Saturday, April 4, 2026

Mendadak Semirang

Hari ini aku ajak anak-anak hiking ke Semirang. PP kirakira 3 km aja, EG mungkin 150-an. Jamku ga valid hari ini. Aik juga ikut. Hikingnya aman tanpa tantrum, dia bawa jimat snack yang dibeli kemarin di Istana Buah.
Ada yang agak bete karena penginnya libur mau rebahan aja. Sepanjang jalan njethathut, tapi senyum lagi setelah diisi bebek goreng speaial Mas Budi.




Tongseng Ayam

Aku kalau masak tuh hampir selalu buka resep. Bukan resep yang dicatat dan disimpan, tapi buka internet senemunya, biasanya dari Cookpad. Jadi untuk masakan yang sama, bisa beda-beda. Aku pilih yang paling sederhana.
Soal bebas pakai resep apa aja ini, aku klop sama Mamak (ibu mertuaku). Beliau juga kalau masak tidak kaku-kaku amat. Bumbu agak beda atau kurang sedikit gapapa, yang penting matang dan enak. Beda dengan Mbah Putri mertua (ibunya Mamak). Saklek. Yang namanya santan harus memarut dan memeras sendiri, kelapa harus tua, kalau bisa dari pohon sendiri. Bumbu harus diulek, tidak boleh diblender, jangan sekali-sekali pakai bumbu instan.
Mamak mah santai. Pakai santan siap pakai aja biar praktis. Kemarin malah masak sayur lodeh pakai bumbu racikan instant.
Begini tongseng ayam hari ini. Aku tambahin kecap sedikit walau di resep ga ada. Biar agak manis aja. Enak kok.

Wednesday, December 17, 2025

we are still here

So many things happened we barely write a note or stick a post it about them. 
The babies have grown up I some times need a help to understand.
Ibit has switched a few jobs and now is settled as a government officer. Ar and Ir are still struggling in college. Aik is in 8th grade.

We still manage to have good times together. Some times my heart broke for my children. But you know mothers are the best at swallowing pains.



Lord, please don't stop your bless and protection for us.

Saturday, March 9, 2024

From Elementary to High

Dia ingin sekolah di SMP 24, seperti teman-temannya. Tapi aku tidak yakin dia bisa belajar maksimal di sekolah bukan inklusi.
Setelah survey sana sini, kami memutuskan untuk Aik belajar di sebuah PKBM yang inklusif dan betul-betul concern pada ABK. Mereka punya kelas reguler dan kelas khusus ABK. Kelas reguler bisa mendapat ijazah penyetaraan. Kelas khusus (ABK) hanya memberikan sertifikat kemandirian.

Menurutku Aik sudah cukup mandiri. Tapi tidak tahu apakah dia bisa ikut kepas reguler.

Pekan lalu Aik menjalani asessment. Hasilnya keluar kemarin: Aik dapat mengikuti kelas reguler.

Aku sendiri sering meragukan kemampuan Aik. Kenyataannya dia bukan tidak mampu, cuma perlu usaha khusus untuk belajar. Bismillah, semoga pilihan kami kali ini tepat untuk kebutuhannya.

Tuesday, April 25, 2023

Run Against Cancer 2023: we stand by the survivors.

It was our first official 5 km running, altogether. I and Dan and Ar joined the same event from 2020, right before the Covid pandemic. This year is its first come back. 
I couldn't be more proud of everyone. Especially Aik. And I am so thankful to Dan for being there beside him along the way. I know it was hard for everyone (super hard for Aik), I could cry hugging them all over the finish line.

This may be a simple support but hopefully means something to all cancer survivors. 
Thanks for the event organizer and everyone that made this happen.



Monday, April 24, 2023

Trah

Pertemuan Trah, biasanya diikuti minimal tiga generasi. Hari ini, pertemuan Trah Mbah kami dihadiri oleh 4 generasi. Bapak dan dua saudarinya sebagai generasi tertua, hingga buyut.
Bapak dulu tujuh bersaudara. Masing masing punya anak minimal empat dan paling banyak sepuluh. Anak-anak ini berkeluarga dan punya anak, bahkan cucu. Kalau dihitung semua jumlahnya lebih dari seratus, yang bisa hadir sekitar 75.

***
Kami lima bersaudara, ada 16 cucu, dan 2 buyut. Kalau bikin pertemuan trah, total 28 orang. Lumayan ya.
Danang dua bersaudara. Ibu mertua anak tunggal. Kalau bikin pertemuan Trah Simbah, yang datang ya bapak ibu mertua, 2 anak, 2 mantu, dan 6 cucu. Jadi 12. Lah, itu sama dengan Budhe dan 10 anaknya aja; belum mantu dan cucu cicit.

Sepuluh tahun ke depan, dengan trend usia menikah yang makin 'tua', jumlah anak yang makin sedikit (bahkan tidak menikah atau child free), pertemuan Trah bisa jadi sekedar 'pertemuan keluarga.' Tidak lagi ada pertanyaan, 'kamu cucu siapa, anak dari siapa?' Dah hapal semua.

***
Tidak semua orang menikmati acara seperti ini, karena berbagai alasan. Karena males berisiknya, males ketemu orang-orang 'yang ga kenal', sampai males dengar pertanyaan 'kapan (nikah, punya anak, nambah adik, dst)."
Tapi kami bersyukur tahun ini kami berkumpul bersama Trah dari Bapak maupun Ibu. Insya allah semua menikmati. Bapak dan budhe budhe bahagia. Semoga niat mempererat persaudaraan diridhoi Allah.
















Tuesday, July 20, 2021

Twin Shoot di Undip

Dulu waktu tahu bahwa kehamilanku kembar, reaksi pertama malah stres, "Ya Allah, apa aku sanggup membesarkan anak kembar? Mau aku kasih makan apa?"
Yak benar, ternyata makannya ya seperti anak manusia biasa, haha.
Dan sekarang mereka sudah besar.
Dan dua-duanya diterima di Undip meskipun dengan jalur dan di jurusan yang berbeda. Kami tidak berharap banyak bisa diterima lewat jalur SNMPTN. Karenanya, mereka ambil bimbingan belajar untuk fokus masuk lewat jalur SBMPTN. Ar berhasil, Ir belum. Momen membuka pengumuman hasil SMBPTN itu mengacaukan batin. Di satu sisi kami gembira Ar lolos, tapi sedih Ir belum.
Aku menghargai Ar yang menunda sorak sorainya. Kami seisi rumah membiarkan Ir tenang dulu selama sehari dua hari. Lalu besoknya menyemangati lagi untuk ikut jalur mandiri. Daftar bimbingan belajar lagi. Melarang dia mengkhawatirkan biaya pendaftaran di sana sini. Itu bagian dari usaha, tidak akan menjadi mubadzir.
Mendaftar mandiri di tiga universitas, pengumuman berselang seminggu seminggu. Di Universitas Brawijaya belum lolos. UNS juga belum berhasil. Ir terlihat lelah dan khawatir. Aku berusaha menenangkan, barangkali memang jatahnya diterima di Undip.
"Aku pengin teriak histeris kaya Ar kemarin waktu lolos SMBPTN."

Dan terkabul.
Membiayai tiga anak yang kuliah bersamaan, dengan UKT serba tinggi karena ibuknya PNS, kalau dilihat sekilas pasti berat. Tapi kali ini aku nggak mau lagi meragukan diriku, apalagi kuasa Tuhan. Tidak ada yang ingin kupertanyakan. Aku memohon saja, "Ya Allah, paringi lancar segalanya."
Bismillah.