Showing posts with label sick. Show all posts
Showing posts with label sick. Show all posts

Monday, July 20, 2020

Adaptasi

Sudah lebih dari tiga bulan sejak ditetapkan anjuran untuk tinggal di rumah dalam berbagai judul. Pembatasan Sosial Berskala Besar, Pembatasan Kegiatan Masyarakat, Jogo Tonggo, whatever. Yang jelas semua sebatas anjuran. Kecuali perjalanan antar kota dengan transportasi publik yang jadi agak ribet dengan berbagai ketentuan. Bisa diakali, tapi ya itu kan ribet juga.

Kenyataannya, masyarakat dan pemerintah sama-sama nggak betah berlama-lama diam di rumah. Dengan pembatasan dalam berbagai judul aja rasanya seperti omong kosong, sekarang setelah diumumkan 'new normal', orang merasa hidup sudah kembali seperti 'normal' sebelum pandemik. Tidak peduli betapa banyak penjelasan tentang syarat dan ketentuan yang berlaku dalam new normal, orang lebih terpaku pada pernyataan 'sudah boleh beraktivitas' dan mengabaikan persyaratan.

Mal-mal buka lagi. Bahkan tempat bermain anak. Tempat-tempat usaha, tempat-tempat keramaian yang sempat ditutup atau minimal dibatasi jam operasionalnya, buka lagi seperti biasa. Untung sekolah masih belum diperkenankan mengadakan aktivitas di sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten masih menetapkan kondisi belum aman sampai dua bulan ke depan, dan akan dikaji kembali sesuai perkembangan keadaan.

Di sekolah Aik, sudah banyak  yang mengeluhkan pembelajaran dengan sistem daring. Ya sih, mau tak mau orang tua jadi harus terlibat lebih banyak, setengah menggantikan peran guru dalam mendampingi anak belajar. Buatku, yang jauh sebelum pandemi sudah terbiasa 'mengulang' lagi (bahkan lebih keras) apa yang dipelajari Aik di sekolah dengan metode yang lebih mudah dipahami Aik, lebih mudah beradaptasi. Tapi rupanya, masih ada orang tua murid yang menyerahkan urusan belajar kepada sekolah. Bahkan kemarin di acara pertemuan wali murid ada yang mempertanyakan 'Kalau hanya belajar daring dengan materi-materi yang dibagikan di grup whatsapp, bagaimana dengan pembelajaran akhlak yang juga menjadi tujuan utama sekolah ini?'

Halo. Bukankah pendidikan akhlak anak mestinya menjadi tanggung jawab orang tua? Jika dalam keterbatasan keadaan saat ini, sekolah terpaksa dilakukan lewat zoom, grup whatsapp, dan tugas-tugas, maka anak ya berada di rumah sepenuhnya. Lantas orang tua mempertanyakan tanggung jawab sekolah dalam menerapkan pendidikan akhlak anak?

Ketika kusampaikan bahwa ketetapan Dinas pasti dilatarbelakangi pertimbangan yang komprehensif, respon yang muncul salah satunya (dan ada pendukungnya) adalah, 'Sekarang di mana-mana sudah ramai. Pasar buka, mal buka, masjid buka. Anak saya sudah main keluar karena kalau dikurung di dalam rumah jadi stres. Saya sama sekali tidak keberatan kalau mau belajar di sekolah lagi. Yang penting pakai masker, jaga jarak.'

I don't know. Jika keadaan seperti ini, semua orang menganggap tidak apa-apa beraktivitas seperti biasa yang penting pakai masker dan cuci tangan, jangan-jangan pandemik akan butuh waktu makin lama untuk berakhir. Karena pada kenyataannya, masker-masker berubah fungsi menjadi kalung. Orang masih berkerumun tanpa jarak. Lihat saja foto-foto yang bertebaran di media sosial. Meet up di kafe ga pakai masker. Untel-untelan sehabis senam. Berkerumun sehabis bersepeda dalam rombongan. Biasa aja katanya. 

Mau tidak mau, akhirnya kita yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Tidak lagi hanya menjaga diri dari paparan virus, tapi juga dari orang-orang yang tidak peduli bahwa mereka mungkin menebar virus. Menghindari kerumunan. Mengetatkan masker, sesedikit mungkin menyentuh barang yang bukan milik kita, sering-sering cuci tangan, dan menjaga jarak dengan orang lain. Terutama yang tampak abai dengan protokol kewaspadaan.

Anak juga, akhirnya harus diajari kebiasaan baru. Bagaimana dia harus berperilaku di luar rumah. Aik sudah sejak beberapa waktu lalu aku ijinkan main keluar. Dengan catatan harus pakai masker. Tidak dekat-dekat dengan teman. Tidak pegang mainan teman. Tidak masuk rumah orang. 

Aku ajak ke supermarket, dengan melihat-lihat keadaan. Jika parkiran terlihat sepi, baru berani masuk. Di sini lebih ketat. Untung di supermarket banyak tulisan  'jaga jarak', jadi dia setiap saat 'diingatkan'. Yang  harus kita ingatkan lagi terus menerus adalah 'jangan sentuh apa pun.'

Ada pengalaman lucu suatu hari. Dia melihat ibu-ibu yang antri menimbang dan tidak jaga jarak. Aik dengan tanpa beban berseru, 'Jaga jarak satu meter!" Si ibu langsung mundur pelan. Di lain waktu, dia sampai tantrum karena mengingatkan seorang anak usia 3 tahunan yang menyentuh handrailing pembatas di kasir. "Don't touch anything! No! Jangan sentuh apa pun! Dilarang!" Si anak yang tentu saja belum begitu paham, justru makin kencang pegangan railing. Aik makin keras. Si anak jadi takut dan menangis. Aku sibuk menenangkan Aik dan minta maaf. Ortu si anak langsung menggendongnya menjauh. Huft.



Hey, kalian sudah nyoba ke mal di  masa pandemik ini? Aku mencoba datang ke tiga mal dan semuanya sepi. Jumlah pengunjungnya kurang dari setengah biasanya sebelum pandemik. Mungkin sepertiga. Seperti di tempat umum lain, selain cek temperatur tubuh, disediakan hand sanitizer di pintu masuk. Jangankan jaga jarak 1,5 meter, 10 meter juga bisa. Jadi aku memberanikan diri mengajak Aik. Sambil sebisa mungkin mengalihkan perhatiannya dari tempat bermain, karena aku belum berani membiarkan dia bermain di sana. Aik tidak terlalu suka hand sanitizer. Tapi dia suka cuci tangan. Aku suka pada tempat berbelanja yang menyediakan tempat cuci tangan dan sabun daripada sekedar sanitizer di pintu masuk. Aik tidak pakai disuruh, otomatis cuci tangan sendiri.


Dulu, kalau mau cuci tangan kita harus ke wastafel yang jadi satu dengan toilet. Sedangkan sekarang, sebisa mungkin kita tidak masuk ke toilet umum.

Ada perkembangan baru. Aik sekarang tidak takut hand dryer. Dia bahkan tanpa disuruh, langsung mengeringkan tangan di situ seusai cuci tangan. One more step ahead.

Wednesday, April 1, 2020

Life in The Time of Corona

Live's been going on without a good record. So many things happened and suddenly here we are.
It's like the world stopped turning. Everyone has to slow down, or totally stop.


Kids study at home. Parents work from home. Suddenly washing vegetables and fruits right after shopping becomes a habit. The old habit washing hands becomes more intense and frequent. People keeping distance from each other. Sanitizer and disinfectant become prime needs after food.




Masks and antiseptic liquids disappear from stores. Online shops sell them in unbelievable prices, and unbelievably, there are buyers. Medical crews screaming for medical protective apparels.


In the other side, some people say they would die from getting bored staying at home before getting infected by the virus. No matter how loud the instruction from the government (and people who concern) to keep distance and stay at home -- unless for important reasons, they still gather in cafes, jump to crowds, go to mosques, making events. Everyday hundreds people die in this country, and thousands in around the world but they still don't care enough.



The hardest part may be, is fighting the fear, and our anger to those who are not aware. Now beside reminding ourselves about the corona virus awareness protocol, it is important to remind our selves to be calm. To accept what is happening. To enjoy it the best way we can.



Now one of our cats is staying in the vet clinic as is suspected to be poisoned. It could be something she ate outside. We have no idea. 


The whole world is suffering. We are all struggling. This is a time to look in ourselves. This is a testing time of how strong we are, and how much we care about others.

Hello. Ho do you do?

Wednesday, October 29, 2014

Ileus and I (English)


Some time ago I had written, 'Gusti, panjangaken usus kawula.' Lord, extend my intestines. In the Java language, 'long intestines' means patient. People who have long intestines are patient. And that's all I asked, to be patient. I forgot why I asked for additional patience then.

A week later the God grant my plea. I was trained to be patient. And in the true meaning, my intestines were really stretched, straightened from abnormal conditions: twisted.

Various comments came from friends about my situation. Some say I've worked out too much. Others said I did too much twisting and folding in yoga. Hm ... make sense ... NOT!

Mysterious ileus.

"Ileus (Paralytic ileus, adynamic ileus) is a condition where the normal movement of contraction of the intestinal wall temporarily stopped. As a mechanical blockage, ileus intestinal contents also in its way, but rarely ileus caused perforation."

The result of browsing here and there, ileus may be caused by an infection, tumor, severe diarrhea, outside the intestinal abnormalities (eg, renal failure or abnormal electrolyte levels), an underactive thyroid gland. In my case, the intestinal twisted because there are parts of the intestine that should be down, permanently attached to the gut above it and formed a connective tissue. At the point where it occurs, it clogged.

Monday, October 27, 2014

Ileus and I

Beberapa waktu yang lalu aku sempat menulis, 'Gusti, panjangaken usus kawula.' Tuhan, panjangkan ususku. Dalam Bahasa Jawa, dawa ususe artinya sabar. Orang yang panjang ususnya adalah orang yang sabar. Dan memang itu yang kuminta, agar diberi kesabaran. Aku lupa kenapa waktu itu merasa harus minta tambahan kesabaran.


Seminggu kemudian Tuhan kabulkan permohonanku. Aku dilatih untuk bersabar. Dan dalam makna sebenarnya, ususku benar-benar dipanjangkan, diluruskan dari kondisi abnormal: mluntir. 

Macam-macam komentar teman yang kukabari tentang keadaanku. Ada yang bilang aku kebanyakan olah raga. Yang lain bilang aku terlalu banyak melakukan gerakan yoga yang mluntir-mluntir. Hm... make sense... NOT!

Ileus yang Misterius.

"Ileus (Ileus Paralitik, Ileus Adinamik) adalah suatu keadaan dimana pergerakan kontraksi normal dinding usus untuk sementara waktu berhenti. Seperti halnya penyumbatan mekanis, ileus juga menghalangi jalannya isi usus, tetapi ileus jarang menyebabkan perforasi."

Hasil dari browsing sana sini, ileus mungkin disebabkan oleh infeksi, ada tumor, habis diare hebat, kelainan di luar usus (misalnya gagal ginjal atau kadar elektrolit abnormal), kelenjar tiroid kurang aktif. Dalam kasusku sendiri, usus yang mluntir itu terjadi karena ada bagian usus yang mestinya berada di bawah, menempel permanen ke usus di atasnya dan membentuk jaringan ikat. Di titik tempat usus mluntir itu terjadi perlengketan. Di situlah terjadi sumbatan.

Sunday, October 14, 2012

Hospital Love Story


Boleh dibilang keluarga kami akrab dengan rumah sakit, rawat inap, dan operasi. Semua anggota keluarga pernah dirawat inap. Semua anggota keluarga yang perempuan, pernah mengalami operasi. Bapak, bahkan sudah berkali-kali. Kami tidak pernah menganggap hal ini sebagai musibah. Ujian, cobaan, mungkin. Bapak dan Ibu selalu mengajarkan untuk kuat dan tetap rasional.

Tapi, tak peduli seberapa akrab kami dengan rumah sakit dan operasi, tetap saja ini bukan hal menyenangkan. Apalagi saat ini, Bapak yang harus dirawat (lagi). Seminggu yang lalu Bapak dirawat karena serangan jantung ringan. Dua hari di rumah, kini Bapak dirawat lagi karena sakit di kandung kemih dan prostatnya.

Melihat Bapak lemah itu benar-benar bikin patah hati. Segala sesuatu diladeni. Bahkan untuk duduk pun harus dibantu. Kemarin-kemarin Bapak masih bisa melucu. Kali ini benar-benar diam. Bicara hanya jika minta sesuatu.

Aku sering tidak tahan untuk tidak menangis. Tapi aku tidak ingin Bapak, atau Ibu, atau siapa pun, melihat. Jadi aku sering minggir sebentar. Atau menyibukkan diri dengan hal-hal tidak jelas di hand phone. Mungkin dikira aku ini apatis, tidak peduli. Atau brangkali mereka tahu kenapa, sebenarnya, aku bersikap begitu.

Paling berat adalah ketika memandikan Bapak. Bukan. Bukan memandikannya yang berat. Tapi menahan air mata supaya tidak jatuh di depan Bapak. Ketika selesai memandikan, aku bilang, 'sekarang saya mau gantian mandi.' So, I went to the bath room. Took a bath. And cried.

Sekarang Bapak sedang di ruang operasi. Ibu, adik dan kerabat menunggui di depan ruang operasi. Ngobrol. Tidur. Nonton tivi. I can't do either one. Jadi aku minggir ke sisi lain gedung yang agak sepi, menuliskan ini. Membiarkan satu dua orang yang lewat melirik perempuan 30an yang duduk sendirian, mengetik di gadgetnya sambil dleweran...

Sehat Bapak. Sehat. PLEASE!!

Tuesday, June 19, 2012

The Hemorrhagic Conjunctivitis (or something like that)

This should be a common viral eye disease. But when it happens to a 2 years old baby, things become a little more complicated.

It is hard to prevent Dek Aik's hand from rubbing his itchy eyes. Now as it is puffy and scratched inside the eyelid, and bleeding, the doctor said he needs to stay at hospital and have infusion to inject some medicine that should stop the bleeding.

It's gonna be a hard sleepless night. How do I make his eyes open, to rub the ointment every 8 hours, and put the eye drop every 3 hours? How do I make him stay still, so I can put some ice on his eye for 10 minutes every other hour to reduce the puffy eyelid?

No need to question.

***

Nothing hurts you worse than seeing your baby hurt.


Saturday, October 1, 2011

The Super Woman

My mother is the strongest woman I've ever known. She's a fighter; a survivor.

She's been bearing the weight of life since she was young, until she got married, then had and raised us: her children.

Later in her dawn, she needs to have a therapy for her back twice a week. Still she goes to the orthopedic hospital by bus, alone. It has been going on for the last 6 years.

But you never know what luck brings you. Last week she was on her way to the hospital for the therapy. She just stepped down the bus and about to walk across the street when a kid with a speedy motorbike hit her, right in front of the hospital.

She got fainted for at least 2 hours, before she finally could asked the nurses to call my elder sister.

***

For two days she had super terrible headache. It was like, she said, the world is turning around and make her sick. Her right leg was broken and needs a surgery. But it can't be done until the headache stops.

Now as the headache is reducing, she can sit up and insists to brush her hair and have her meals by herself. The docs said she's ready for the surgery tomorrow. I hope everything goes well, and my mother soon will be able to run here and there again; like she used to.

***

Hey little reckless motorbiker kid, you can't beat this strong lady.

Saturday, September 10, 2011

The Sickies


Tuhan pasti punya alasan, mendekatkan keluarga kami dengan rumah sakit. Seingatku, sejak aku masih kecil, seluruh keluarga pernah dirawat inap di rumah sakit. Bahkan ketika aku lahir, kedua kakakku juga sedang dirawat di rumah sakit. Ibu, sedang melahirkan aku. Bapak menunggui kami semua. Ya, jadinya semua pindah tidur ke rumah sakit. Bapak pernah hampir pasrah jika harus kehilangan Ibu, ketika Ibu dirawat sampai berbulan-bulan. Dua adikku pernah balapan melewati masa kritis karena malaria. Kami anak-anak perempuan, semua pernah dioperasi.

God must have a reason to put our family close to hospital. As I recall, since I was little, every one in my family has been treated in hospital. Even when I was born, my sisters were both in hospital. So was my mom, giving me birth. And my dad, taking care of us all. It was like our family moved to the hospital. My Dad once like giving up to lose my mom when she had to stay for months. Both my younger brother once together racing with critical time cause of malaria. We, the girls, all had surgery.

Karena saking seringnya anggota keluarga kami masuk rumah sakit, hal itu seperti menjadi hal yang biasa, walau kami tidak menyukainya. Tidak ada kepanikan. Tahu apa yang harus disiapkan. Siap dengan segala kemungkinan -- termasuk cari hutangan untuk biaya perawatan...

Because it was to often happened, being in hospital was like a normal thing, tho we never liked it. No panic. Knew what to do. Ready for every possibility -- including to owe money to pay the hospital.

Pun ketika Ibit harus dirawat, Dan awalnya panik. Tapi melihat aku tenang, dia pun ikut tenang. Ketika aku harus opname pun, Dan akhirnya tahu apa yang harus dilakukan tanpa jadi panik. Aku bahkan pernah datang sendiri ke rumah sakit, membiarkan diri diharuskan rawat inap. Baru setelah infus terpasang dan aku agak tenang, aku menghubungi Dan untuk datang membawa perlengkapan sehari-hari.

Like when Ibit needed to stay at hospital, Dan was panic at the beginning. But seeing me calm has made him calm too. When one day it was me who needed to stay at hospital, Dan knew exactly what to do and prepare. Once I brought my self to hospital and let the nurses put the infusion on me, then I called Dan to come and bring me things I needed.

Aku bercerita seperti ini bukan ingin bilang dirawat di rumah sakit itu gampang dan enak. Sama sekali ngga gampang, termasuk soal biaya. Dan sama sekali ngga enak. Sakit itu sudah ngga enak. Dirawat di rumah sakit lebih ngga enak. Kebosanan adalah penderitaan kedua setelah rasa sakit itu sendiri. Makanya jangan sakit, jaga kesehatan. Kesehatan adalah kekayaan yang tak terkira *yayaya... aku juga sedang mengingatkan diriku sendiri*

I'm telling this, not to say that being in hospital is easy and enjoyable. It is not easy at all, especially when it comes to cost. And not comfortable at all. Being sick is bad enough, even without staying. Get bored is the second misery after the illness. That's why, don't be sick. Take care of our health. Health is one of the biggest treasure... *yes I am reminding my self...*

***

Pagi ini aku membesuk anak seorang teman. Bayi enam bulan. Ada sesuatu di paru-parunya. Di tangannya dipasang infus. Di duburnya dipasang kateter. Mukanya pucat. Tubuhnya lemah. Matanya redup, lelah habis menangis. Masih ada sisa air mata mengering di ujung matanya. Kusentuh diam saja. Kuelus cuma berkedip. Kuajak bicara tidak bersuara.

This morning I was visiting a friend's daughter. A six months old baby. There was some thing in her lungs. She had infusion on his hand, and catheter in her anus. Her face was pale. Her body was weak. Her eyes were dim, tired of crying. I could still a dried tear left in the corner of her eyes. I touched her and she stayed still. I rubbed her and she just blinked. I talked to her but she gives no sound.

Sumpah. Melihat dia menderita itu juga penderitaan. Kita yang tua bisa bilang mana yang sakit. Bisa mengerti kalau harus nahan sakit ketika disuntik atau dipasang infus. Paham dan sabar jika memang harus terbaring lama untuk bisa sembuh. Tapi bayi bisa apa?

I swear. Watching her suffering was a suffer. We, grown ups, can tell which one hurts. We can understand to bear the pain when we need injections. We understand to be patient that we need to lay in bed for a while to get rid of. But what babies can do?,

Aku yakin, seandainya bisa, ibunya pasti mau mengambil alih semua rasa sakit yang dialami bayinya. Karena aku merasa begitu.

I believe if only she could, her mother would take over all the pain from her baby. Coz that's what I'm feeling

Kirim doa, kirimkan doa. Untuk semua bayi sakit di dunia. Semoga lekas sembuh. Dan berikan kesabaran kepada semua ibu mereka. Karena menunggui bayi sakit adalah lelah lahir batin...

Send your prayers, send our prayers. To all sick babies in the world. Get well. And give tons of patience to their mothers. Because taking care of sick babies is mentally and physically tiring...

Thursday, September 2, 2010

the sick

alhamdulillah, thank God he's home.
since last tuesday, Ar got a fever. his body is warm to hot, it was 39 Celsius degree. we've seen a doctor, he said Ar might got a laryngitis. but if his temperature didn't go lower in four days, Ar would need a blood test.
Friday afternoon, his temperature was 37. it's low, it's normal. I felt good. but in the evening the temperature rose again. at 20.00 pm it reached 39,4. we bought him to hospital right away.
we hadn't known the blood test results yet, but the doctor suggested Ar to stay for the fever has occurred for four days.we didn't like it, but thought it was the best to do.


I can't stand watching babies in infusions. the lab test results said it was typhus and dengue fever. two weakening illness at the same time must be so hard for a 7 year old boy. he couldn't do nothing but lying on bed. he wouldn't speak. he couldn't even smile.



Ar is a computer boy. Dan brought him a laptop to cheer him up, but he was too weak to sit up in front of it.




day four Ar got better and felt strong enough to take a walk. we went to the balcony and viewed the city. we could see Dan's office which stands next to a mall.
"when I went home, I want to go to that mall next to Bapak's office" Ar said.
so Wednesday afternoon was the time, he was allowed to go home. he could finally smile, he even had his lunch by himself. it feels like going out of jail...
Ar is still weak and need some rest. but thank God he's over with the fever

PhotoStory Friday
Hosted by Lisa and Cecily

Monday, November 23, 2009

bye bye chickenpox

In the last three weeks, chicken pox has made Ir Ar and Ibit stay at home for at least a week – in turns.
It was terrible to see them bearing the fever and itches.
It was horrible to see Ibit standing in front of the mirror and said, ‘Ibu, I look like a monster’ then cried.
I couldn’t even take any picture of them having those dots of the pox all over their bodies - too scary.
Alhamdulillah they have passed through it.
And look at you guys, you are now handsome and beautiful as before!

Dalam tiga minggu terakhir, cacar air telah memaksa Ar Ir dan Ibit untuk tinggal di rumah setidaknya selama seminggu - secara bergiliran.
Menyedihkan melihat mereka merasakan demam dan gatal.
Menyedihkan melihat Ibit berdiri di depan cermin dan berkata, "Ibu, aku terlihat seperti monster," lalu menangis.
Aku bahkan tidak bisa mengambil gambar mereka dalam keadaan titik-titik cacar memenuhi tubuh mereka - terlalu mengerikan.
Alhamdulillah mereka telah melewatinya.
Dan lihatlah, kalian sekarang ganteng dan cantik seperti semula!

Thursday, October 30, 2008

x-ray and infra-red

It was started that Monday afternoon. Ibit just got home from school, I was still in office. She called, crying and told me that her left arm was twisted when she was playing around with her friend. Her elbow was hurt, she couldn’t move her hand or fold her elbow to change clothes. She couldn’t even carry her bagpack.
Cerita berawal hari Senin kemarin. Ibit baru pulang sekolah, aku masih di kantor. Dia menelepon sambil nangis dan matur bahwa tangan terpuntir ketika sedang main dengan temannya. Sikunya sakit, dia tidak bisa menggerakkan dan menekuk tangannya, dan tidak bisa ganti baju, bahkan membawa ranselnya.

I got home and found her still crying in her bed. She wore the shirt incompletely. Her left body was not covered. I touched her elbow and she screamed. I touch her waist and screamed again. It looked hurt so bad I almost cry seeing it.
Aku pulang dan menemukan dia sedang menangis di tempat tidurnya. pakai bajunya ngga sempurna, cuma masuk lengan kanannya, yang kiri tidak bisa. Aku pegang sikunya dia menjerit. Aku pegang pergelangannya dia menjerit. Kelihatannya sakit banget.

There is a physiotherapist who lives not too far from our house. I brought her there and ask him what was wrong with Ibit. He couldn’t tell. He told us to take an x-ray photo to see if there was any trouble with the bones. So we right away went to a clinic for that.
Didekat rumah kami ada seorang fisioterapis. Aku bawa Ibit ke sana dan bertanya kira-kira kenapa tangannya, Beliau belum berani bilang atau berbuat sesuatu. Ibit diminta foto rontgen dulu untuk melihat apa yang terjadi, siapa tahu ada retak tulang. Akhirnya kami pergi ke klinik untuk itu.



According to the photo, Ibit bones were fine. But why did it hurt so badly?

Menurut fotonya, tulang Ibit baik-baik saja. Tapi kenapa bisa sakit banget begitu?


The physiotherapist said it must be the tendon which was wounded. Then he started to give it some massages and infra-red light. He moved Ibit’s lower arm slowly in and out. Ibit some time still screamed when it hurt, and he would stop and start from beginning again. It took almost one hour for that first day. He said she might need at least six times therapy. But she can stop if she gets better before six times.
Kata fisioterapisnya, tendonnya yang terluka. Dia mulai memberikan pijatan dan ifra merah. Tangan Ibit digerakkan naik turun perlahan. Kadang Ibit menjerit, maka gerakkannya dihentikan sebentar, lalu mulai lagi. Terapi pertama itu hampir satu jam lamanya. Katanya, Ibit perlu paling tidak enam kali terapi. Tapi kalau sudah membaik sebelum itu, kami boleh stop.



Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis.

This morning, I was having my bath. Somebody knocked the door and I opened it to peak a little. It was Ibit who just woke up. She smiled and showed me her left arms, and swing it up and down. “No more hurts”, she said.
Pagi ini, aku sedang mandi. Seseorang mengetuk pintu kamar mandi, aku buka sedikit dan mengintip. Ternyata Ibit yang baru bangun tidur. Dia tersenyum dan menunjukkan tangan kirinya, diayun naik turun. "Nggak sakit lagi", katanya.

Alhamdulillah. She only needed four times therapy to get well. It is still not 100%, but she’s happy now that she can do things like taking bath, dress up, and tie her hair, all by her self.
Alhamdulillah. Dia cuma butuh empat kali terapi untuk sembuh. Belum 100% sih, tapi dia kelihatan bahgaia sekali bisa melakukan banyak hal sendiri lagi.


And I’m so happy to see. I couldn’t stand not to cry every time she did whenever she moved it few days ago. Ssst…., actually, I almost got fainted accompanying her doing the therapy. I was such a chicken. But I tried my best not to show it in front of her. I wanted her to be strong during the therapy and get well soon….
Dan aku juga senang melihatnya. Aku bener-bener ngga tahan waktu melihat dia menangis beberapa hari yang lalu. Sssst... sebenarnya aku malah hampir pingsan waktu nungguin dia terapi. Penakut. Tapi aku berusaha tidak tunjukkan di depan Ibit. Aku ingin dia kuat selama terapi, biar cepat sembuh...


PhotoStory Friday
Hosted by Cecily and MamaGeek




Tuesday, June 3, 2008

losing my english

i mean it
these last few days i can not concentrate reading english text. i always had to stop and think so hard: what does this sentence mean?
i still can write it easily, well because it depends on me. but reading others writings in english, especially they who have english as their first language, feels so difficult lately.
see, reading english text always requires more concentration and energy for me. i don't know where they've gone. seems like i lost passion in it, thing i usually enjoyed so much.
what is going on with me?

beneran.
beberapa hari terakhir ini aku ga bisa konsentrasi membaca teks dalam bahasa inggris. aku selalu berhenti dan berpikir, apa sih maksudnya kalimat ini?
aku masih bisa nulis dengan mudah, yo mesti karena itu tergantung aku sendiri, tapi membaca tulisan orang lain dalam bahasa inggris, terutama mereka yang memang penutur bahasa inggris, tiba-tiba terasa sulit.
membaca text berbahasa inggris bagiku selalu membutuhkan lebih banyak energi dan konsentrasi. aku ga tau ke mana perginya mereka. aku seperti kehilangan hasrat untuk itu, hal yang biasanya aku nikmati.
ada apa denganku?

Thursday, May 8, 2008

fear

did you ever feel like you are dying?
like there's no more hopes.

Saturday, May 3, 2008

scary friday night...

malam jumat yang seraaaaaaaaaam





I got what they called 'kolik' here. don't know how to say it in english. something sounds like 'abdominal kraam' or something.

aku dapat serangan kolik. dokter menyebutnya 'abdominal kraam' atau sesuatu yang kedengarannya seperti itu.

like there was a blender blade spinning in my stomach, and I threw up few times. it happened again just like about a year ago when I needed to stay at hospital for a night.
seperti ada pisau blender yang berputar di perutku, dan aku beberapa kali munt**. ini pernah terjadi sekitar setahun yang lalu dan aku harus nginep semalam di rumah sakit.

so I decided to go to the hospital. the doctor offered me a shot and although I hate needles, I just said 'yes'. I didn't want to stay in hospital again. so she shot me and I felt better. I took some medicine and went home.
jadi aku putuskan pergi ke rumah sakit. dokter menawari suntik dan meskipun aku benci jarum suntik, aku langsung iya-in aja. aku nggak mau opname lagi. jadi aku disuntik dan merasa baikan. aku minum obat lalu pulang.

but at about 12.00 the blender started to work again, and I threw up again. I couldn't bear the hurt and pain, and then Dan took me to hospital and they gave me some infussion.
tapi sekitar jam 12.00 blendernya muter lagi, dan aku munt** lagi. aku gak tahan rasa sakitnya, jadi Dan anter aku ke rumah sakit dan mereka menginfusku.

I'm home now, and I'm 100% okay.
aku sudah pulang sekarang, dan 100% okay.