Showing posts with label parents. Show all posts
Showing posts with label parents. Show all posts

Monday, July 20, 2020

Adaptasi

Sudah lebih dari tiga bulan sejak ditetapkan anjuran untuk tinggal di rumah dalam berbagai judul. Pembatasan Sosial Berskala Besar, Pembatasan Kegiatan Masyarakat, Jogo Tonggo, whatever. Yang jelas semua sebatas anjuran. Kecuali perjalanan antar kota dengan transportasi publik yang jadi agak ribet dengan berbagai ketentuan. Bisa diakali, tapi ya itu kan ribet juga.

Kenyataannya, masyarakat dan pemerintah sama-sama nggak betah berlama-lama diam di rumah. Dengan pembatasan dalam berbagai judul aja rasanya seperti omong kosong, sekarang setelah diumumkan 'new normal', orang merasa hidup sudah kembali seperti 'normal' sebelum pandemik. Tidak peduli betapa banyak penjelasan tentang syarat dan ketentuan yang berlaku dalam new normal, orang lebih terpaku pada pernyataan 'sudah boleh beraktivitas' dan mengabaikan persyaratan.

Mal-mal buka lagi. Bahkan tempat bermain anak. Tempat-tempat usaha, tempat-tempat keramaian yang sempat ditutup atau minimal dibatasi jam operasionalnya, buka lagi seperti biasa. Untung sekolah masih belum diperkenankan mengadakan aktivitas di sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten masih menetapkan kondisi belum aman sampai dua bulan ke depan, dan akan dikaji kembali sesuai perkembangan keadaan.

Di sekolah Aik, sudah banyak  yang mengeluhkan pembelajaran dengan sistem daring. Ya sih, mau tak mau orang tua jadi harus terlibat lebih banyak, setengah menggantikan peran guru dalam mendampingi anak belajar. Buatku, yang jauh sebelum pandemi sudah terbiasa 'mengulang' lagi (bahkan lebih keras) apa yang dipelajari Aik di sekolah dengan metode yang lebih mudah dipahami Aik, lebih mudah beradaptasi. Tapi rupanya, masih ada orang tua murid yang menyerahkan urusan belajar kepada sekolah. Bahkan kemarin di acara pertemuan wali murid ada yang mempertanyakan 'Kalau hanya belajar daring dengan materi-materi yang dibagikan di grup whatsapp, bagaimana dengan pembelajaran akhlak yang juga menjadi tujuan utama sekolah ini?'

Halo. Bukankah pendidikan akhlak anak mestinya menjadi tanggung jawab orang tua? Jika dalam keterbatasan keadaan saat ini, sekolah terpaksa dilakukan lewat zoom, grup whatsapp, dan tugas-tugas, maka anak ya berada di rumah sepenuhnya. Lantas orang tua mempertanyakan tanggung jawab sekolah dalam menerapkan pendidikan akhlak anak?

Ketika kusampaikan bahwa ketetapan Dinas pasti dilatarbelakangi pertimbangan yang komprehensif, respon yang muncul salah satunya (dan ada pendukungnya) adalah, 'Sekarang di mana-mana sudah ramai. Pasar buka, mal buka, masjid buka. Anak saya sudah main keluar karena kalau dikurung di dalam rumah jadi stres. Saya sama sekali tidak keberatan kalau mau belajar di sekolah lagi. Yang penting pakai masker, jaga jarak.'

I don't know. Jika keadaan seperti ini, semua orang menganggap tidak apa-apa beraktivitas seperti biasa yang penting pakai masker dan cuci tangan, jangan-jangan pandemik akan butuh waktu makin lama untuk berakhir. Karena pada kenyataannya, masker-masker berubah fungsi menjadi kalung. Orang masih berkerumun tanpa jarak. Lihat saja foto-foto yang bertebaran di media sosial. Meet up di kafe ga pakai masker. Untel-untelan sehabis senam. Berkerumun sehabis bersepeda dalam rombongan. Biasa aja katanya. 

Mau tidak mau, akhirnya kita yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Tidak lagi hanya menjaga diri dari paparan virus, tapi juga dari orang-orang yang tidak peduli bahwa mereka mungkin menebar virus. Menghindari kerumunan. Mengetatkan masker, sesedikit mungkin menyentuh barang yang bukan milik kita, sering-sering cuci tangan, dan menjaga jarak dengan orang lain. Terutama yang tampak abai dengan protokol kewaspadaan.

Anak juga, akhirnya harus diajari kebiasaan baru. Bagaimana dia harus berperilaku di luar rumah. Aik sudah sejak beberapa waktu lalu aku ijinkan main keluar. Dengan catatan harus pakai masker. Tidak dekat-dekat dengan teman. Tidak pegang mainan teman. Tidak masuk rumah orang. 

Aku ajak ke supermarket, dengan melihat-lihat keadaan. Jika parkiran terlihat sepi, baru berani masuk. Di sini lebih ketat. Untung di supermarket banyak tulisan  'jaga jarak', jadi dia setiap saat 'diingatkan'. Yang  harus kita ingatkan lagi terus menerus adalah 'jangan sentuh apa pun.'

Ada pengalaman lucu suatu hari. Dia melihat ibu-ibu yang antri menimbang dan tidak jaga jarak. Aik dengan tanpa beban berseru, 'Jaga jarak satu meter!" Si ibu langsung mundur pelan. Di lain waktu, dia sampai tantrum karena mengingatkan seorang anak usia 3 tahunan yang menyentuh handrailing pembatas di kasir. "Don't touch anything! No! Jangan sentuh apa pun! Dilarang!" Si anak yang tentu saja belum begitu paham, justru makin kencang pegangan railing. Aik makin keras. Si anak jadi takut dan menangis. Aku sibuk menenangkan Aik dan minta maaf. Ortu si anak langsung menggendongnya menjauh. Huft.



Hey, kalian sudah nyoba ke mal di  masa pandemik ini? Aku mencoba datang ke tiga mal dan semuanya sepi. Jumlah pengunjungnya kurang dari setengah biasanya sebelum pandemik. Mungkin sepertiga. Seperti di tempat umum lain, selain cek temperatur tubuh, disediakan hand sanitizer di pintu masuk. Jangankan jaga jarak 1,5 meter, 10 meter juga bisa. Jadi aku memberanikan diri mengajak Aik. Sambil sebisa mungkin mengalihkan perhatiannya dari tempat bermain, karena aku belum berani membiarkan dia bermain di sana. Aik tidak terlalu suka hand sanitizer. Tapi dia suka cuci tangan. Aku suka pada tempat berbelanja yang menyediakan tempat cuci tangan dan sabun daripada sekedar sanitizer di pintu masuk. Aik tidak pakai disuruh, otomatis cuci tangan sendiri.


Dulu, kalau mau cuci tangan kita harus ke wastafel yang jadi satu dengan toilet. Sedangkan sekarang, sebisa mungkin kita tidak masuk ke toilet umum.

Ada perkembangan baru. Aik sekarang tidak takut hand dryer. Dia bahkan tanpa disuruh, langsung mengeringkan tangan di situ seusai cuci tangan. One more step ahead.

Sunday, October 14, 2012

Hospital Love Story


Boleh dibilang keluarga kami akrab dengan rumah sakit, rawat inap, dan operasi. Semua anggota keluarga pernah dirawat inap. Semua anggota keluarga yang perempuan, pernah mengalami operasi. Bapak, bahkan sudah berkali-kali. Kami tidak pernah menganggap hal ini sebagai musibah. Ujian, cobaan, mungkin. Bapak dan Ibu selalu mengajarkan untuk kuat dan tetap rasional.

Tapi, tak peduli seberapa akrab kami dengan rumah sakit dan operasi, tetap saja ini bukan hal menyenangkan. Apalagi saat ini, Bapak yang harus dirawat (lagi). Seminggu yang lalu Bapak dirawat karena serangan jantung ringan. Dua hari di rumah, kini Bapak dirawat lagi karena sakit di kandung kemih dan prostatnya.

Melihat Bapak lemah itu benar-benar bikin patah hati. Segala sesuatu diladeni. Bahkan untuk duduk pun harus dibantu. Kemarin-kemarin Bapak masih bisa melucu. Kali ini benar-benar diam. Bicara hanya jika minta sesuatu.

Aku sering tidak tahan untuk tidak menangis. Tapi aku tidak ingin Bapak, atau Ibu, atau siapa pun, melihat. Jadi aku sering minggir sebentar. Atau menyibukkan diri dengan hal-hal tidak jelas di hand phone. Mungkin dikira aku ini apatis, tidak peduli. Atau brangkali mereka tahu kenapa, sebenarnya, aku bersikap begitu.

Paling berat adalah ketika memandikan Bapak. Bukan. Bukan memandikannya yang berat. Tapi menahan air mata supaya tidak jatuh di depan Bapak. Ketika selesai memandikan, aku bilang, 'sekarang saya mau gantian mandi.' So, I went to the bath room. Took a bath. And cried.

Sekarang Bapak sedang di ruang operasi. Ibu, adik dan kerabat menunggui di depan ruang operasi. Ngobrol. Tidur. Nonton tivi. I can't do either one. Jadi aku minggir ke sisi lain gedung yang agak sepi, menuliskan ini. Membiarkan satu dua orang yang lewat melirik perempuan 30an yang duduk sendirian, mengetik di gadgetnya sambil dleweran...

Sehat Bapak. Sehat. PLEASE!!

Sunday, July 1, 2012

potong rambut dan panjang umur

entah kenapa, orang yang datang ketika kita baru saja membicarakannya, dikatakan panjang umur. yah, paling tidak sampai saat itu dia masih hidup. begitu mungkin ya?

kemarin aku dan Dan mengantar anak-anak untuk liburan di rumah Mbah Buyutnya. tertunda seminggu karena acara sunat menyunat minggu lalu. iya, jadi Ar Ir harus istirahat dulu menunggu luka bekas sunatnya sembuh. soalnya kalau liburan di rumah Embah itu dijamin anak-anak ga bakalan bisa diam. ga kebayang kalau mereka keliling desa naik sepeda kebo, masih dalam keadaan pakai sarung sehabis sunat...

setelah nge-drop anak-anak di Mbah Buyut, aku menyempatkan mampir ke Ibu. dan begitu turun dari mobil, Bapak keluar sambil berseru... 'Alhamdulillah, panjang umur... Ibumu pengen dipotong rambutnya...'

cless... seketika itu pengen nangis karena terharu. Ibu pengen potong rambut, tapi ga mau dipotong oleh Bapak, padahal dulu Bapak tukang cukur. ga mau dipotong di salon. ga mau dipotong oleh adik-adikku (atau istri-istri mereka). maunya dipotong olehku. 

jadi setelah salim-salim dan meletakkan oleh-oleh, aku potong rambut ibu yang sudah hampir sepinggang itu, menjadi sebahu, dengan cara yang pernah diajarkan oleh Bapak. ga sampai lima menit, karena sebelumnya Ibu sudah menyisir rambutnya sampai licin. padahal aku ga bilang kalau mau datang, dan Ibu juga ga tahu kalau aku mau datang. it felt sooooo great!

hm... mungkin terdengar lebay menganggap hal seperti ini istimewa. tapi setiap orang punya cerita di balik cerita.

***
pengen sih, gantian minta dipotong oleh Ibu. tapi sepertinya itu sulit diwujudkan... :D

Sunday, April 8, 2012

The Need


I knew it was too late when I realized that his development was delayed. But I'm glad I've consulted with the doctor and gave him the physiotherapy he needed. When he finally made his first steps on the age of 19 months, I don't want to think it was a miracle. It was his hard work.
Aku tahu, aku terlambat menyadari bahwa tumbuh kembangnya terlambat. Tapi aku senang aku sudah berkonsultasi ke doktor, dan membawanya ke klinik fisioterapi tumbuh kembang. Ketika akhirnya dia bisa berjalan di umur 19 bulan, aku tidak mau menganggapnya bukan mujizat. Itu hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan terapi.

Now that he's still not speaking, I know I have to do more, speech therapy.
Sekarang, karena dia belum bisa bicara, aku tahu masih ada yang harus dilakukan: terapi wicara.

***
Few weeks ago I heard a neighbor whispered to another one, saying that Dek Aik is an autism child. A whisper that was loud enough for any one around to hear. A whisper that was meant to be heard as a whisper. She said Dek Aik doesn't do eye contact and other bla bla bla. It didn't hurt me at all, really. I just didn't understand why this person had to speak behind me, and did not talk straight to me. Especially when I my self never felt so. Dek Aik looks at my eyes. He listens to me when I talk. If my baby was an autism, I would take and face it, then I would know what I should do. And it is better to find and act earlier.
Beberapa waktu yang lalu aku mendengar seorang tetangga berbisik kepada tetangga yang lain, mengatakan bahwa Dek Aik adalah anak autis. Bisikan yang lumayan keras. Bisikan yang sengaja ingin didengar oleh orang lain di sekitarnya. Katanya, Dek Aik tidak melakukan kontak mata, dan bla bla bla. Sumpah, aku sama sekali ngga sakit hati. Aku heran aja, kenapa dia harus ngomong di belakangku, dan bukan langsung bicara padaku saja. Apalagi aku tidak merasa mendapati apa yang dia katakan. Dek Aik masih melihat mataku, dan mendengar aku bicara. Kalau memang bayiku autis, ya aku akan terima keadaan itu. Jadi aku tahu harus bagaimana. Dan lebih baik menemukan dan bertindak lebih dini.

It wasn't that I was not aware. I mean, after the delayed development we found, I have looked closer to many possibilities. I followed carefully every time @justsilly tweets about autism. She has autism children and a lot to share about it. I also asked the physiotherapist about the possibility if Dek Aik was one. She works with many autism children too and I believe she knows better than I do.
Aku bukannya ngga peduli. Sejak keterlambatan tumbuh kembang yang terdeteksi ketika Dek Aik berumur 9 bulan itu, aku memperhatikan kemungkinan lain. Aku selalu mengikuti dengan seksama setiap kali @justsilly nge-twit soal autism. Dia punya anak autis, dan dengan demikian, banyak juga pengalaman yang bisa dibagi. Aku juga bertanya kepada fisioterapistnya tentang kemungkinan bahwa Dek Aik adalah anak autis. Bagaimana pun dia juga banyak bekerja dengan anak-anak autis, dan aku yakin dia tahu cukup banyak tentang ini. 

As long as my observation according to Silly's tweets, as just a mother with minimal knowledge about autism, I didn't find any signs Silly mentions. And so did the Physiotherapist. She said it was just a delayed speaking. And what I need to find was why, and do the right thing about it.
Sejauh yang kuperhatikan sebagai ibu awam, dicocok-cocokkan dengan twitnya Silly, aku tidak menemukan tanda-tanda anak autism yang disebutkan. Begitu juga fisioterapistnya Dek Aik. Katanya, Dek Aik memang terlambat bicara. Yang perlu diketahui adalah penyebabnya, sehingga bisa diberikan tindakan yang tepat.

In another time I talked to a friend who works with children with special needs, Prima. I told her what my neighbor  said about Dek Aik. She looked at Dek Aik and convinced me it wasn't autism. Then she suggested me to come to a clinic for children with special needs she once worked at.
Pada waktu yang lain aku berbincang dengan seorang teman yang banyak membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Menurut pengamatannya, Dek Aik bukan autis. Lalu dia menyarankan aku untuk datang ke klinik untuk anak berkebutuhan khusus, tempat dulu dia pernah bekerja.

So I went to the clinic and let the therapist see Dek Aik.  And listen to what she said. My baby pays good attention. He has good eye contact. The delayed speaking was the following of the delayed motoric development. We are on the line to start the therapy next month. Mean while, it is a good idea to bring Dek Aik to a pre school, just to make him interact to more children of his age.
Aku membawa Dek Aik ke klinik itu. Ini kata terapistnya: Dek Aik mau memperhatikan, kontak matanya bagus. Keterlambatan bicaranya adalah lanjutan dari keterlambatan motoriknya. Terapi untuk Dek Aik dijadwalkan dimulai bulan depan. Sambil menunggu, akan bagus jika Dek Aik dimasukkan ke preschool, agar dia bisa lebih banyak berinteraksi dengan anak seusianya.

***

Well, may be Dek Aik didn't pay attention and didn't look to that neighbor of mine's eyes because he thought she doesn't deserve his attention and eye contact. And I don't need to listen to whatever she said, any more.
Well, mungkin Dek Aik tidak mau memperhatikan dan kontak mata dengan tetanggaku itu, karena merasa ngga perlu. Dan kurasa aku juga tidak perlu mendengarkan apa pun yang dikatakan orang itu lagi.

I always want to know what my baby needs, and try to give the best I can, though my best may not be good enough...
Aku selalu ingin tahu apa yang dibutuhkan bayiku, memberi yang terbaik yang aku bisa, meskipun mungkin belum cukup baik...

Wednesday, August 31, 2011

The 'Everything'

If you asked me, who the one I love most in the world is, the answer would be 'Bapak'. My father.

He is my hero. My guidance. My teacher. He shows me directions. He is the one who taught me painting. He 's the best story teller. He's my inspiration. The answer to any questions. He's everything that flows in my blood.

It's breaking my heart watching him grow old losing his abilities one by one. Slowly losing sight, hearing, strength. It's cutting my throat hearing him saying, "I just hope that death comes to me before I become totally blind"

I know the time will come though still don't know when. And I hope we still have much time. Coz I'm not ready; and it's killing me; thinking about losing him...

So I'll just pray for his health. And hope he will not totally lose his sight...

I love you, Bapak.


Tuesday, May 24, 2011

The Fun


I used to think, it is a crime to make children join many courses. Swimming, piano, English lessons. I thought it is children’s right to enjoy their life playing and have fun.

So I promised my self that when I had children, I would not push them too hard or make them do activities that might grab their cheerfulness. But then I found that it is their own desire to join many activities other than school. Ibit enjoys the piano lessons. Together with her brothers Ar and Ir, have fun during the swimming lessons. And now she’s joining Ar and Ir having another fun learning Tae Kwon Do. They choose the activities and we just stand behind them.

I thought it was so mean when parents bring their children to fight and win competitions. Coz it always takes time to prepare them selves before the competitions. It takes energy during the competitions. And it is always exhausting. But then I see that for some children joining a competition is fun, a part of their happiness in live. Ar and Ir may be not, but Ibit is one of them. She some times sighed about how tired she was practicing before a singing competition. But it’s all paid up when she wins. Yes I can see it from the big grin that always shows up in the end. Or even if she doesn’t win, she enjoys performing in front of the audience.

So as I understand this, I try to give what my children need, and want, and enjoy. They can take any course they like. They can go to any competition they want. Just as long as it is a positive, and they enjoy it.

Wednesday, August 25, 2010

baby and daddy


I always hope there is a strong tie between fathers and sons. as strong as the ties I have built between me and my children, years before I go back to working world. it is sad to find that we spend most of our time working then being with our family. but however, I keep trying to optimize the family time we have.

Dan works six days a week, from 08.00 am to whenever he needs to go home. no, it doesn't mean he can go home any time he wants. it means he can only go home when the work is done, and it can be anytime, late, over the working hours.

I, and my children, some times protest his in-existence. spending more time out there than being with family. he goes out every morning, at the same time my children go to school. he come home at night, often when my children are all already go to bed.

I have made some conditions to make Dan 'have to' interact with the children. for example, I used to give some money to my children every Monday. now I make Dan do it. some times he forgot and just goes to work like that. so my children ask me for the money. and I said, "that's Bapak's part. you ask him."

but with baby Ai', I can not do that. baby Ai' still don't know any thing about money :D

I still want my baby to interact with Dan. so some times I pushed Dan to sit down and put Ai' on his arms. not because I have to do something else, or because I'm tired carrying him. I just want him to be with his father.

well I hope it'll work. and as the baby grows up, I need to find more ways for us to keep connected each other...

Sunday, December 27, 2009

PETALS (I hate you but I miss you)

sebuah catatan dari menghabiskan long weekend bersama 25-26 desember 2009. tidak ada yang lebih 'nikmat' dari kemesraan bersama keluarga...
a note from a family reunion, 25-26 december 2009. nothing more 'delicious' than being with our family...

=================

I've often wondered if there's ever been a perfect family / I've always longed for undividedness and sought stability
…...
And I miss you little sis and Little brother / And I hope you realize I'll always love you
And although you're struggling you will recover / And I miss you little sis and little brother
......
But I miss you dandelion
And even love you


=================

Maunya jajal nyanyi sendiri, tapi cari chordnya setengah mati ngga ketemu, dan kalau berkeras nyari sendiri mungkin ga akan ketemu sampai mati. Jadi mendingan dengar langsung dari penyanyi aslinya… PETALS
I wanted to sing it by myself, but i was dying trying to find the chords. I might already be dead if I kept trying. So please enjoy the song from the very own singer.. PETALS



=================

Aku tidak akan malu mengakui bahwa kita lima bersaudara bukan anak-anak yang tidak pernah bertengkar. Tidak pernah terkontaminasi cemburu satu sama lain. Harmonis seratus persen tanpa masalah. Tapi aku yakin bukan berarti kita tidak saling mencinta dan mengasihi.
I will not be ashamed to confess that we are not siblings without fights. Nor never been contaminated with jealousy. I wouldn't say we are in a 100% harmony. But that doesn;t mean we do not love each other.

Hubungan persaudaraan terasa berbeda, ketika kita masih anak dan remaja, dengan kini ketika kita sudah punya anak dan remaja. Beberapa hal dulu terasa penting untuk diperdebatkan, dan kini terasa menggelikan. Kadang keberadaan saudara terasa menganggu tapi ternyata tanpa mereka ada yang hilang.
Relationships between siblings feels different, how it was when we were children and now as we have children. Long ago some things seemed so important to fight over, now we laugh at. Long ago some times we thought the existence of siblings some times bothering. Now without them we feel some thing's missing.

Berkumpul menjadi saat-saat yang dirindukan. Lalu ketika saat itu tiba, tidak perduli perbedaan pandangan yang seringkali membuat kita tidak rukun. Tidak peduli dengan anggapanmu bahwa aku keliru mendidik anakku. Tidak peduli bahwa kau tidak bisa menerima kegilaan tingkah lakuku. Tidak peduli bahwa kau kadang begitu kaku. Tidak peduli bahwa kau sering egois dan selalu menganggap dirimu sendiri yang benar. Tidak peduli bahwa kau tidak setuju dengan pola pikirku.
Being together become a moment we miss. Then when the time come, we wouldn't give a damn to any differences those made us missunderstand. I don't care if you think I don't educate my children right. I don't care if you can't understand my craziness. I don't care if you some times so stiff. I don't care if you always think you are always right. I don't care if you don't agree with my opinions.

Waktu kita cuma dua hari dan kita tidak akan menodainya dengan hal-hal tidak menyenangkan. Jadi aku akan ikut makan di restoran yang kau pilih, meskipun aku tidak suka menunya. Aku akan ikut pergi ke tempat yang kau pilih meskipun medannya menyiksa. Aku akan biarkan anak-anakmu membuat kekacauan di mobilku, meskipun setelah ini aku harus kerja setengah mati membersihkannya. Aku akan kubur egoku – hanya dua hari ini saja.
We only have couple days and we will not stain it with things not fun. So I will eat with you though I don't like the menus in the restaurant you chose. I will go to the place you want to go though it will kill me. I will let your children do mess up my car, though after this I will have to work hard cleaning it. I will bury my ego -- for these couple days.

Mari tertawa melihat tingkah anak kita yang polos.
Let us laugh to see our children.

Ibit and Shib (Train Museum - Ambarawa)


Iqbal and Inas walking on the net across the valley (Umbul Sidomukti)


Kuh and the crackers (in front of my house)


Mong, Muy, Ar, Ir, Nauf on the bamboo bridge (Umbul Sidomukti)

Mari tertawa melihat tingkah kita yang wagu.
Let us laugh to see us behaving silly.

a race on the net (Umbul Sidomukti)


let me go!


come dance with us (Train Museum - Ambarawa)


a Reog? (Gedong Songo Temple)


Mari gemas melihat yang masih belum terkontaminasi juga.
Let us be curious about those pure ones.

Lin is still uncontaminated (Train Museum - Ambarawa)

Dan biarkan waktu yang sebentar ini menjadi berharga, juga untuk Bapak Ibu kita yang telah berpuluh tahun berkorban untuk kita. Melihat bahwa jerih payah mereka tidak sia-sia.
And let this moment be precious, also for our parents who have spent years scarifying for us. Let them see they didn't do it for nothing.

the riders (Gedongsongo temple)


23 of us ( in my house)


for this weeks sundayscribblings prompt: delicious

Sunday, April 26, 2009

I follow behind my kids


that's Dan. and Ar, and Ir, and Ibit. I, followed them behind and took this picture, while riding my bike.
itu Dan. dan Ar. dan Ir. dan Ibit. aku, mengikuti mereka dari belakang dan mengambil gambar ini, sambil mengayuh sepedaku.

this is one of our favorite family activities beside swimming, riding bike to places near by. we could go at least 5km away, and back.
ini adalah salah satu aktivitas bersama favorit kami selain berenang, bersepeda yang deket-deket aja. kami bisa pergi sejauh 5 km, dan pulang

and this is how we usually do it. Dan will lead the way, the kids follow him behind, and I follow them, very behind.
dan begini biasanya kami melakukannya. Dan di depan, diikuti anak-anak, dan aku mengikuti mereka, paling belakang.

and I believe that's also how we should live our life. I believe that a man as a husband, and a father, should be the leader in a family. and the kids follow him. it doesn't matter if along the way my kids find their own way, as long as it is right and good for everyone, I will let them go that way. I will just follow them behind, or walk beside them, to make sure they won't take the wrong path.
dan begitu jugalah menurutku, bagaimana seharusnya kami menjalani hidup. aku percaya bahwa laki-laki sebagai suami dan ayah, harus menjadi pemimpin bagi keluarganya. anak-anak mengikutinya. tidak masalah jika di tengah jalan mereka menemukan jalan sendiri. selama itu benar dan baik untuk semua, aku akan biarkan mereka ambil jalan itu. aku hanya akan mengikuti dari belakang, atau berjalan di samping mereka, untuk memastikan bhawa mereka tidak akan mengambil jalur yang salah.

*****

for this weeks sundayscribblings prompt, follow

Wednesday, April 9, 2008

I love my parents

they never celebrate their wedding day
they don't even care about the date, I guess.
but they've been together since 1968

mereka ngga pernah merayakan ulang tahun perkawinan
mungkin malah ngga peduli tanggal berapa mereka menikah
tapi mereka telah bersama sejak 1968





my father is a bright one. he's always been so patient. he used to be a painter until something wrong with his eyes. but he sold all his paintings for life. the only painting I remember the last time I saw was in his parents house, tittled 'jaka tarub', but I don't know where it is now. it's so sad nothing left.

bapakku sangat cerdas. dia seorang penyabar. dulu dia pelukis, sampai ada sesuatu terjadi dengan matanya. tapi semua lukisannya dijual untuk hidup. satu-satunya lukisan yang sku ingat, aku lihat terakhir tergantung di rumah orang tua bapak, judulnya 'jaka tarub', tapi sekarang juga entah di mana. sedih, tak ada satu pun yang tertinggal

he took me hunting, fishing, play tennis. he taught me drawing and painting. and I believe from him I got my brain.

dia mengajakku berburu, memancing, main tennis. dia yang mengajariku menggambar dan melukis. dan aku percaya, darinya aku dapat otakku




my mother was so beatiful, and still is. she's not as patient as father but she' always cared about us, her children, I knew. she used to be a singer, a dancer, and a gym atlet. so I know where I got those abilities from.

ibuku dulu cantik banget, dan sekarang juga masih. tidak sepenyabar bapak, tapi dia selalu menyayangi kami anak-anaknya, aku tahu itu. dia dulu penari, penyanyi, dan atlet senam. jadi aku tahu pasti dari mana aku dapat semua kebisaanku sekarang.

she is a strong woman, a very strong one. that made me, at least not become a weak girl

ibuku wanita yang sangat kuat. ini membuatku, paling tidak, bukan menjadi wanita yang lemah.



2 has become 21

2 sudah menjadi 21

I miss them

aku rindu bapak ibu..