Wednesday, September 23, 2026

(In) This Economy

Pagi ini Dan bercerita tentang rencana kegiatannya hari ini, di antaranya mau ketemu seorang rekanan bernama W. Entah kenapa aku justru langsung teringat pada seorang bernama yang sama, di perusahaan tempat Dn pertama kali bekerja di bidang yang sekarang.
Waktu itu Dn masih staf bawahan paling bawah. Kami diundang syukuran ke rumah Pak W, Sales Head. Kami datang mengajak Ibit yang baru berusia 2 bulan. Rumahnya di komplek mewah, besar, dan terasa kemewahan di setiap sudut ruangan. Mewah bagiku saat itu, dan sampai sekarang juga masih kuanggap mewah.
Waktu itu Pak W, sales head. Bisa ya, hidupnya mewah begitu. Sampai sekarang kenapa kita ga bisa seperti itu? Kita yang ga bisa, atau memang ga mau?
Mungkin memang karena ga mau. Memang tidak ingin. Rasanya lebih nyaman mementingkan fungsi dan bukan gengsi. Menjalani kemewahan seperti memegang perabot kristal yang mudah pecah. Belinya mahal, jaganya rawan. Setidaknya itu yang kupikirkan.
Di kehidupan akhir-akhir ini, yang makin hari makin tidak karuan, makin jauh berpikir soal kemewahan. Semua orang sedang berjuang untuk bertahan. Banyak yang sudah tumbang.
Pekerja swasta dipecati. Pengusaha swasta bangkrut. Bahkan di banyak tempat, Pegawai Negeri resmi kehilangan sumber penghasilan resmi.

Bisanya makin mengencangkan ikat pinggang.


--

Saturday, April 4, 2026

Mendadak Semirang

Hari ini aku ajak anak-anak hiking ke Semirang. PP kirakira 3 km aja, EG mungkin 150-an. Jamku ga valid hari ini. Aik juga ikut. Hikingnya aman tanpa tantrum, dia bawa jimat snack yang dibeli kemarin di Istana Buah.
Ada yang agak bete karena penginnya libur mau rebahan aja. Sepanjang jalan njethathut, tapi senyum lagi setelah diisi bebek goreng speaial Mas Budi.




Tongseng Ayam

Aku kalau masak tuh hampir selalu buka resep. Bukan resep yang dicatat dan disimpan, tapi buka internet senemunya, biasanya dari Cookpad. Jadi untuk masakan yang sama, bisa beda-beda. Aku pilih yang paling sederhana.
Soal bebas pakai resep apa aja ini, aku klop sama Mamak (ibu mertuaku). Beliau juga kalau masak tidak kaku-kaku amat. Bumbu agak beda atau kurang sedikit gapapa, yang penting matang dan enak. Beda dengan Mbah Putri mertua (ibunya Mamak). Saklek. Yang namanya santan harus memarut dan memeras sendiri, kelapa harus tua, kalau bisa dari pohon sendiri. Bumbu harus diulek, tidak boleh diblender, jangan sekali-sekali pakai bumbu instan.
Mamak mah santai. Pakai santan siap pakai aja biar praktis. Kemarin malah masak sayur lodeh pakai bumbu racikan instant.
Begini tongseng ayam hari ini. Aku tambahin kecap sedikit walau di resep ga ada. Biar agak manis aja. Enak kok.

Wednesday, December 17, 2025

we are still here

So many things happened we barely write a note or stick a post it about them. 
The babies have grown up I some times need a help to understand.
Ibit has switched a few jobs and now is settled as a government officer. Ar and Ir are still struggling in college. Aik is in 8th grade.

We still manage to have good times together. Some times my heart broke for my children. But you know mothers are the best at swallowing pains.



Lord, please don't stop your bless and protection for us.

Saturday, March 9, 2024

From Elementary to High

Dia ingin sekolah di SMP 24, seperti teman-temannya. Tapi aku tidak yakin dia bisa belajar maksimal di sekolah bukan inklusi.
Setelah survey sana sini, kami memutuskan untuk Aik belajar di sebuah PKBM yang inklusif dan betul-betul concern pada ABK. Mereka punya kelas reguler dan kelas khusus ABK. Kelas reguler bisa mendapat ijazah penyetaraan. Kelas khusus (ABK) hanya memberikan sertifikat kemandirian.

Menurutku Aik sudah cukup mandiri. Tapi tidak tahu apakah dia bisa ikut kepas reguler.

Pekan lalu Aik menjalani asessment. Hasilnya keluar kemarin: Aik dapat mengikuti kelas reguler.

Aku sendiri sering meragukan kemampuan Aik. Kenyataannya dia bukan tidak mampu, cuma perlu usaha khusus untuk belajar. Bismillah, semoga pilihan kami kali ini tepat untuk kebutuhannya.

Tuesday, April 25, 2023

Run Against Cancer 2023: we stand by the survivors.

It was our first official 5 km running, altogether. I and Dan and Ar joined the same event from 2020, right before the Covid pandemic. This year is its first come back. 
I couldn't be more proud of everyone. Especially Aik. And I am so thankful to Dan for being there beside him along the way. I know it was hard for everyone (super hard for Aik), I could cry hugging them all over the finish line.

This may be a simple support but hopefully means something to all cancer survivors. 
Thanks for the event organizer and everyone that made this happen.



Monday, April 24, 2023

Trah

Pertemuan Trah, biasanya diikuti minimal tiga generasi. Hari ini, pertemuan Trah Mbah kami dihadiri oleh 4 generasi. Bapak dan dua saudarinya sebagai generasi tertua, hingga buyut.
Bapak dulu tujuh bersaudara. Masing masing punya anak minimal empat dan paling banyak sepuluh. Anak-anak ini berkeluarga dan punya anak, bahkan cucu. Kalau dihitung semua jumlahnya lebih dari seratus, yang bisa hadir sekitar 75.

***
Kami lima bersaudara, ada 16 cucu, dan 2 buyut. Kalau bikin pertemuan trah, total 28 orang. Lumayan ya.
Danang dua bersaudara. Ibu mertua anak tunggal. Kalau bikin pertemuan Trah Simbah, yang datang ya bapak ibu mertua, 2 anak, 2 mantu, dan 6 cucu. Jadi 12. Lah, itu sama dengan Budhe dan 10 anaknya aja; belum mantu dan cucu cicit.

Sepuluh tahun ke depan, dengan trend usia menikah yang makin 'tua', jumlah anak yang makin sedikit (bahkan tidak menikah atau child free), pertemuan Trah bisa jadi sekedar 'pertemuan keluarga.' Tidak lagi ada pertanyaan, 'kamu cucu siapa, anak dari siapa?' Dah hapal semua.

***
Tidak semua orang menikmati acara seperti ini, karena berbagai alasan. Karena males berisiknya, males ketemu orang-orang 'yang ga kenal', sampai males dengar pertanyaan 'kapan (nikah, punya anak, nambah adik, dst)."
Tapi kami bersyukur tahun ini kami berkumpul bersama Trah dari Bapak maupun Ibu. Insya allah semua menikmati. Bapak dan budhe budhe bahagia. Semoga niat mempererat persaudaraan diridhoi Allah.