yang kemudian dihitung dengan rumus tertentu. Dia menunjukkan komponennya, dan nilainya. Aku lupa di komponen apa, ada yang dicatat kemampuan Aik setara dengan bayi 3 bulan. Come on.
"Tiga bulan? Serius?"
Aku minta tes diulang, tapi ditolak. Entah tersinggung entah malu, Mbak Psikolog menutup semua hasil tes, dan dengan keras tegas berkata, "Oke mungkin ada sedikit kekeliruan di tes ini. Tapi hasil secara keseluruhan kemampuan Aik masih jauh di bawah usianya sekarang."
Bahwa aku punya PR yang sangat banyak. Bahwa aku harus bekerja sangat keras mengejar ketertinggalan. Bahwa Aik belum siap masuk SD. Kemampuan verbalnya rendah. Kognitifnya rendah. Motoriknya jelek.
"Dia belum bisa menulis. Apa ada sekolah dasar yang membolehkan anak tidak menulis? Bagaimana nanti saat tes? Apa dia mau mengerjakan? Apa dia mampu mengerjakan?"
Jika aku ngotot memasukkan Aik ke sekolah umum, itu hanya sekedar main-main. Aku harus siap jika dia tidak naik kelas. Aku bahkan harus siap jika sekolah menganggap Aik tidak bisa mengikuti sistem pembelajaran dan harus mencari sekolah khusus.
Pulang dari kantor psikolog bukan merasa ringan, aku justru merasa lebih banyak beban. Rekomendasi dari Si Mbak 'dapat mendaftar ke sekolah dasar dengan didampingi shadow teacher.'
It's okay. Saat itu memang itu saja yang dibutuhkan.
Ini beda banget dengan yang kurasakan setiap konsul dengan psikolog sebelumnya. Yang selalu tampak antusias dengan perkembangan Aik sekecil apa pun. Yang selalu menyemangati aku dengan kata-kata yang menyenangkan. Bukan 'selama ini ibu kurang memberikan stimulan.'
Aku senang Si Mbak bilang bahwa Aik belum butuh konsul lagi sampai dua tahun kemudian. Oh ya, aku juga males ketemu dia kurang dari itu. Dua tahun lagi mungkin psikolog sebelumnya sudah kembali bertugas.
***
Sekitar dua tahun lalu ketika survey sekolah untuk Aik, di salah satu sekolah yang kami datangi, Ibu Guru yang menerima kami walaupun ramah tapi tampak kurang terbuka. Aku merasakan penilaian yang 'kurang' terhadap Aik. Dari awal menyampaikan lebih banyak pesimisme ketimbang optimisme. Entah aku yang sensi atau memang dia ingin secara tersirat menyampaikan 'sebenarnya kami males menerima ABK.' Karena yang dicontohkan adalah siswa ABK yang dikembalikan kepada orang tua (baca: dikeluarkan dengan baik-baik), alasannya karena kurangnya kerjasama dari orang tua dalam aktivitas belajar di sekolah.
"Kita nggak bisa berharap anak-anak seperti ini tumbuh seperti anak-anak normal," katanya. Tidak boleh berharap Aik bisa mengikuti pelajaran dan sekolah tinggi, hanya fokus melatih anak untuk mandiri.
"Oh," jawabku, "saya siap jika Aik tidak bisa sekolah tinggi. Saya menyiapkan dia jadi foto model atau bintang film.
"Bu Guru tertawa.
"Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" tanyaku, "Dia punya modal. Dan kalau ga bisa jadi dokter apa salahnya jadi model?"
Bu Guru berhenti tertawa, dan aku memutuskan tidak akan menyekolahkan Aik di situ.
***
Seperti biasa, keraguan bukan datang dari satu dua orang. Aku bahkan merasa cuma aku yang yakin Aik bisa belajar di sekolah umum. Jelas bukan di SD Negeri yang ratio guru banding muridnya terlalu kecil. Tapi bahkan sekolah swasta pun hampir semua memberi sinyal tidak bisa.
Mbahnya selalu bertanya, "Aik bisa ngikuti pelajaran?"
Mbah yang lain bahkan bilang, "Kalau Aik tidak bisa ngikuti jangan dipaksa tetep sekolah..."
What the hell.
Aku sudah lama belajar, dan meyakini bahwa aku lebih baik berjuang sendiri. Karena orang-orang yang diharapkan untuk mendukung bukannya mendukung. Sudah lama aku belajar mengabaikan. Tapi tetap saja kadang sikap mereka itu seperti duri beracun di sepanjang perjalanan.
I wish I have written a journal about how school has been going on.
Bagaimana melatih Aik bersikap dan merespon sikap orang lain di sekolah. Bagaimana memberikan pemahaman kepada Aik bahwa dia harus mengikuti semua kegiatan.
Oh iya, aku sempat mencatat UAS pertama Aik. Ya... hal-hal tak terduga seperti itu sering terjadi. Yang menurut kita sepele tapi sebenarnya prinsip...
***
Minggu ini UKK. Dengan jadwal yang padat jelang lebaran, aku tidak yakin ada dispensasi remidi. Lebih berat lagi karena tes dilaksanakan di bulan puasa. Di sekolah, Bu Guru berpesan agar anak-anak berpuasa, sahur jam 3 pagi dan tidak boleh tidur lagi. Banyak salat di masjid. Dan semua pesan Bu Guru itu dilaksanakan oleh Aik. Salat 5 waktu ngajak ke masjid. Bangun sahur jam setengah empat, nunggu subuh dan salat di masjid, lalu melek sampai berangkat sekolah. Karena jadwal belajar tidak berubah, tetap sampai dhuhur, pulang sekolah langsung pindah ke sekolah khusus. Pulang sore, main sebentar, buka. Lalu taraweh di masjid, tidur tetap pukul sembilan.
Akhirnya aku putuskan selama UKK tidak ke sekolah khusus dulu. Pulang sekolah SD langsung makan dan tidur siang. Iya, aku tidak mau memaksa Aik puasa penuh. Walau ibu-ibu di grup whatsapp dengan bangga menceritakan teman-teman Aik sudah puasa penuh, aku tidak peduli. Walau mereka terus memotivasi, aku tidak peduli.
Selain mulai mengajak Aik belajar intensif sejak seminggu sebelum tes, program utamaku adalah menjaga kondisi tubuh Aik baik. Ngantuk dan capek akan merusak mood, yang berarti akan sulit mengajaknya mengerjakan tes.
Hari pertama UKK Aik mengantuk dan beberapa kali diajak cuci muka. Walaupun harus pakai dipush, dua mata pelajaran selesai dikerjakan.
Hari kedua, shadow teacher mengirim kabar gembira. Aik mengerjakan soal dengan lancar jaya. Tidak mengantuk. Tidak menolak. Bahkan membaca sendiri dan langsung mengerjakan tanpa harus diingatkan.
***

Hai, kenalkan Aik. Hampir 9, sudah bisa menggunakan imbuhan -nya. Sudah bisa bertanya apa, siapa, mana. Sudah bisa berlari. Sudah bisa banyak hal yang orang-orang pikir dia belum atau mungkin tidak akan bisa. Baru saja selesai UKK. Iya, membaca dan mengerjakan soal seperti teman-teman sekelasnya yang kebanyakan orang sebut 'normal'. Sebagai hadiahnya, nanti sore diajak jalan-jalan ke G Fan.


Friday, May 3, 2019

One Step At A Time

And every one takes their own time.

Pencapaian minggu ini adalah, Aik sudah bisa antusias terhadap kegiatan sekolah. Yang pertama Mabit (menginap di sekolah). Sejak pulang sekolah sehari sebelum Mabit, sudah semangat menyiapkan barang-barang yang harus dibawa. Daftarnya ditulis sendiri (tentu dengan didikte Bu Guru) di buku tugasnya. Bukan hanya tidak menolak, tapi justru semangat. "Besok bobok di kantor (maksudnya ruang kantor) sama teman-teman. Bangun pagi jam empat sholat."

Kemarin antusias berangkat outing ke Candi Gedongsong. Sore hari mengajak ke Toko ADA, mau beli Oreo untuk bekal outing. Semua keperluan juga disiapkan sendiri. Yang bikin semangat (sepertinya) karena ada kata 'Songo'. "Candi ada berapa? Sembilan?" tanya dia. Kubilang, "Besok dihitung ya."

Karena bakalan jalan jauh dan medannya lumayan berat, aku pastikan dia pakai sepatu dengan support untuk telapak kakinya yang agak flat. Biar nggak cepat lelah. Doanya jangan hujan. Karena sepatunya kain, kalau hujan harus ganti sepatu sandal gendut yang karet. Tanpa support.

Alhamdulillah cuaca mendung syahdu sampai pulang. Kata gurunya, Aik yang paling semangat berjalan, sementara teman-temannya sudah kelelahan.


Dia tidak tanya kenapa, di Candi Gedong Songo cuma ada enam candi.

Wednesday, November 28, 2018

UAS Pertama Aik

Dalam sejarah menjadi ibu, baru kali ini aku merasakan 'anaknya yang tes ibunya yang stres'
Dengan Ibit, Ar, dan Ir, menemani mereka belajar hanya memastikan mereka belajar. Membantu sedikit yang mereka tida paham dan kutahu. Waktu SD, aku masih bisa mengajari sendiri pelajaran-pelajaran yang akan diteskan. Mulai SMP aku minta tolong guru les untuk datang ke rumah. Di SMA Ibit lebih nyaman ikut bimbingan belajar, sementara Ar dan Ir tetap memilih privat di rumah. Tapi soal belajar selama tes, aku benar-benar hanya 'mengawasi'.

Ini semester pertama Aik di SD, Ulangan Akhir Semester pertama buatnya. Juga buatku. See, metode belajar buat Aik selalu harus beda. Ya sebenarnya metode belajar yang efektif untuk tiap anak bisa saja berbeda. Bahkan Ar dan Ir yang notabene terbikin dari satu telur pun perlu pendekatan yang berbeda untuk bisa paham. Tapi Aik ini benar-benar beda. Maksudku... beda. Sudut pandangnya terhadap segala sesuatu sering membatasi jalan baginya untuk memahami sesuatu. Paham kan maksudku? Tidak. Ya... pokoknya begitu lah. Jadi tantangan bagiku adalah menemukan jalan itu, sudut pandang itu. Sekali ketemu, akan mudah baginya memahami apa yang diajarkan.

Sistem belajar tematik di sekolahnya, menggabungkan semua mata pelajaran dalam satu tema. Jadi materi ulangan dalam satu hari bukan satu mata pelajaran, tapi satu tema. Misalnya hari pertama, temanya My Body. Di situ sudah tercakup IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Agama, semua tentang my body. Sejauh ini Aik tidak kesulitan dengan Matematika dan Bahasa Inggris. Hal-hal yang bersifat hafalan juga lebih mudah dia kuasai. Yang jadi tantangan adalah hal-hal yang perlu menarik kesimpulan. Sudut pandang Aik yang unik, yang kubilang tadi, membuat logika dia juga beda. Dan susah mengajaknya berlogika seperti kebanyakan orang.

Sebenarnya, aku menanamkan kebiasaan pada anakku untuk tiap hari belajar, mengulang lagi apa-apa yang dipelajari di sekolah, sehingga ketika mau ulangan atau bahkan semesteran, yang judulnya belajar bukan lagi belajar dari nol tapi tinggal refresh. Ke Aik pun begitu. Belajar untuk Aik lebih 'menyebar' lagi. Bukan hanya setiap hari, tapi setiap saat dan tanpa terasa belajar. Bisa di tengah main aku ajak mengingat Rukun Iman. Atau sebelum baca doa tidur mengingat hadits tentang memberi hadiah. Tapi aku tetap merasa perlu untuk refresh semua dalam satu kali duduk untuk persiapan tes.

Hari Pertama.
Catatan belajar. Aku fokus pada mempelajari kata-kata Bahasa Jawa untuk anggota tubuh dalam ngoko dan krama inggil. Aku menggunakan metode identifikasi dengan kartu, seperti yang dipakai di tempat terapi. It worked. Aik hapal semua pasangan kata dalam Bahasa Indonesia - Jawa (ngoko dan krama inggil) - English. Yang lupa kuantisipasi, identifikasi dan penggolongan kelompok kata-kata dalam setiap bahasa. Walhasil, pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku tes sekilas hasil belajar malam sebelumnya. "Apa Bahasa Inggrisnya tangan?" Jawabnya, "Asta." Asta adalah 'tangan' dalam bahasa krama inggil. Jadi... sehari-hari Aik suka-suka ngomong pakai Bahasa Inggris tanpa menyadari (dan kubiarkan tanpa kukenalkan) bahwa itu Bahasa Inggris. Jadi dia pikir ya dia itu bahasa aja, alat bicara, tidak peduli bahasa apa. Memang malamnya aku bilang 'kita belajar Bahasa Jawa', kemudian sekilas menunjukkan padanya bahwa 'hands, foot' dan teman-temannya adalah Bahasa Inggris. Tapi sepertinya yang tertancap di kepalanya adalah 'Bahasa Inggris' dan kata-kata baru yang dia pelajari, kata-kata Bahasa Jawa. Tapi tidak ada waktu untuk memperbaiki. Jadi kulepas dia berangkat sekolah sambil tertawa.

Catatan tes. Guru kelas maupun shadow teachernya, sore harinya melaporkan hal yang sama. Aik menolak mengerjakan soal tes. Dua-duanya bilang 'mood Aik jelek sekali hari ini.'
Oke oke. Aku menduga itu monday sicknessnya yang parah. Karena berangkat sekolah tiap Senin memang pertarungan. Libur di Sabtu dan Minggu bikin Senin terasa neraka.
Kata shadow teacher, setiap dibacakan soal Aik langsung jengah dan menolak. Padahal belum sampai ke bagian favorit Aik, Matematika dan Bahasa Inggris. Hanya 7 dari 30 soal yang dikerjakan. Oh wow.
Akhirnya kuminta ijin pada guru kelas, untuk hari kedua mengerjakan mulai dari Bahasa Inggris dan Matematika agar dia gembira dan moodnya lebih bagus untuk mengerjakan soal lainnya.


Hari Kedua.

Catatan belajar. Aku memastikan tambahan identifikasi. Pengelompokan bahasa. Tidak ada yang berbeda dengan yang lainnya.

Catatan tes. Aik mengerjakan soal mulai dari English dan Matematika. Moodnya lebih bagus, tapi... tetap menolak mengerjakan selain dua pelajaran itu. Setelah dibujuk gurunya dan disemangati teman-temannya, 11 dari 30 soal. Progress, but, not enough. Shadow teacher bilang dia sudah membacakan setiap soal dan bahkan (dengan seijin guru kelas) menuliskan operasional matematika dari soal cerita. Oh no. Ini tidak benar. Aku minta Bu Shadow untuk membiarkan Aik membaca dan memahami sendiri soal ceritanya. Kalau dia kesulitan baru dibantu. Jangan dari awal disuapi.
Tantangan utama adalah membuat Aik mau mengerjakan semua soal. Dan karena aku tidak terlibat langsung di arena, pertempuran harus dilakukan oleh guru-gurunya, sementara aku dari jarak jauh cuma bisa memberi masukan dan berdoa.

Hari Ketiga.

Catatan belajar. Malam ini aku mencoba memberi Aik simulasi soal. Jadi bukan sekedar mengulang pelajaran. God I should have been doing this since the beginning!
Aku menyiapkan soal pilihan ganda. Aku minta dia baca sendiri. Dan menuliskan sendiri operasional matematikanya. No Problem. Tapi Aik menolak menyilang jawaban yang benar.
'X salah. Ini benar. Benar tidak boleh X'
Oh my God. Silang adalah tanda salah. Kenapa jawaban benar harus disilang?
'Dilingkari boleh?' tanyaku.
'Boleh,' katanya.
Aku langsung kontak kedua gurunya tentang ini. 'Besok dilingkari saja, kalau begitu,' kata Bu Guru.



Catatan Tes.
Aik mengerjakan tes dengan gembira. Membaca sendiri dan tidak dituntuni. Selesai 21 dari 30 soal.

Catatanku untuk Shadow Teacher: kita (termasuk saya) sering underestimate Aik. Padahal yang dibutuhkan Aik adalah kepercayaan bahwa dia bisa. Bukan ketidakpercayaan dan uluran bantuan untuk hal yang tidak dia butuhkan.

Masih ada kesempatan untuk menyelesaikan dua materi tes tema sebelumnya yang belum tuntas. Ini salah satu hal yang kusuka dari sekolah tempat Aik belajar. Di kelas awal, anak benar-benar dibikin nyaman, dijauhkan dari stres, dibikin gembira. Guru berusaha mengenali dan mengikuti cara belajar yang efektif untuk tiap anak, terlebih ABK.

Seperti janjiku pada diri sendiri, pada Aik, pada psikolognya Aik, pada Bapakku. Aku tidak menargetkan apa pun untuk Aik selama sekolah. Aku hanya meminta dan berusaha memaksimalkan yang ada pada diri Aik. Semoga dimudahkan. Dan diberi kesabaran. Ya Tuhan!

Monday, June 25, 2018

The Graduates

A late post.

So this year all my kids are having their last years. Ibit in High School, Ar and Ir in Junior High, and Aik in Kindergarten. It's been a roller coaster to all. Now as we got down, we are ready for a more challenging one. I am a proud Mama of these graduates. They've struggled and done their best. I couldn't demand more.
All we wish now is a good luck for all. We will do this.



Wednesday, May 30, 2018

Not Afraid of Dentist!

I can never guess (other than what I have known before) what he likes, doesn't like. What makes him uncomfortable. Cutting nails is still an issue untill now, so going to dentist for tooth extraction was a huge worry for me. Finding two teeth had to be extracted was like another bad dream but like always, I had to face.
We visited a dentist once before to check how his teeth were (the result was 'very good' because he brushes hes teeth and doesn't like sweets) and he was quite comfortable with the dentist. He likes the chair, the lamp, the water crane and everything in the dentist room.
So it wasn't too hard to make him sit and open his mouth, until the dentist put some anesthesia and work with her tool. He started screaming, tried to break loose, cried. I and the nurse had to hold him tighter until it was done.



A week after this, we found that another tooth has to be extracted. I was afraid that he would refuse to even just to go to the dentist. But he didn't.  I tried my best to explain that his tooth was shaking and had to be pulled. Mami could do but it might be hurt. The dentist would do better and less hurt. He came to the dentist (again) happily and didn't cry as much as last week.
I understand (well I try to!) how hard it is to be Aik. He has to work harder to learn every thing. Fights harder for the things he doesn't understand. Not that I never try to make him do. But it is really harder to explain things too.
I'm so proud of him that he has learned the  most important thing, he has to accept so many things he doesn't want to. He often whin, seem deppressed (that's when I have to prevent this from happening, which is also so hard because some times it is me who get deppressed...). I hope that slowly he will learn that his struggle will be paid off.


Tuesday, August 15, 2017

Tidak Takut Suntik!

Sejak punya bayi pertama kali, aku menganggap imunisasi itu penting. Seingatku, dulu adem ayem saja tidak ada pro kontra. Makin ke sini punya bayi makin rumit. Soal ASI diributkan. Soal MPASI jadi ramai. Soal imunisasi jadi pro-kontra. Bahkan soal melahirkan spontan atau sesar pun jadi versusan.

So.

Aku masih termasuk ibu-ibu yang menganggap imunisasi itu penting. Yang tidak mau, dengan dalih agama atau pun kesehatan atau persediaan danau orang Yahudi, ya silakan. 

Lepas dari semua itu, yang terpenting adalah, ternyata Aik tidak menangis sama sekali waktu disuntik imunisasi di sekolah!

Mengingat Aik tidak dengan mudah membiarkan orang lain menyentuhnya, kecuali untuk hal yang pasti-pasti (memandikan, membantu pipis, sikat gigi), jelas aku khawatir Bu Dokter dan Bu Guru di sekolah akan kesulitan memegangi Aik saat disuntik. Lha gimana, periksa di Bu Bidan saat pans batuk pilek aja susah. Apalagi aku tidak bisa datang ke sekolah untuk mendampingi.

Maka pagi sebelum berangkat sekolah, aku 'sosialisasi' ke Aik tentang suntik menyuntik ini. Harusnya malam sebelum tidur sih, momen yang biasanya paling nyaman untuk ngobrol dan bermain. Tapi semalam lupa, jadi ya sudah paginya saja, sebelum aku berangkat kerja.

Aik baru bangun tidur dan masih kriyip-kriyip. Waktu aku katakan padanya bahwa nanti di sekolah dia harus suntik, ya dia 'iya - iya' saja. Tapi iya yang sambil kriyip-kriyip itu kok kurang mantab. Apalagi Aik belum pernah tahu apa itu suntik.

Untungnya kami punya spuit kecil yang dulu dipakai untuk memberi minum susu pada anak-anak kucing yang tidak mau menyusu ke ibunya. Jadilah kami main dokter-dokteran sebentar. Aku minta Aik untuk 'menyuntik'-ku, dan gantian aku 'menyuntik' Aik. Agak males-malesan juga dia, karena masih ngantuk. Tapi yang penting dia mengenal aktivitas itu, dan tahu bahwa itu 'tidak sakit'.




Aku bilang, 'Nanti Aik di sekolah, kalau disuntik boleh nangis. Sakit sedikit tapi nggak papa.'
Usai imunisasi, Bu Guru langsung upload gambar anak-anak hebat yang, ternyata, tidak satu pun, menangis saat disuntik. Hebat semua!

Miss Lulu, shadow teacher Aik pun sama cemasnya denganku. Sudah bersiap harus berusaha sekuat tenaga memegangi Aik. Ternyata Aik menurut, dan tidak nangis sama sekali. Bahkan sehabis suntik malah 'tawa-tawa' :)))


Entah apakah karena paginya sudah diajak main suntik-suntikan, atau karena melihat teman-temannya tidak menangis saat disuntik (ini juga mengkhawatirkan, karena melihat anak kecil lain menangis bisa membuat Aik tantrum), atau karena keduanya, yang jelas rasanya legaaaaaa. Semoga bermanfaat untuk kekebalan Aik.

Terima kasih Miss Lulu, terima kasih bu guru semua, terima kasih Bu Dokter.

Thursday, March 16, 2017

Grocery Shopping Time!

Grocery shopping has become one of Aik's favorite activity. Last time we shopped I got him involved instead of letting him run here and there around the store. He pushed the trolly and helped me get the things we needed to buy.
Now as he is in the next step or learning to read, I want to combine the fun of shopping with reading. 

I made him a list of what he had to buy.

So while Ibit did the real shopping with the real list, I accompanied Aik did his shopping. He read the list top down and pick each thing.

Here we go!

Telur - Egg
For a while I thought it was a mistake to put 'egg' on the list. But well we managed to bring the eggs home safely :D

Roti - Bread
Yes that phenomenal brand. We are not endorsing but that's what he likes and I really don't think it is haram.

Tisu - Tissue

Susu - Milk
Well actually it was supposed to be 'susu kental manis coklat' but I didn't want to weigh him with  long name of the item :D

Biskuit - Biscuit
And he reminded me the label as I have drawn on the list

Cashier.
The cashier man seemed so happy to see Aik and his list. I think he knew that I usually bring my own shopping bag so he asked me 'Is it okay to use a plastic bag?' when I told him that I forgot to bring a shopping bag.We brought one but it was for Ibit's shopping. So, well, fine, we used plastic bag.

Shopping done!

We have to do this again some other time, shall we?

Sunday, March 5, 2017

Beyond Expectation


Hari ini jadwal konsultasi dengan psikolog setelah 2 sesi assesment bulan lalu. Sejak menerima jadwal dua hari yang lalu, hati rasa siap tak siap. Bagaimana nanti hasilnya. Apa yang akan dikatakan Bu Lita. Aku takut jangan-jangan apa yang selama ini kulakukan belum maksimal. Aku takut mendengar, 'You could've done better!'

Di luar dugaan, semua yang disampaikan tentang hasil assesment adalah positif. Perkembangan Aik luar biasa, bukan sekedar sesuai harapan. Segala usaha kami sekeluarga (dan dukungan kerabat dan sahabat) sudah bagus dan harus terus dilanjutkan. Senang sekali, Bu Lita pendengar yang baik, penuh empati, dan memberi banyak masukan untuk bisa mendampingi Aik lebih baik.

Dengan usia mental 3 tahun dalam usia fisik 6,5 tahun, aku tahu banyak yang akan mengernyit alis atau mencibir. Mungkin hanya yang paham betul keadaan Aik yang bisa mengerti. Tapi sayangnya tidak semua orang di sekitarku begitu. Sekarang yang jadi PR-ku adalah 'tidak mendengarkan omongan negatif, judging, dan sok tahu.'

Sebenarnya, aku selalu (justru) merasa terbebani setiap ada yang bilang 'tuhan tahu pada siapa Aik harus dititipkan.' Tapi tadi Bu Lita menyampaikan gembira, bahwa aku dan Dan yang menjadi orang tua Aik. Oh Tuhan. Aku ini apalah-apalah. Dan aku sukses nangis di hadapan beliau karena aku merasa tidak berhak dianggap sehebat itu.
.
Kalaupun ada yang menganggap usaha kami belum cukup, yang jelas kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Demi Aik.

Sunday, June 26, 2016

Miracle Before My Eyes


They're about the same age. Aik was born 14 days after my brother's son. I think it was natural for me to expect average growths and developments on them. But what how would it feel when you finally found that your baby is delayed?

It was frustrating, at first, only to see my boy's delayed development. And it became even more when people started to compare him with his cousin. For quite a while I felt uncomfortable every time I had to visit my parents and met my brother, and his son - who grew amazingly as an energetic and smart boy. 
It took time. But I have come to a point, after a long struggle, to accept Aik's condition and focus on helping him instead of thinking about what people say about him. I've learned to ignore whatever makes me uncomfortable about raising Aik. This way I live my life more peacefully. I can love him fully and cherish every progress Aik makes, that looks little for other people but some times is a leap for me.


Until few months ago, these two little miracles still couldn't really get along together. They were like living in two different worlds. I can understand how my brother's son see Aik is different, and how hard it was for him to get in touch. But there was a progress, a leap, that now they can play together although language is still a barrier.
Magic happens anytime, anywhere, if you can see. There are miracles before your eyes, if you believe.

Monday, December 21, 2015

Hari Ibu yang ke-sekian.

She knew I would knock her door and wake her up for morning prayer. Looks like she woke up earlier and put this in front of her door and back to sleep. Or pretended to.


mana ibu?
mana ibit?
 
----------------------

"Untuk ibu tergaul
dan ter-anti gaptek

Selamat Hari Ibu
Happy Mother's Day
Araw Pagbati Ina
Muttertags - Glückwunsche
*Sumber: Google Translate

Maafkan anak gadismu yang keseringan main HP. Mungkin kalau aku ngurangin main HP aku bisa jadi ranking satu, ya...

Stay young, stay healthy
Rajin rajin yoga
Semoga lancar selalu
Wo aini."

---------------
"Ibu aja nangis, ngko aku melu nangis"
"Ya wis tak adus wae"
---------------------
Ulang tahun kemarin ucapannya masih 'semoga bisa aerobic sampai tua', sekarang sudah ganti :))
 
Juga ada hadiah kecil dari Aik, yang dibikin bersama Bu Guru di sekolah. Anything he does would simply melt my heart...

 

Dan juga senyum manis dan malu dari sepasang anak kembar yang 'cuma' berkata, "he... aku tahu, ini Hari Ibu' tapi tidak pernah lupa bilang 'terima kasih' jika aku melakukan sesuatu buat mereka...
--------------------------------
I am so happy that Ibit chose to congratulate me on 22 December instead of on that world's Mother's Day in May. Because this Indonesian Mother's Day is honoring women more than mother, but also their existence in and outside the house, their contribution to family, society, nation, religion, human  lives. My kids understand why I 'leave' them for work and all other activities. 
Every year I think 'this is the best Mother's Day I ever have' but that because I didn't know what next Mother's Day would be. I'm not the best mother in the world, I could've been better if I would struggle more. But this is how I make myself a happy mother, so I can make my  kids happier.

Saturday, November 29, 2014

Puncak Tema di Sekolah

Setiap tiga bulan, di sekolah Aik ada acara pentas puncak tema. Semua anak dari kelas kelompok bermain (playgroup) dan kelompok belajar (taman kanak-kanak) ikut ambil bagian tanpa kecuali. Puncak tema kali ini, setiap kelas menampilkan gerak dan lagu. Sebenarnya lebih tepat disebut bergerak mengikuti lagu. Menari dengan iringan lagu anak-anak. 

Tahun lalu, Dek Aik masih belum mau ikut menari. Naik ke panggung harus dituntun, di atas panggung pun duduk, minggir di pojokan. Kali ini pun awalnya dia terlihat malu. Ketika duduk menunggu giliran, dia terus-terusan menutup muka. Namun akhirnya dia maju sendiri ketika tiba giliran kelasnya beraksi di panggung. Dan setelah itu sikap malu-malunya lenyap tak bersisa....



Gerakan tarinya cukup sederhana, sebenarnya. Tapi bagi Aik tetap saja masih sulit untuk diikuti. Jadilah dia lebih banyak diam, hanya sesekali goyang ke sana kemari sebisanya. Lucunya, seusai acara, dia dengan dua orang kakak kelompok belajar banyak bergerak nari-nari sendiri. Kurasa ini tetap ada kaitannya dengan jumlah audiens. Yang terakhir ini penontonnya memang tinggal tiga emaknya yang menunggui tiga anak ini sebosannya :D

Bagaimana pun, buat aku ini istimewa. Mengingat bagaimana sulitnya dia merasa nyaman di tengah kerumunan. Apalagi jadi perhatian. Ada teman Aik yang sama sekali tidak mau ikut menari, bahkan menangis dan nyungsep aja di pangkuan ibunya....

Well done, Dear. Mami love you 😘

Sunday, August 24, 2014

Tell A Story

There is a video in my cell phone from our trip to Bali last year. It is a video of Aik playing with sand (and water) at Tanah Lot Beach.



Lately he liked to watch the video, and then pointed him self and say "Aik!" Then another word "Aih!" and he moved his hand up and down like playing something. It took a while before I understand he was trying to say "Aik main air (Aik playing water)"

In another time when he played the racing game Asphalt Heat 7 on Dan's iPad, he again shouted "Aik!" then moved his hand like rolling some thing. So I took a look at the iPad and he pointed at a ferris wheel on the track's back ground. Guess this time he was telling "Aik ride this." Or something like that. Yes he once rode a carrousel at a night festival. The carrousel stood next to a ferris wheel.

It's another achievement he's made, as he now comes to a phase of telling his experiences with his limited vocabulary. 

And more to come.

Tuesday, June 24, 2014

Belajar Mencari Keasyikan

Aku melihat, menangkap, mempelajari, bahwa setiap anak punya 'kemampuan' yang berbeda dalam mencari keasyikan dalam sebuah permainan. Ir, misalnya, bisa nemu hal sepele 'virtual reality' ini. Ibit lebih asyik dengan membaca atau menggambar. Ar bisa mati gaya kalau tidak ada game.

Lain lagi dengan Dek Aik. Terus terang aku agak bingung menangkap keasyikan apa yang dia sukai. Maksudku, aku tahu dia suka nonton aneka video belajar untuk bayi dan anak-anak atau main subway surfer. Dia suka bermain dengan huruf dan angka. Dan cukup betah bermain mobil-mobilan (aku butuh berbulan-bulan untuk membuat dia mau bermain mobil-mobilan). Tapi dia menolak diajak mencorat-coret apalagi mewarnai gambar. Dia menolak bermain lego. 

Barangkali karena sudah terlalu lama tidak punya bayi (yang kemudian jadi batita lalu balita) setelah Ar dan Ir, tapi tidak juga banyak-banyak baca karena merasa sudah pernah menjalani. Aku memeras lagi ingatan, apa yang kulakukan jaman Ibit atau Ar Ir bayi. Bagaimana membuat mereka bermain. Tapi rasanya nihil. Mereka seperti bisa menemukan permainan mereka sendiri. Suka keluar rumah, nemu ranting, mengganggu laba-laba yang sedang bertapa, main sepeda...

Lalu aku mencoba memulai bermain dengan apa yang sedang Dek Aik suka sekarang-sekarang ini, yang dia lihat di video belajar. Huruf dan angka. Teletubbies. Bentuk dan warna. Apa pun kuhubungkan dengan itu.  Aku menggambar sendiri bentuk-bentuk lingkaran, kotak, segitiga, bintang, hati. Lumayan, dia tidak menolak untuk mewarnai, meskipun tidak betah cukup lama juga. Aku mengajak dia mencoret di whiteboard menuliskan huruf dan angka. Menggambar teletubbies. Lumayan betah 10 menit. Menyusun toples plastisin menjadi menara, sambil menghitung, karena dia tidak mau bermain dengan plastisinnya.

Kemarin dari sore sampai jelang tidur, aku merasa sukses karena hampir full menjauhkannya dari handphone dan tablet. Kebetulan kakak-kakaknya sedang berlibur di Embah. Embak juga sedang agak tidak enak badan, kusuruh tidur saja, istirahat. Aku punya waktu sepenuhnya berduaan. Dengan Dek Aik. Aku menyuruh dia duduk di keranjang cucian, lalu kudorong keliling ruangan. Aku mengajaknya menyusun lego menjadi pesawat, dan bahagianya, dia tertarik. Lumayan betah. 

Yang paling seru dari semua adalah pura-pura jadi anjing... --"
Iya, salah satu aktivitas di kelas terapinya adalah merangkak. Aktivitas ini tetap diberikan meskipun dalam tahap perkembangannya dia sudah melalui merangkak sebelum berdiri dan berjalan. Dan entah kenapa dia suka sekali merangkak. Meskipun di kelas terapi sudah tidak dilakukan lagi, ganti dengan aktivitas lanjutan, dia masih suka melakukannya di rumah. Dan, harus ada yang merangkak bersamanya. Keliling rumah, keliling meja, naik turun tangga. 

Salah satu kebiasaan barunya adalah menggenggam mainan di kedua tangannya. Bisa apa saja. Kadang lolipop, kadang mobil-mobilan, kadang sisir, sendok, botol minyak telon. Digenggam aja gitu, dibawa ke mana-mana, kadang sampai dibawa tidur. Kebetulan kemarin dia sedang menggenggam dua mobil-mobilan kecil ketika dia mengajakku merangkak. Karena aku lihat dia kesulitan merangkak sambil menggenggam mainan, aku ajari dia untuk menggigit satu mobil-mobilan. Satu lagi aku yang gigit. Lalu kami merangkak dengan bebas  ke mana-mana. 

Sialnya dia suka. Padahal mulutku sudah pegal nian, tapi dia tidak mau berhenti. Setiap kualihkan ke permainan lain, tidak lama pasti dia menyodorkan mobil-mobilan ke mulutku, 'Bibih... bibih..." (maksudnya 'gigit'), lalu menarik badanku ke lantai, merangkak. Oke deh. Punggung dan lutut masih tahan, tapi sungguh, rahang dan otot mulut benar-benar sampai kram. Dan herannya, Dek Aik tetap semangat. Meskipun berkali-kali mobil jatuh dari mulutnya, sambil ketawa dia pasang di mulut lagi, merangkak lagi. Ini hebat, karena biasanya, jika dia menjatuhkan mainan walaupun tanpa sengaja, pasti marah-marah sendiri, bisa sampai nangis tantrum. Jadi kuikuti saja, walaupun ences jatuh dari mulutnya sepanjang jalur, dan aku terpaksa menapak jejaknya sambil bawa lap....

Sekitar pukul setengah sembilan, aku tidak kuat lagi. Dan sepertinya dia juga kecapekan. Minta mimik susu. Kupikir setelah minum susu dia akan tidur, ternyata bangun lagi. Tapi aku sudah nyerah. Jadi kubiarkan saja, ketika dia meraih tab dan mulai main subway surfer. Aku suka melihat dia main game itu, aku sendiri ga bisa hahaha...

Pukul sembilan kutarik pelan tabnya. Kuajak dia tidur. Beneran capek dia, nyerah dan pasrah. Dan, oh ya, hal membahagiakan lainnya akhir-akhir ini, adalah, sebelum tidur dia mulai mau menirukan doa sebelum tidur. Dulu dia cuma mendengarkan dan menutup dengan bilang Am..mi.. (maksudnya 'aaamiin'). Jadi sekarang aku melafalkan doa lebih pelan, per suku kata, agar dia bisa menirukan.

Ini foto lama. Semalam terlalu asyik kami bermain, sampai aku tidak sempat ambil gambar apa pun :D


Last night was totally a quality time we had. 

Tuesday, May 13, 2014

Kesenangan Baru yang Sedikit Berbahaya

Bisa saja aku menganggap terlambat, ketika akhirnya Dek Aik mau (bahkan suka) bermain di wahana panjat-panjatan seperti ini. Banyak anak usia 2 tahunan sudah bersenang-senang di dalamnya. Tapi aku lebih suka fokus berbahagia bahwa Dek Aik menyukai permainan ini.



Dia tidak mau berhenti. Nyebur dan menyelam di kolam bola. Memanjat, meniti, melewati jembatan goyang, merangkak menyusur terowongan, meluncur di perosotan. Bergerak terus.



Aku terus mengawasi karena anak-anak seusia dia rata-rata lumayan 'brutal'. Sementra Dek Aik melewati setiap tantangan dengan berjalan pelan, bahkan merangkak di jembatan ayun, mereka berlari, melompat, dan kadang sengaja saling tubruk. Apalagi di bagian trampolin. Langsung kuangkat minggir. Teman-temannya lompat-lompat memantul. Aik langsung ambruk, tengkurap, dan hampir jadi korban sma k down tanpa sengaja.



Bagaimanapun, ini latihan yang bagus untuk motorik kasar dan keseimbangan Dek Aik. Mungkin aku akan sering-sering mengajaknya kemari. Yang penting tetap diawasi...

Sunday, March 9, 2014

Heaven

is when you some times are allowed to enjoy fried rice at the sidewalk tent...



Surga. Adalah ketika sesekali kamu diperbolehkan makan nasi goreng di warung pinggir jalan.