Pagi ini Dan bercerita tentang rencana kegiatannya hari ini, di antaranya mau ketemu seorang rekanan bernama W. Entah kenapa aku justru langsung teringat pada seorang bernama yang sama, di perusahaan tempat Dn pertama kali bekerja di bidang yang sekarang.
Waktu itu Dn masih staf bawahan paling bawah. Kami diundang syukuran ke rumah Pak W, Sales Head. Kami datang mengajak Ibit yang baru berusia 2 bulan. Rumahnya di komplek mewah, besar, dan terasa kemewahan di setiap sudut ruangan. Mewah bagiku saat itu, dan sampai sekarang juga masih kuanggap mewah.

Waktu itu Dn masih staf bawahan paling bawah. Kami diundang syukuran ke rumah Pak W, Sales Head. Kami datang mengajak Ibit yang baru berusia 2 bulan. Rumahnya di komplek mewah, besar, dan terasa kemewahan di setiap sudut ruangan. Mewah bagiku saat itu, dan sampai sekarang juga masih kuanggap mewah.
Waktu itu Pak W, sales head. Bisa ya, hidupnya mewah begitu. Sampai sekarang kenapa kita ga bisa seperti itu? Kita yang ga bisa, atau memang ga mau?
Mungkin memang karena ga mau. Memang tidak ingin. Rasanya lebih nyaman mementingkan fungsi dan bukan gengsi. Menjalani kemewahan seperti memegang perabot kristal yang mudah pecah. Belinya mahal, jaganya rawan. Setidaknya itu yang kupikirkan.
Di kehidupan akhir-akhir ini, yang makin hari makin tidak karuan, makin jauh berpikir soal kemewahan. Semua orang sedang berjuang untuk bertahan. Banyak yang sudah tumbang.
Pekerja swasta dipecati. Pengusaha swasta bangkrut. Bahkan di banyak tempat, Pegawai Negeri resmi kehilangan sumber penghasilan resmi.
Bisanya makin mengencangkan ikat pinggang.